Sudah Ajukan Perpanjangan Izin

25

RadarJember.id – Yang dilakukan CV Bintang Terang melakukan penangkaran burung langka memang salah. Namun, ada fakta jika perusahaan ini sebenarnya sudah mengajukan proses izin. Namun, hingga kemarin masih belum diterbitkan oleh Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Jawa Timur (BKSDA Jatim). (Baca 443 Burung Langka dari Penangkaran Ilegal Diamankan)

Hal ini diungkapkan langsung oleh Kepala Balai Besar KSDA Jawa Timur Dr Nandang Prihadi yang hadir dalam rilis di TKP, di Bangsalsari kemarin siang. “Dia sudah mengajukan izin (perpanjangan, Red) penangkaran. Tapi belum kita proses. Administrasinya belum klir,” ungkap Nandang kepada wartawan kemarin.

Oleh karena itu, pihaknya pun masih membina untuk melengkapi administrasi dari CV Bintang Terang untuk perpanjangan penangkaran ini. Namun, jelas Nandang, seharusnya jika surat izin ini belum keluar, maka operasional penangkaran juga tidak boleh dilakukan. Tetapi yang dilakukan oleh CV Bintang Terang ini cukup nekat.

Diakui Nandang, berdasarkan data yang ada di pihaknya memang penangkaran ini sudah cukup lama yakni sejak 2004 silam. “Mereka memiliki izin operasional sekitar tahun 2004. Tapi kemudian tahun 2015 mati, dan untuk izin edarnya baru bulan September kemarin mati,” katanya.

Bahkan, pada 2010 lalu dilaporkan ada sekitar 640 burung langka dengan macamnya ada 11 jenis di perusahaan ini. Dengan mengantongi izin edar dalam negeri, dan izin edar luar negeri. Artinya bisa mengirim, menjual, ataupun memasukkan satwa dari dan ke luar negeri. “Izin penangkaran itu sifatnya komersil. Awalnya legal, tetapi kemudian izinnya mati,” terangnya.

Dijelaskan Nandang, sebagai penangkaran resmi dan memiliki izin edar, sudah menjadi kewajiban bagi CV Bintang Terang untuk melaporkan satwa yang ada. Termasuk yang mungkin mati, membeli dan menjual juga harusnya dilaporkan berkala kepada pihak balai konservasi. “Tapi dia memasukkan hewan yang tidak dilaporkan kepada kita. Ada tambahan hewan dengan asal usulnya dari mana juga tidak dilaporkan oleh yang bersangkutan,” jelasnya.

Hal inilah yang diakuinya menjadi bermasalah karena adanya satwa yang di luar sepengetahuan petugas. Adanya penyalahgunaan ini, Balai BKSDA melakukan pembinaan administrasi. “Termasuk laporan berapa yang mati, ataupun berapa jumlahnya juga tidak jelas, hal ini yang akan kita perhatikan,” jelasnya. Ini dilakukan untuk pembinaan administrasi, untuk pengajuan izin masih proses.

Terkait dengan pengungkapan kasus ini, Nandang mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Polda Jatim. “Sebagian dititipkan di lembaga konservasi 35 ekor, 10 ekor di Kantor BKSDA Sidoarjo,” jelasnya. Sedangkan sisanya tetap diamankan di lokasi pengungkapan dengan didampingi petugas BKSDA.

Pihaknya akan menugaskan secara bergilir petugas BKSDA memantau kondisi satwa dilindungi itu. Termasuk juga pengamanan dari pihak kepolisian. “Pemilik masih kooperatif, nanti bersama polda kita awasi,” jelasnya.

Sejumlah NGO juga sudah berkoordinasi dengan pihaknya untuk tindak lanjut perawatannya. Namun jika untuk dikembalikan ke habitat aslinya diakuinya sangat sulit dilakukan. “Masih cukup susah, karena hasil penangkaran. Butuh waktu lama untuk prosesnya,” terangnya.

Sementara itu, Imam Lutfi, kuasa hukum pemilik CV Bintang Terang menyampaikan pihaknya tidak terlalu banyak memberikan keterangan terkait kasus itu. “Untuk materi pemeriksaan terhadap tersangka sudah disampaikan kepada penyidik,” terang Imam.

Oleh karena itu, kuasa hukum yang berkantor di Sidoarjo ini meminta maaf jika tidak bisa memberikan penjelasan secara rinci untuk kasus yang dihadapi kliennya. “Klien saya akan mengikuti proses hukum yang berjalan,” pungkasnya.

Reporter : Rangga Mahardhika
Fotografer : Jumai
Editor : Narto