Tidak Dapat SP, Akhir Pekan Jadi Tukang Ojek

Pasutri GTT yang Nekat Mengajar di SD Terpencil

Menjadi guru di sekolah terpencil tidaklah mudah. Apalagi, statusnya masih guru tidak tetap (GTT). Butuh komitmen yang kuat untuk tetap bertahan. Inilah yang dilakukan pasangan suami istri Mohammad Toyib dan Leni Anila yang mengajar SD Negeri Andongrejo 4 Ambulu

28
TETAP SEMANGAT: Meski bayaran minim, pasangan suami istri Mohammad Toyib dan Leni Anila tetap rajin mengajar SD Negeri Andongrejo 4 Ambulu.

RADAR JEMBER.ID – Mohamad Toyib, terlihat tergesa-gesa memilah berkas. Dibantu Leni Anila, istrinya, GTT yang telah mengabdi selama 14 tahun ini tengah menyiapkan sejumlah persyaratan administrasi agar bisa mendapatkan surat penugasan (SP). Kala itu, ayah dua anak tersebut tampak gugup. Rupanya, tak semua berkas dibawanya. Ada beberapa yang tertinggal di rumah.

Beberapa waktu lalu, pasangan pendidik ini mengikuti Kongres GTT yang diselenggarakan Pemkab Jember di Aula PB Soedirman. Keduanya hadir bersama 250 GTT lainnya yang diundang khusus oleh bupati. Mereka adalah guru sukwan yang tak mendapatkan SP karena terkendala syarat administratif. Di antaranya lantaran tak memiliki ijazah sarjana seperti Mohamad Toyib.

Di tengah kebingungannya itu, pria bertubuh gelap ini mengacungkan tangan. Dia meminta waktu ke panitia untuk menyampaikan sesuatu. Ternyata, apa yang disampaikannya mengagetkan banyak orang. Bukan dia merengek meminta SP agar bisa menerima honor dari dana BOS. Toyib justru meminta agar bupati melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lembaganya.

Sebab, Toyib menyampaikan, dari 12 tenaga guru yang tercatat di sekolah itu, hanya tiga orang yang setiap hari mengajar. Sisanya? Entah ke mana. Toyib menyebut, mereka kerap membolos dan meninggalkan kewajibannya sebagai seorang guru. “Mohon kiranya bupati atau dinas pendidikan melakukan sidak. Biar tahu seperti apa kondisi di sekolah kami,” ucapnya.

Kala berbicara, nada suaranya bergetar. Seperti dampak rasa grogi dan takut. Sebab, saat itu dia melaporkan kondisi internal di SD Andongrejo 4, lembaga tempatnya mengajar. Konsekuensinya, dia bisa dimusuhi. Bahkan dipecat oleh kepala sekolah, yang disebutnya jarang datang ke sekolah. Termasuk guru agama berstatus PNS, serta tujuh GTT lain yang mendapat SP. Dia berharap, setelah pemangku kebijakan melihat secara langsung, ada perbaikan di sekolah tersebut.

Ucapan Toyib mendapat reaksi. Plt Kepala Dinas Pendidikan Ahmad Ghazali segera menghampiri. Entah apa yang disampaikan. Bersama seorang staf perempuan, Ghazali terlihat menanyakan sesuatu. Dia bersama staf perempuan itu tampak mencatat apa yang diucapkan Toyib. “Kalaupun dipecat karena menyampaikan hal ini, saya siap,” ucapnya setelah Kongres GTT berlangsung.

Bagi Toyib, menjadi guru di kawasan terpencil tidaklah mudah. Butuh perjuangan dan komitmen yang kuat. Apalagi, akses jalan menuju lokasi sekolah hanya jalan setapak yang tak setiap kendaraan bisa digunakan. Hanya sepeda motor saja yang bisa dipakai. Itu pun di saat musim kemarau saja. Di musim hujan, jalan setapak sejauh enam kilometer dari perkampungan terdekat ini hanya bisa diakses dengan jalan kaki.

Sehingga, wajar jika guru yang komitmennya setengah-setengah jarang datang mengajar. Jarak dan lokasi kerap menjadi alasan. Sebenarnya Toyib memahami alasan itu. Sebab, rumah guru yang lain memang berada di perkampungan di kasawan desa, yang jaraknya cukup jauh. Untuk bisa sampai di lokasi, guru yang berasal dari luar kawasan hutan ini harus melewati jalan pegunungan belasan kilometer untuk mencapai perkampungan terdekat. Setelah itu, masih melalui jalan setapak enam kilometer lagi agar bisa mencapai lokasi.

Hanya saja, Toyib mengeluhkan. Dia berharap semua guru tetap datang ke sekolah. Sebab, hal itu berdampak terhadap proses belajar mengajar di sekolah. Dari enam kelas yang ada, Toyib mengungkapkan, hanya tiga guru saja yang setiap hari mengajar. Masing-masing memegang dua kelas, serta merangkap semua mata pelajaran. Termasuk pelajaran agama dan olahraga. “Jadi, setiap hari tinggal kami bertiga, saya, istri saya, dan Bu Holifah,” ujarnya.

Tiga guru yang bersatus GTT tanpa SP inilah yang setiap hari mendidik siswa. Karena hanya tiga guru ini yang berasal dari perkampungan setempat. Di kawasan Sumbersalah TNMB itu, mereka tinggal bersama warga perkebunan yang sekaligus menjadi wali dari 24 murid di sekolah setempat. “Jumlah muridnya memang sedikit, karena warga yang tinggal di kawasan kebun tersebut memang sedikit,” jelasnya.

Toyib mengaku telah 14 tahun mengabdi, sementara istrinya justru lebih lama. Sekitar 22 tahun mengajar di SD terpencil itu. Lalu, Holifah juga sudah menjadi guru lebih dari 14 tahun. Sayangnya, karena faktor administrasi, ketiganya tidak mendapat SP, sehingga tak bisa menerima honor dari dana BOS. Mereka hanya menerima penghasilan dari anggaran yang diberikan oleh perusahaan perkebunan. “Untuk mencukupi kebutuhan, saya sambil kerja sampingan. Biasanya di akhir pekan atau hari libur, saya ngojek. Hasilnya lumayan,” ucapnya. (*)

Reporter : Mahrus Sholih

Fotografer : Mahrus Sholih

Editor : Narto