IPM Naik, Peringkat Melorot

17
JADI PRIORITAS: Ir Nugorho Dwi Atmoko ketika memberi penjelasan terkait upaya Lumajang untuk mendongkrak IPM 2019.

LUMAJANG RADAR JEMBER.ID – Misi mendongkrak pembangunan di Lumajang tidak hanya menaikkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Tetapi, juga harus mengejar ketertinggalan peringkat dari daerah lain. Termasuk mengejar nilai rata-rata IPM Provinsi Jawa Timur.

Kondisi ini mau tidak mau harus dilewati. Sebab, selain menjadi fakta, Gubernur Jawa Timur memberikan atensi khusus pada Lumajang dalam pelantikan Bupati dan Wabup Lumajang 24 September lalu, di Grahadi. IPM Lumajang harus dinaikkan.

Ir Nugroho Dwi Atmoko, Kepala Bappeda Lumajang menguraikan bahwa IPM Lumajang sebenarnya naik. Namun tidak signifikan, dari 63 menjadi 64. Meski demikian, peringkatnya melorot dari urutan ke-35 menjadi urutan ke-36 dari total 38 kabupaten/kota di Jawa Timur. “Melorot urutan ke-36. Walaupun angka IPM-nya naik dari 63 menjadi 64,23, tapi rata-rata Jawa Timur 70 koma sekian,” katanya.

Karena itulah, stressing dari bupati 5 tahun ke depan yang dimulai 2019 adalah upaya meningkatkan  IPM. Sebab, jadi tolok ukur dari situasi kondisi masyarakat. Oleh karena itu, kata dia, pendidikan, kesehatan, dan daya beli yang memengaruhi IPM harus digenjot.

Daya beli dikaitkan juga dengan pertumbuhan ekonomi, PDRB, angka kemiskinan, dan pengangguran. Hal itu juga mulai dirancang dalam RAPBD.

Apa gebrakan untuk mendongkrak IPM 2019? Dimulai dari indeks pendidikan, yang diakui parameter pengukurannya dari rata-rata lama sekolah dan harapan lama sekolah. “Rata-rata lama sekolah kita itu masih 6 koma berapa gitu. Artinya, dalam rangka untuk meningkatkannya harus dilakukan dengan kejar paket A,B,C bagi masyarakat yang usianya di atas 25 tahun, dan tidak mungkin lagi mengikuti pendidikan formal. Itu harus,” katanya.

Kedua, harus menekan angka putus sekolah di jenjang mana pun. “Itu untuk mengawasi rata-rata lama sekolah. Kemudian, untuk mengatasi harapan lama sekolah, maka akses-akses pendidikan harus dipermudah, seperti SPP gratis, seragam gratis, ada transportasi gratis, dan sebagainya, untuk memudahkan. Terutama masyarakat yang tidak mampu,” jelasnya.

Dengan begitu, lanjut Nugroho, arahnya akan mengurangi pengeluaran. “Dan ini sangat relevan dengan daya beli itu tadi. Itu salah satu langkah sudah dilakukan,” jelasnya.

Di indeks kesehatan juga sama. Variabelnya di usia harapan hidup. “Maka, upaya kita jangan sampai masyarakat Lumajang itu ada yang meninggal di usia dini, masih bayi, ataupun kematian ibu dan bayi,” ungkapnya.

Akses kesehatan juga perlu dipermudah. “Makanya, program persalinan gratis itu supaya bayi yang dilahirkan itu betul-betul sehat dan terjamin. Serta mendapatkan pelayanan kesehatan yang sesuai. Tidak ke dukun, tidak ke mana-mana selain lewat medis. Juga supaya bayinya nanti bisa tumbuh dengan baik dan usianya bertumbuh dengan baik,” pungkasnya. (*)

Reporter : Hafid Asnan

Fotografer : Hafid Asnan

Editor : MS Rasyid