Banyak yang Berani Pelihara

32
Bagus Supriadi/Radar Jember
TERIMA SATWA LANGKA: BKSDA Wilayah III Jember menerima burung kakaktua jambul kuning melalui Polsek Arjasa dari warga kemarin

Radarjember.id – Penangkaran 443 burung langka yang dilakukan CV Bintang Terang di Dusun Gambiran, Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari bisa jadi hanya gunung es saja. Diperkirakan masih banyak warga Jember yang nekat memelihara satwa langka. Terutama burung langka secara illegal.

Namun, setelah 443 burung langka diamankan polisi, BKSDA Wilayah III Jember menerima satwa dilindungi dari warga Jember kemarin (9/10). Yakni burung kakaktua jambul kuning. “Bisa jadi, pemiliknya takut setelah ada penangkapan dari Polda Jatim,” kata kepala Bidang BKSDA Wilayah III Jember Setyo Utomo. Kemungkinan lainnya, warga baru tahu dari berita bila satwa itu dilindungi, sehingga diserahkan pada BKSDA.

Penyerahan burung itu, kata dia, diberikan pada Polsek Arjasa. Kemudian, polisi membawanya ke kantor BKSDA dan diserahkan. Sayangnya, pemilik burung tersebut tidak mau disebutkan datanya. Justru diserahkan kepada Kanit Reskrim Arjasa.

Sehingga, tak diketahui secara pasti dari mana asal-usul satwa tersebut. Awalnya, pemilik burung itu bertanya apakah kakaktua jambul kuning itu dilindungi atau tidak. “Yang punya itu temannya Kanit Reskrim Polsek Arjasa, lalu diserahkan kepadanya,” jelasnya.

Burung kakaktua jambul kuning itu tampak sedang stres di dalam sangkar. Bulunya rontok dan kurang indah. Salah satu penyebabnya karena kurangnya perhatian pada makanan yang diberikan.

Diakuinya, warga Jember yang memelihara burung dilindungi cukup banyak. Namun mereka tertutup dan sulit untuk dimasuki. “Mereka dapat dari berbagai tempat, seperti bekerja di kawasan timur, lalu setelah pulang membawa burung,” jelasnya.

Setyo menambahkan, edukasi warga tentang kesadaran tidak memelihara satwa dilindungi perlu terus digalakkan. Sebab, ada yang berasal dari jual beli, atau mendapatkan langsung dari hutan tanpa sengaja. “Ada juga yang belum mengetahui kalau termasuk satwa dilindungi,” tandasnya.

Sementara itu, aparat kepolisian ternyata agak kesulitan mengurai burung langka yang ditangkarkan oleh CV Bintang Terang di Dusun Gambiran, Desa Curahkalong, Kecamatan Bangsalsari. Kepolisian kesulitan memisahkan burung yang memang murni hasil penangkaran resmi dengan burung yang ilegal.

Hal ini disampaikan oleh Kapolres Jember AKBP Kusworo Wibowo, kemarin sore. Dia mengaku, Polres Jember dalam kasus ini hanya mendampingi untuk membantu pengamanan saja. Sedangkan untuk yang melakukan penanganan secara penuh, dilakukan oleh tim Direktorat Direskrimsus Polda Jatim.

“Jadi, hingga hari ini masih dilakukan pemeriksaan intensif terhadap tersangka LDA alias K di Surabaya,” jelas Kusworo. Hingga kini masih belum ada penambahan tersangka untuk kasus terhadap penangkaran burung langka yang sudah mati izinnya sejak tiga tahun lalu ini.

Bukan sekadar tersangka, pihaknya kini juga tengah kesulitan untuk mengurai banyaknya burung langka yang ada di penangkaran. Maksudnya, pihak kepolisian tengah mengurai mana saja burung yang memang hasil penangkaran legal dan mana yang merupakan hasil dari kejahatan pasar gelap.

“Jadi, petugas ini masih memisahkan mana yang burung hasil penangkaran dan burung ilegal,” jelas Kusworo. Pasalnya, saat ditemukan oleh petugas lusa lalu, kondisi manajemen administrasi burung ini bisa dikatakan tidak tertib. Pasalnya, tidak ada tanda di masing-masing burung, termasuk tidak adanya dokumen-dokumen.

Sehingga, burung-burung yang ada di lokasi tidak terperinci secara detail. “Banyak burung yang tidak secara detail disebutkan asal usulnya,” jelasnya. Termasuk jika misalnya burung hasil breeding di lokasi penangkaran, seharusnya ada tagging alias pemasangan cincin dan pemberian sertifikat.

Kalaupun memang didapat dari hasil pembelian dari luar, maka juga harus dengan surat-surat yang jelas. Karena burung yang ada di penangkaran ini semuanya adalah satwa langka yang dilindungi. Apalagi, pihak pemilik tidak bisa secara jelas menunjukkan apa yang dibutuhkan petugas.

Hal ini yang menguatkan dugaan pihak kepolisian bahwa ada yang salah dengan penangkaran satwa langka yang sudah ada sejak tahun 2005 silam tersebut. Hingga kemudian dilakukan penggerebekan dan penangkapan tersangka LDA alias K di kediamannya di Bangsalsari.

Sementara itu, terkait dengan banyaknya burung langka yang diamankan petugas, diakui Kusworo hingga kemarin masih dikumpulkan di lokasi. “Karena tidak mungkin dipindahkan sekaligus. Khawatir burungnya malah stres dan banyak yang mati nanti,” terangnya. Maka, pemindahannya dilakukan secara bertahap.

Bukan hanya itu, pihak Polda Jawa Timur sejauh ini masih terus melakukan koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Timur untuk perawatannya. “Iya memang cukup besar kalau lihat nilainya. Tapi kami masih belum tahu pendanaannya bagaimana,” jelas Kusworo. Namun, dia yakin pihak Polda Jatim dan Balai BKSDA pasti sudah tahu tentang teknis perawatan yang harus dilakukan terhadap satwa liar ini.

Reporter : Rangga Mahardhika, Bagus Supriadi
Editor : Narto