Rata-Rata Banyak yang Stres, Temuan Hewan Dilindungi oleh BKSDA Wilayah III Jember

16
KURANG SEHAT: Burung kakaktua jambul kuning yang pernah diamankan BKSDA Wilayah III Jember ini jadi salah satu bukti bahwa satwa itu seperti ‘tersakiti’.

RADAR JEMBER.ID –  Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional yang jatuh 6 November kemarin jadi bukti bahwa keaneragaman tumbuhan dan hewan adalah bagian penting dari kehidupan dan harus dicintai. Sayangnya, dari beberapa pengamanan hewan dilindungi oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Wilayah III Jember, rata-rata hewan tersebut ‘tersakiti’.

Kepala Bidang BKSDA Wilayah III Jember Setyo Utomo mengatakan, hasil temuan beberapa hewan yang dilindungi untuk diamankan tersebut kondisinya tidak sehat. “Rata-rata memang kondisinya tersakiti,” ujarnya.

Setyo menambahkan, ciri-ciri satwa dilindungi tersakiti tersebut adalah menyakiti dirinya sendiri. Jika hewan aves atau burung-burungan, terlihat bulunya rontok. Sementara untuk primata dan mamalia lebih kepada menunjukkan sikap tidak nyaman. Biasa juga menunjukkan sikap suka menggigit. Baik gigit ke tubuhnya sendiri atau benda.

Dia menjelaskan, satwa dengan kondisi seperti itu adalah kondisi tersakiti atau stres. Sebab, satwa tersebut tidak nyaman dengan kondisinya. “Biasanya hidup di alam liar. Bisa terbang bebas. Hidup di kandang ya stres. Sayapnya tidak bisa bergerak seperti biasanya,” katanya.

Kondisi paling tragis temuan hewan dilindungi yang dipelihara manusia adalah burung kakaktua jambul kuning. “Ceritanya, ada mahasiswa yang menyerahkan kakaktua itu ke BKSDA. Tapi kondisinya memprihatinkan,” ungkapnya.

Sementara itu, untuk satwa yang dilindungi di daerah Jember ini ada beberapa saja. Seperti banteng, merak, rusa, lutung, dan beberapa jenis elang. Untuk tumbuhan yang dilindungi relatif kecil. Hanya, raflesia. “Raflesia ada di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB), tapi beberapa waktu lalu pernah ditemukan di hutan lindung daerah Puger,” pungkasnya. (*)

Reporter : Dwi Siswanto

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Hadi Sumarsono