Istighosah Meredam Amarah, Solawat Menjumput Berkat

Oleh: M. Yaufi Nur Mutiullah

10

Dalam hidup berbangsa, sebuah institusi atau lembaga kenegaraan yang membawahi rakyat pastilah memiliki masalah dan problem tersendiri dalam kesehariannya. Datangnya sebuah masalah adalah suatu yang lumrah dalam negara manapun. Amerika Serikat yang didaku sebagai negara adidaya sekalipun pasti menjumpai sebuah masalah. Entah problem yang dihadapi berbeda dari masing-masing negara mulai dari kondisi stabilitas ekonomi, pendidikan, sosial, konflik golongan, terorisme, kemiskinan, bencana alam, dan lain sebagainya. Hal ini merupakan siklus kehidupan dengan segala rintangannya yang tidak bisa dihindari.

Pun demikian dengan Indonesia, dari masa kemerdekaan masih diperjuangkan sampai kemerdekaan sudah dirasakan saat ini, masalah dan problem bangsa pasti akan selalu ada. Selain karena faktor alam yang sudah berlaku seperti bencana gempa atau tsunami yang kemarin terjadi, tidak bisa dipungkiri campur tangan manusia juga menjadi sebab munculnya masalah tersebut. Korupsi misalnya yang menjadi poros utama sebab timpangnya kondisi sosial, ekonomi pada masyarakat karena dana yang seharusnya diberikan tapi malah dimakan sendiri. Sedih mengakuinya tapi tidak bisa disembunyikan bahwa Indonesia masih berada di posisi teratas dalam catatan dunia untuk kasus korupsi ini. Begitu pula kasus kriminal, yang terbaru penculikan anak, pembunuhan, dan kasus-kasus lainnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya juga untuk segera diselesaikan adalah masalah upaya mengadu domba dari sebagian kalangan untuk memicu permusuhan antar sesama rakyat Indonesia. Lewat beberapa isu yang diangkat khususnya yang saat ini gencar dimunculkan adalah isu keagaaman, organisasi masyarakat, dan pastinya isu politik. Ditambah lagi sekarang adalah masa milenial dimana segala berita baik yang benar maupun yang salah bisa diakses dan dilahap begitu saja. Kesempatan semacam ini dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyebarkan berita. Bermula dari intoleransi tumbuh menjadi radikalisasi akhirnya menghukumi sendiri akibatnya akan mencederai demokrasi sebagai asas negeri. Yang terbaru misalnya masalah pembakaran bendera yang bertuliskan kalimat suci milik agama islam oleh salah satu organisasi masyarakat. Tanpa harus diperpanjang dan cukup menyerahkan sepenuhnya pada proses penegakan hukum, masalah ini sebenarnya bisa diselesaikan dengan damai. Namun emosi dan amarah lebih dahulu memuncak akhirnya sempat terjadi sedikit gejolak. Tentu kasus serupa sangat berbahaya untuk keutuhan bangsa kedepannya.

Semua ini adalah masalah bangsa yang harus diselesaikan bersama tanpa harus membebankan pada pemerintah atau tokoh saja, apalagi menghubungkan munculnya masalah bangsa tadi pada pemerintah atau perorangan akhirnya muncul anggapan bahwa musibah ini muncul karena kezaliman pemerintah dan azab Tuhan turun karenanya. Anggapan semacam ini tidak perlu dipelihara karena tidak akan menghasilkan sebuah solusi tapi malah mencederai persaudaraan karena terus memupuk rasa saling mencurigai satu sama lain. Ketika persaudaraan mulai pecah dan persatuan sudah terbelah, saat itu pula sebenarnya Indonesia mengalami musibah yang sangat berbahaya. Hal ini yang dikhawatirkan oleh pejuang bangsa yang telah bersusah payah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sebagaimana nasehat salah satu pahlawan bangsa yang juga pendiri salah satu ormas terbesar Indonesia KH. Hasyim Asy’ari yaitu “sesungguhnya perpecahan, pertikaian, saling menghina, dan fanatik madzhab adalah musibah yang nyata dan kerugian yang besar”. Lantas bagaimana langkah solutif  bangsa mengatasi masalah demikian?

