Sudah Diperjuangkan dari Senayan

46
BERJUANG BERSAMA: Meski GTT, namun Ninit Kurniawati Rahman dan Ilham Wahyudi selalu memberikan yang terbaik untuk anak didik hingga meraih prestasi nasional.

RADARJEMBER.ID – Ratusan GTT yang mendatangi DPRD Jember kemarin (29/10) merasa putus asa untuk memperjuangkan nasibnya (baca : GTT Menangis Dicerai Istri). Utamanya untuk mengetuk pemerintah pusat agar sedapatnya mengangkat mereka menjadi PNS. Untuk meredam itu, Ayub Junaidi, Wakil Ketua DPRD Jember kemarin sampai harus menghubungi via telepon Wakil Ketua Komisi II DPR RI Nihayatul Wafiro agar memperjuangkan nasib guru.

Dalam live panggilan video kemarin, Ning Nihaya, panggilan akrabnya, langsung dihubungkan dengan Ketua PGRI Jember Supriyono. Dalam kesempatan itu, Supri menuturkan jika GTT merasa terabaikan dan tercampakkan. “Teman-teman kami minta untuk lebih bersabar,” ujar Nihayah melalui sambungan telepon yang ditaruh di pengeras suara.

Dia mengatakan, sebagai wakil masyarakat pihaknya siap untuk membawa aspirasi dari GTT di Jember kepada pemerintah. “Sejauh ini kami memang belum mendapatkan laporan resmi dari Kemenpan RB, karena pejabatnya ganti yang baru,” jelasnya. Pihaknya memang mendapatkan laporan tentang banyaknya masalah CPNS ini, termasuk Jember.

Oleh karena itu, Nihayah meminta data dari Jember mengenai jumlah honorer di lingkungannya. Data ini akan menjadi tambahan data dari Jember untuk didiskusikan dengan Kemenpan RB jika nantinya melakukan rapat. “Sebenarnya kami meminta Kemenpan RB di tahun 2018-2019 ini untuk fokus menuntaskan K2 yang sudah lama mengabdi di lembaga yang ada. Sebab, pengabdiannya tidak perlu ditanyakan lagi,” terangnya.

Supriyono, Ketua PGRI Jember juga menyampaikan unek-uneknya kepada Nihaya. “Guru GTT atau sukwan di sekolah mulai SD sampai SMA mimpi terakhirnya menjadi PNS,” jelasnya. Mereka tamat sekolah mengabdi kepada lembaga pendidikan dengan pengabdian dan kepasrahan tinggi. Namun, tahun ini malah dikebiri, bahkan mendaftar pun tidak bisa karena terbentur umur.

Padahal, selama ini pemerintah sering tidak ada rekrutmen guru karena adanya moratorium yang sangat lama. “Mereka menunggu selama itu. Tanpa mereka pendidikan akan kolaps. Tetapi saat ada CPNS, malah membatasi usia hanya sampai 35 tahun,” terangnya. Hal ini secara langsung membunuh mimpi para GTT yang selama ini bertahan dengan gaji sangat minim.

“Mereka menunggu gaji beberapa bulan tidak turun, padahal nilainya Rp 300 ribu per bulan,” jelasnya. Dari sisi kemanusiaan peradaban apa pun dianggapnya sudah tidak manusiawi. Dia mengatakan, pihak PGRI tidak keberatan dimutasi jauh, asalkan memang layak honornya sesuai dengan pengorbanan GTT.

“Apalagi ada yang jauh mondar-mandir setiap hari 100 km, mereka sudah mempertaruhkan segalanya tetapi tidak ada apresiasi atau penghargaan untuk mereka,” terangnya. Dia mengatakan jika dunia pendidikan ini sudah darurat dan menjadi keprihatinan bersama untuk diselesaikan. Oleh karena itu, pihaknya yakin DPR dan DPRD selaku wakil rakyat akan mampu mengatasi masalah dunia pendidikan, khususnya di Jember.

“Kita tetap semangat mendukung DPRD. Saya yakin pada akhirnya membuahkan hasil,” jelasnya. Sebab, GTT ini sudah seperti membentur tembok tebal karena kesulitan jika memang harus bekerja lainnya.

Reporter : Rangga Mahardhika

Fotografer : Dwi Siswanto

Editor : Narto