Operasi Plastik di Palu dan Bali

79

RadarJember.id – Diskusi publik bertemakan persoalan hukum dalam perspektif konstitusi dan politik, digelar oleh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Jember komisariat Justitia. Diskusi yang dimulai pukul 13.00 kemarin siang (8/10) di Gedung Ahmad Zainuri Universitas Muhammadiyah Jember mengundang tiga pembicara.

Salah satu pembicaranya adalah pengamat politik ternama Indonesia, yakni Rocky Gerung. Dan akademisi Ahmad Suryono, yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Jember, serta Havid Alfan, instruktur nasional labour working group.

Dalam diskusi tersebut Rocky Gerung yang juga peneliti di Perhimpunan Pendidikan Demokrasi, dan dosen di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia,  mengungkapkan banyak hal mengenai politik Indonesia terkini.

“Kekacauan politik terjadi karena kita akhirnya disusupi kecemasan berpolitik dengan akal sehat. Seperti bisa dilihat sekarang, politik kita masih sebatas mengenai Ratna Sarumpaet saja. Dua tiga hari ke depan bakal ada keadaan yang kontras di media massa,” tutur pria yang sering menjadi pembicara di salah satu program stasiun televisi ini.

Bahkan Rocky menyinggung mengenai keadaan di Palu kontras dengan keadaan di Bali. Di palu diparkir dua pesawat Hercules yang membawa bantuan makanan dan obat-obatan. Sedangkan di Bali, diparkir 30 pesawat pribadi dari berbagai negara dengan membawa makanan import mereka masing-masing, dalam acara Pertemuan Tahunan Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (World Bank – International Monetary Fund Annual Meeting) pada 8 – 12 Oktober.

“Mereka membawa makanan import dari negaranya, karena mereka takut diracun oleh orang Indonesia,” guraunya. Ini menjadi hal yang kontras, antara kelaparan yang terjadi di Palu dan berbanding terbalik di Bali yang memamerkan kemewahan.

Itu artinya pemimpin kita sedang operasi plastik di Denpasar, Bali. Tujuannya, agar tak kelihatan wajah aslinya di depan publik internasional, malu. “Kalau beretika sedikit seharusnya bisa bilang ingin berkonsentrasi di Palu, maka IMF ditunda dua bulan lagi,” jelas Rocky.

Namun, kata dia, justru disebutkan tidak mungkin ditunda. Karena IMF ini sudah diputuskan di zaman kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) lalu. “Memang SBY yang mengundang, tetapi kan ada force major di Palu yang namanya bencana. Apakah malu untuk menunda?” tutur pria kelahiran Manado ini.

Rocky bahkan menambahkan bahwa Pemerintah saat ini tidak punya ide dan jalan keluar, serta selalu menyalahkan pemerintah sebelumnya yang menjabat. “Kalau keadaan politik seperti sekarang berlanjut sampai lima bulan ke depan. Di mana orang ribut tanpa perspektif, maka saya bisa bayangkan pemilu berjalan baik. Tetapi dua minggu kemudian ada class di masyarakat mengenai hasil pemilu itu,” kata Rocky.

Sedangkan, Ahmad Suryono juga menjelaskan bahwa tak seharusnya pihak yang selalu mengkritisi keputusan pemerintah dianggap pro orang-orang tertentu. “Anti pemerintah dan terus mengkritisinya bukan berarti harus langsung di-judge dengan pro salah satu capres yang ada. Hal tersebut hanya untuk menjaga kedewasaan berfikir,” ujar Suryono.

Suryono menambahkan, ketika pemimpin menjanjikan banyak hal dan ternyata berbohong. Tidak ada konstitusi yang sampai menyentuh ke arah sana. Dia juga menyoroti mekanisme demokrasi dan cara mengadili pemimpin yang berbohong kepada masyarakat. Sebab konstitusi saat ini sudah menjadi semacam objek pertengkaran yang berkembang di masyarakat.

 

Reporter & Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Editor : Shodiq Syarif
Editor Bahasa : Imron Hidayatullah