Nekat Keluar dari Bank, Pelopor Kafe di Kawasan IAIN

Kancaku, Kafe yang Gabungkan Perpustakaan dan Toko Buku

Butuh kreativitas agar usaha kafe bisa bertahan di tengah persaingan usaha yang begitu ketat di Jember. Kancaku, sebuah kafe di kawasan IAIN Jember mencoba menembus persaingan dengan sentuhan konsep unik. Menggabungkan perpusataan dan toko buku.

KOLABORASI PASUTRI: M Rizqi  Abadi (kiri) dan Nabilah Sholihah (kanan) di kafe Kancaku di kawasan kampus IAIN Jember.

RADAR JEMBER.ID – Pertumbuhan kafe selama ini banyak terkonsentrasi di kawasan sekitar kampus Universitas Jember (Unej). Namun dalam beberapa tahun terakhir, trennya juga menyebar, termasuk di kawasan sekitar kampus IAIN Jember. Kancaku kafe, termasuk yang mengawali tren tersebut di kawasan kampus IAIN Jember.

“Waktu itu memang di sini belum ada kafe. Di sini waktu itu masih warung nasi dan warung kopi saja yang banyak,” tutur Nabilah Sholihah, pemilik Kancaku. Kancaku sendiri merupakan akronim dari kafe, Taman Baca dan Toko Buku. Sesuai namanya, kafe ini memiliki konsep yang unik, yakni menggabungkan kafe, taman baca dan toko buku.

Nabila mendirikan dan menjalankan kafe ini berduet bersama dengan sang suami, Muhammad Rizqi Abadi. “Kita mulai mendirikan kafe ini pada akhir tahun 2015. Sebelumnya, ini hanya kos-kosan saja,” tutur Rizqi. Sebelum memutuskan untuk berwirausaha dengan membuka kafe, pasangan suami istri (pasutri) ini merupakan pegawai. Rizqi  bekerja di salah satu bank swasta, sedangkan Nabila atau yang akrab disapa Bela bekerja sebagai seorang guru.

Keputusan untuk keluar dari pekerjaan masing-masing salah satunya didasari oleh keinginan untuk memiliki momongan. “Kami ingin punya momongan, jadi ikut program dan mengurangi kesibukan. Meskipun setelah mendirikan usaha, ternyata juga tidak kalah sibuknya,” tutur Rizqi  sembari tersenyum.

Seperti kebanyakan karyawan yang keluar dari pekerjaan untuk berwirausaha, keputusan yang diambil pasutri ini ibarat lompatan untuk keluar dari zona nyaman. Namun dengan ketekunan dan tekad bulat, keputusan untuk beralih menjadi wirausaha itu kemudian berbuah manis. “Kalau kos-kosan sebelumnya, kita paling penghasilan sekitar Rp 600 ribu dari 6 kamar. Kalau sekarang, itu bisa jadi penghasilan kotor dari dua hari,” tutur Bela.

Tentu saja, selayaknya bisnis pada umumnya, usaha Kancaku kafe ini juga mengalami pasang surut. “Biasanya tantangannya kita sepi kalau pas libur kuliah. Karena market kita memang di kalangan mahasiswa yang kuliah di sekitar sini,” jelas alumnus Fakultas Tarbiyah IAIN Jember dan FKIP UIJ ini.

Ide awal untuk mendirikan tempat usaha yang menggabungkan konsep kafe, taman baca dan toko buku, terinspirasi dari sosok sang ayah Bela, (almarhum) Saifuddin Mujtaba. Semasa hidupnya, Saifuddin yang merupakan dosen senior dan mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Jember (saat itu masih bernama IAIN Jember), sangat menggemari dunia literasi.

Tidak hanya mengoleksi banyak buku, sang ayah juga cukup aktif menulis puluhan judul buku bertemakan ke-Islaman, sesuai disiplin ilmunya. Selain menjadi dosen dan penulis buku, Saifuddin juga memiliki usaha toko buku.

“Semula kita ingin melanjutkan usaha toko buku milik Abi (ayah, Red). Tetapi setelah kita diskusi dengan Umi (ibu, Red) dan kakak, katanya toko buku itu paling cuma ramai 3 bulan sekali,” tutur Bela.

Lantas tercetuslah ide untuk mendirikan tempat usaha dengan menggabungkan tiga konsep tersebut: Kafe, taman baca dan toko buku. “Kebetulan di rumah ada banyak novel,” lanjut Bela.

Ikhtiar pasutri ini terbilang nekat. Pasalnya, mereka berdua sama-sama tidak memilki latar belakang di bidang usaha penyajian makanan atau food and baverage. “Saya lalu kursus roasting dan seputar usaha kopi di Puslit Koka. Juga sambil belajar ke beberapa barista dan pegiat kopi di Jember. Intinya banyak bergaul di komunitas kopi,” jelas Rizqi

Tak hanya belajar, pasangan ini juga rutin mengunjungi beberapa kafe terkemuka untuk mencari inspirasi. Setelah melalui proses selama sekitar 2 bulan, pada akhir 2015, berdirilah Kancaku kafe. Semula, mereka hanya menangani kafe ini berdua saja. “Jalan satu bulan, karena makin ramai, kita akhirnya rekrut beberapa karyawan,” kata alumnus IAIN Jember ini.

Saat awal berdiri, Kancaku banyak mengandalkan strategi pemasaran melalui media sosial. Setiap ada menu baru, mereka unggah ke media sosial. “Tetapi karena makin ramai, kita jadi tidak terlalu sempat ngurusi medsos. Sepertinya memang lebih efektif promosi dari mulut ke mulut,” imbuh Bela.

Komunitas memang menjadi salah satu strategi dari Kancaku, untuk berdiskusi maupun bersosialisasi. Selain itu, kafe ini juga banyak dikunjungi oleh mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Di awal berdirinya, banyak pengunjung Kancaku yang menikmati sajian sembari membaca buku-buku yang disediakan.

“Tetapi, makin lama, minat membaca mulai berkurang. Tapi kami tetap mempertahankan konsep ini,” jelas Bella. Alasannya, karena selain menjual suasana dan makanan-minuman, Kancaku juga menjual buku yang kebanyakan novel. Kancaku memiliki kerjasama dengan beberapa penerbit buku sehingga bisa menjual buku-buku berkualitas dengan harga terjangkau, sesuai kantong mahasiswa.

“Selain itu, kita juga ada kerjasama dengan penerbitan buku di kampus IAIN Jember. Kita dapat kepercayaan untuk memasarkan buku yang mereka terbitkan,” pungkas Bella. (*)

Reporter : Adi Faizin

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Narto