Pentingnya Pendekatan Saintifik dalam Kegiatan Pembelajaran 

Oleh: Imam Bukhori Muslim, MPd.*)

12

Diberlakukannya kembali Kurikulum 2013 merupakan angin segar bagi dunia pendidikan di Kabupaten Jember. Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013 pasal 4 menyebutkan bahwa satuan pendidikan dasar dan menengah dapat melaksanakan Kurikulum tahun 2006 paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020. Sebagai upaya mempercepat kebijakan implementasi Kurikulum 2013 tersebut, penerapan Kurikulum 2013 telah dilaksanakan secara bertahap mulai tahun pelajaran 2014/2015 sampai 2018/2019.

Untuk itu, banyak pelatihan-pelatihan diselenggarakan baik oleh pihak sekolah, MKKS, MGMP maupun dari Dinas Pendidikan. Ini dikarenakan pada K-13 pembelajaran harus menggunakan pendekatan saintifik. Selain itu juga menggunakan kecakapan abad 21 yaitu kemampuan berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah (critical thinking and problem solving skills), keterampilan bekerjasama (collaboration skills), kemampuan berkreativitas (creativity skills) dan kemampuan berkomunikasi (communication skills). Pada umumnya pendekatan saintifik melibatkan kegiatan observasi yang digunakan untuk proses perumusan hipotesis dan pengumpulan data. Selain itu, pendekatan saintifik dilandasi dengan pemaparan data yang dihasilkan dari kegiatan observasi dan percobaan.

Dalam setiap langkah pendekatan saintifik diharapkan mampu menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek kecakapan hidup. Penggunaan pendekatan saintifik mempunyai beberapa keunggulan, yaitu pertama siswa diberi kesempatan yang luas dalam kegiatan penemuan. Pada pendekatan saintifik perlu didesain untuk membelajarkan proses penelitian yang dapat mempengaruhi cara siswa memproses informasi dan komitmen terhadap penemuan ilmiah. Siswa melihat proses sains sebagai sarana yang dapat mereka gunakan agar menjadi lebih ingin tahu tentang segala sesuatu, memandang guru sebagai fasilitator, lebih banyak bertanya untuk mengembangkan kegiatan, terampil dalam mengajukan sebab dan akibat dari hasil pengamatan, dan penuh dengan ide-ide murni. Melalui proses dikembangkan sikap dan nilai yang meliputi rasa ingin tahu, jujur, sabar, terbuka, tidak percaya tahayul, kritis, tekun, ulet, cermat, disiplin, peduli terhadap lingkungan, memperhatikan keselamatan kerja, dan bekerjasama dengan orang lain. Dengan proses seperti ini, diharapkan siswa bisa menjadi ilmuwan kelak dikemudian hari.

Kedua adanya bimbingan dari guru dalam proses penemuan siswa. Dengan pendekatan saintifik memungkinkan guru mengontrol kegiatan ilmiah siswa, tanpa mengurangi esensi kemandirian siswa. Selain itu, guru juga sebagai fasilatator dan mengarahkan apabila kegiatan siswa menyimpang dari kegiatan yang direncanakan pada perangkat pembelajaran serta menghindari adanya kecelakaan kerja selama kegiatan ilmiah.

Ketiga, sudah terbukti meningkatkan hasil belajar siswa. Beberapa penelitian sudah membuktikan efektivitas penerapan pendekatan saintifik. Hal ini dikarenakan pendekatan saintifik mempunyai prinsip-prinsip berorientasi pada pengembangan intelektual, mengutamakan interakasi, membudayakan kegiatan bertanya, belajar untuk berpikir, serta keterbukaan dalam menyampaikan gagasan dan hipotesis.

Penelitian yang dilakukan oleh Umiati (2015) menghasilkan kesimpulan bahwa penerapan pendekatan saintifik mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran PAI Kelas VII-D SMP 04 Kota Malang. Selain itu penelitian dari Alamsyah (2016) menyimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik mampu meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA.

Dari paparan opini tersebut ada beberapa masukan bagi semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan, yaitu pertama perlu mengoptimalkan penilaian berbasis proses sains, karena selama ini yang menjadi tolak ukur kemajuan pendidikan di suatu sekolah, kabupaten, provinsi maupun nasional adalah nilai Ujian Nasional (UN) saja yang belum tentu nilai UN tersebut sesuai dengan kompetensi siswa karena ada indikasi berbagai kecurangan. Kedua, perlu adanya budaya perencanaan yang matang sebelum pembelajaran. Karena perencanaan merupakan kunci sukses dalam semua kegiatan termasuk pembelajaran. Ketiga, menggalakkan secara optimal model pembelajaran dengan scientific approach yang meliputi inquiry based learning, problem based learning, dan project based learning, karena semua model itu sudah teruji dan terbukti oleh penelitian-penelitian pendidikan baik nasional maupun internasional.

Perubahan kurikulum sudah jamak terjadi dari tahun ke tahun. Ini disebabkan adanya tuntutan penyesuaian iklim pendidikan terhadap perubahan zaman. Apapun yang dilakukan pemerintah, pastinya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Semoga.

*) Penulis adalah Dosen Pendidikan Biologi FKIP Universitas Islam Jember

Reporter :

Fotografer :

Editor :