BB Rp 40 Juta dari Delapan Kades

Bupati Lira Dikenakan Pasal Berlapis

76
CENGENGESAN: Polres Bondowoso merilis hasil ungkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) kasus pemerasan oleh Bupati LIRA Bondowoso Ahroji kemarin.

BONDOWOSO RADAR JEMBER.ID – Polres Bondowoso akhirnya merilis hasil operasi tangkap tangan (OTT) dengan tersangka Ahroji Bin Sumyati Saimo, Bupati LSM LIRA Bondowoso, kemarin (26/11). Menurut keterangan polisi, tersangka dikenakan pasal berlapis. Yakni pasal 368 dan 378 KUHP. Tersangka terbukti melakukan penipuan dan pemerasan.

Kapolres Bondowoso AKBP Febriansyah mengatakan, dalam operasinya tersangka awal kali menakut-nakuti kepala desa dengan temuan negatif dalam pembangunan. Kebetulan ada kepala desa melaporkan rencana aksi pemerasan itu pada kepolisian. “Pelapor dengan rasa ketakutannya atas ancaman dari tersangka, membawa sejumlah uang untuk diberikan pada tersangka,” jelas Febri.

Pemerasan itu atas dasar pelapor selalu menyalahi aturan pada pekerjaannya, yakni kepala desa. Modus yang dipakai tersangka dengan memantau aliran-aliran dana desa dan mengecek sekaligus meminta uang preman. Tersangka mengatasnamakan kejaksaan dan kepolisian untuk menakut-nakuti kepala desa. Karena itu, dikenakan pasar berlapis.

Kasatreskrim AKP Kamdo Ade Waroka menambahkan, total ada delapan kepala desa yang menjadi incaran pemerasan dan penipuan itu. Padahal, temuan yang dibawa tersangka kepala desa itu juga belum diketahui kebenarannya. Awal kali per kepala desa dimintai Rp 10 juta. Namun, selanjutnya deal Rp 5 juta per kades. “Akhirnya, saat pelapor menyerahkan uang di RM Laris di Klabang itulah tersangka kami ringkus,” jelasnya.

OTT itu dipimpin Polres Bondowoso yang merupakan koordinator Sapu Bersih Pungutan Liar (Pungli). Ikut dalam OTT itu Kasi Intel Kejaksaan Budiyanto, Kepala Inspektorat Wahjudi Triadmaji, dan Sekretaris Inspektorat Agus Suripno. Pada OTT Jumat lalu itu (23/11), tim Saber Pungli menemukan barang bukti uang Rp 40 juta, Mobil Grand Livina Nopol B 1346 BFB dengan tulisan LIRA, ID Card LIRA, ponsel, dan KTP.

Pihak kepolisian berharap, kepala desa atau pejabat lainnya berkoordinasi ketika ada aksi pemerasan. Sebab, modus operandi pemerasan sangat banyak. Ketika melapor, tentunya kepolisian menyembunyikan identitas pelapor demi keamanan. (*)

Reporter : Solikhul Huda

Fotografer : Solikhul Huda

Editor : Rangga Mahardhika