Solusi Sakti Warisan para Wali

Setiap bangsa dengan latar belakang dan kisah yang berbeda pastinya memiliki ciri khas tersendiri dalam tindak tanduknya. Indonesia sebagai wilayah nusantara dengan berbagai kisah inspiratif mulai masa kerajaan yang berjaya Majapahit, pra kemerdekaan awal munculnya islam masa wali sembilan walisongo dan masa perjuangan kemerdekaan, memiliki senjata khas dalam mengawal keutuhan bangsa. Dikisahkan bahwa sebelum berangkat berperang melawan sekutu kala itu, Bung Tomo terlebih dahulu sowan bertamu pada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta nasehat dan petuah. Alhasil Bung Tomo mendapat oleh-oleh dari Kiai Hasyim Asy’ari berupa bacaan dzikir takbir. Akhirnya Bung Tomo dengan semangat yang menggelora dan suaranya yang menggelegar mengakhiri orasi dan pidatonya dalam membangkitkan semangat para pejuang dengan mengucapkan takbir begitu lantang “Dan kita yakin saudara-saudara pada akhirnya pastilah kemenangan akan jatuh ke tangan kita, sebab Allah selalu berada di pihak yang benar, Allahu Akbar…Allahu Akbar…Allahu Akbar..”.

Dari sini penulis hanya ingin mengatakan bahwa begitu banyak kisah dan kejadian dimana solusi masalah yang melanda negara tidak hanya diselesaikan dengan kemampuan para aktivis bangsa, pemikir, politikus, akademisi, dan para penggerak lainnya. Bangsa Indonesia memiliki etika dan budaya yang sedikit berbeda dengan negara lain dimana bangsa dihidupkan dan dikendalikan lewat pertolongan doa para  pemuka agama. Dan inilah sebenarnya yang diwarisi Indonesia sejak dahulu kala dimana kekuatan doa dapat menyelesaikan apa yang nampaknya tidak bisa dihadapi dan apa yang kelihatanya sulit dapat diatasi dengan mudah.

Dari situ muncullah beberapa tradisi keagaaman warisan nusantara seperti tahlilan, istighasah, sholawatan, dan tradisi-tradisi lainnya. Dipercaya atau tidak acara demikian bukan hanya acara seremonial belaka, akan tetapi mengandung nilai kegamaan yang begitu dalam juga dapat mneyelesaikan masalah konflik dan perseteruan antar manusia, golongan, dan partai. Mereka yang berbeda pandangan politik, mereka yang awalnya konflik, ketika kumpul bersama membaca doa dan dzikir-dzikir dalam acara istoghosah, akan kembali bersalaman dan kembali berdamai. Begitu dahsyatnya dampak dan pengaruh tradisi ini yang jarang ditemukan di negara manapun bahkan bisa dikatakan hanya Indonesia yang memilikinya.

Selain itu yang tidak kalah saktinya juga, acara-acara atau tradisi semacam itu dihadiri oleh ribuan orang tanpa ada kepentingan kelompok atau golongan tertentu, tapi murni untuk berdoa dan meminta petunjuk Sang Maha Kuasa untuk nasib umat dan bangsa. Berbeda dengan kumpulan-kumpulan atau aksi yang hanya cenderung menciptakan euforia belaka. Acara istighosahan, sholawatan, dan tradisi nusantara demikianlah yang dapat menjemput rahmat dan pertolongan Tuhan untuk menyelesaikan semua masalah yang menimpa negara dan kedamaian kembali tercipta  Dihadiri pula oleh para pemuka agama selaku penggerak utama emosional dan spiritual bangsa, juga para aktivis negara kalangan pemerintah, semuanya berdoa memohon pada Sang Kuasa untuk kemajuan dan kemakmuran bersama. Kami kira acara yang demikian haruslah diperbanyak dan dimaksimalkan untuk kedepannya, bukan malah mencipta kegaduhan lewat aksi yang hanya mencipta keramaian saja.

Jika Bung Tomo mendapat wasiat dari Kiai Hasyim untuk membaca takbir, Dalam acara Istighosah Kubro di Jawa Timur beberapa hari lalu, para ulama mewasiatkan kita untuk memperbanyak bacaan sholawat asghil guna menjaga negara dari orang-orang zalim yang ingin memecah belah bangsa, mari kita teladani Bung Tomo, dan mari bersama-sama laksanakan wasiat bacaan sholawat itu. Sekian, semoga Indonesai Sejahtera.

 

*Penulis adalah mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Santri Pondok Pesantren Nurul Jadid.

Reporter :

Fotografer :

Editor :