Kuatkan Unity in Diversity dengan Idealisme Pemuda

Oleh: Andzirin Nasa

7

Pemuda milenial saat ini pasti memiliki idealisme yang kuat. Ini menjadi modal penting sekaligus tantangan. Sebagai modal penting, idealisme menimbulkan independensi dan rasa percaya diri yang kuat pada diri pemuda.

Dalam pitutur bijak Arab disebutkan, “Laisal fata man yaqulu hadza abi, wa lakinnal fata man yaqulu ha ana dza. Seorang pemuda bukanlah orang yang mengatakan ‘ini ayah saya’. Tetapi, seorang pemuda (sejati) adalah yang mengatakan ‘inilah saya’.

Namun demikian, jika tidak disadari, idealisme mereka bisa menyebabkan masalah di kemudian hari. Selain idealisme mereka yang bersifat egosentris, juga disebabkan kebinekaan Indonesia dan pluralisme masyarakatnya. Inilah tantangan idealisme pemuda yang dimaksud.

Sudah menjadi sunnatullah dan sebuah kenyataan bahwa bangsa Indonesia memiliki beragam suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Tidak banyak negara yang menyamai Indonesia perihal keragaman masyarakatnya. Oleh karena itu, masyarakat Indonesia, utamanya para pemuda, dituntut untuk membiasakan tenggang rasa, mengembangkan toleransi, dan mengakui perbedaan, sesuai semangat Sumpah Pemuda dan Binneka Tunggal Ika (unity in diversity) yang mengarah kepada keutuhan bangsa dan persatuan serta kesatuan bangsa.   

Namun, fenomena kekinian memperlihatkan bahwa semangat persatuan dan kesatuan para pemuda itu mulai tergerus. Toleransi mereka mulai terkikis. Mulai bermunculan kelompok-kelompok pemuda dengan pola pergaulan yang eksklusif. Sebut saja geng motor misalnya. Dan karenanya, sikap diskriminatif kerap timbul. Dari sinilah mulai terpicu bibit-bibit perselisihan, pertentangan antarkelompok, hingga pada akhirnya mengarah kepada disintregasi bangsa.

Oleh karena itu, mesti dicari solusi untuk mengatasi persoalan tersebut. Di antaranya dengan Genta Aksara, festival kesenian antardaerah, dan revitalisasi peran Bahasa Indonesia.   

Menggagas Komunitas Generasi Duta Asah Kesatuan Suku, Agama, Ras, dan Adat Istiadat (Genta Aksara)

Gerakan pemuda di komunitas ini bertujuan untuk menghasilkan beberapa orang sebagai pelopor persatuan antar pemuda dari berbagai macam kebudayaan. Forum Group Discussion (FGD) di komunitas ini menyangkut seputar keragaman masyarakat, antisipasi, serta solusi jika terjadi pertentangan antarmereka.

Selain FGD, mereka juga menyuguhkan aksi dan permainan yang bertujuan untuk memupuk solidaritas tinggi, serta sikap saling peduli dan toleransi antaranggota komunitas. Dalam aksi dan permainan tersebut, mereka dituntut untuk menomorduakan keegoan pribadi serta memprioritaskan urusan bersama demi mewujudkan satu tujuan penting yakni mempersatukan keberagaman budaya yang melekat di dalam jiwa setiap pemuda itu.

Setelah proses FGD dan aksi-permainan dalam grup berakhir, dipilihlah duta sebagai perwakilan dari masing-masing kontingen. Selanjutnya, masing-masing duta tersebut membentuk keanggotaan GENTA AKSARA di komunitas terdekatnya (lingkungan sekitarnya dan sekolah). Setelah terbentuk komunitas GENTA AKSARA baru, para duta itu  diharuskan untuk merancang program kerja dan disosialisasikan kepada warga komunitasnya. Program kerja yang telah dirancang diharapkan dapat memupuk sikap menjunjung pluralisme dan tidak lagi menjunjung tinggi sikap idealisme mereka masing-masing secara berlebihan.

Festival dan Lomba Kesenian Antardaerah

Solusi kedua adalah mengadakan festival dan lomba kesenian antar daerah yang diinisiasi oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenag. Festival dan lomba itu harus diikuti oleh para pemuda yang bisa berupa tarian khas dari masing-masing daerah. Dimulai dari teritorial terendah hingga tertinggi. Pemenang tingkat desa mengikuti festival dan lomba yang sama di tingkat kabupaten. Demikian seterusnya hingga tingkat nasional.

Harapannya, selain untuk syiar keanekaragaman di Indonesia, festival dan lomba tersebut dapat menumbuhkan sikap kecintaan serta kepedulian para pemuda pada keberagaman budaya Indonesia.

Revitalisasi Peran Bahasa Indonesia

Solusi ketiga yang dapat ditawarkan untuk mengatasi disintegrasi di kalangan generasi bangsa adalah revitalisasi pesan Bahasa Indonesia sebagai pemersatu bangsa. Kita tahu bahwa Bahasa Indonesia dipilih pemuda-pemuda dari seluruh wilayah Nusantara sebagai bahasa persatuan melalui Sumpah Pemuda di tahun 1928.

Tantangan terberat yang dihadapi pemuda saat ini adalah gempuran globalisasi budaya dunia, termasuk bahasa. Imbasnya, disadari atau tidak, Bahasa Indonesia mulai ditinggalkan. Padahal Bahasa Indonesia yang bisa menyatukan berbagai SARA di Indonesia dikagumi dan diupayakan diterapkan oleh negara lain.

Seperti yang dikatakan oleh guru MAN Bondowoso Moh. Mahrus Hasan—saat ia dan kawan-kawan menyelenggarakan joint seminar internasional di Universiti Putra Malaysia (UPM) pada 25 April 2018—bahwa dosen Fakulti Pengajian Pendidikan Prof. Madya Asmawati Sahid mengatakan, “Kami kagum kepada Indonesia yang dengan Bahasa Indonesia bisa mempersatukan seluruh perbedaan bangsa, agama, dan budaya di Indonesia. Sudah sepatutnya kami belajar kepada Indonesia untuk hal ihwal ini,” katanya. Oleh karena itu, internalisasi peran Bahasa Indonesia mutlak harus terus digelorakan secara formal, informal, maupun nonformal oleh pemerintah bersama masyarakat. Sehingga, pada akhirnya pemuda Indonesia merasa bangga berbahasa Indonesia.

Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa sebagai pemuda Indonesia sudah sepatutnya kita merasa bangga dengan kemajemukan Indonesia dengan tetap memegang idealisme yang baik dan benar. Idealisme untuk berperan sebagai pelopor persatuan pemuda melalui GENTA AKSARA, melestarikan kesenian daerah, dan membiasakan menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Dengan demikian, harapan dan cita-cita the founding fathers bangsa ini untuk tetap unity in diversity semakin terjaga dan lestari. Semoga***

Penulis adalah anggota ekstrakurikuler literasi “Sabha Pena” MAN Bondowoso.

Reporter :

Fotografer :

Editor :