Jember Army Festival: Ajang Edukasi Pemersatu Anak Bangsa

PENJAGA NKRI: Siswa dari bebagai sekolah gembira mendapat kesempatan keliling naik kendaraan TNI dalam ajang Jember Army festival `.

RADARJEMBER.ID – Kawasan kota Jember tampak lain dari biasanya. Banyak tentara dari berbagai divisi dan kesatuan hilir mudik dengan kendaraan militer. Tak pelak, aktivitas mereka ini menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat. Terlebih, pusat kegiatan tentara ini, pas di pusat jantung kota Alun-Alun Jember. Tepatnya depan kantor Pemerintah Kabupaten Jember. Rupanya, para tentara penjaga NKRI ini melakukan persiapan peringatan HUT TNI ke-73 yang dikemas agak berbeda melalui ajang ` Jember Army Festival`.

Jember Army Festival yang melibatkan sinergisitas banyak pihak ini, menjadi kali pertama yang digelar di tingkat kabupaten, bahkan Indonesia. Kolaborasi TNI, pemerintah kabupaten, dunia pendidikan, berbagai OPD (Organisasi Perangkat Daerah) dan kesatuan ini menjadi warna tersendiri dalam peringatan HUT TNI yang sarat pesan persatuan ini.

Pemberian nama `Jember Army Festival ini` memang tidak berlebihan. Bagaimana tidak, Jember bisa dibilang sebagai Kota Prajurit. Terdapat 12 kesatuan TNI dengan 3.500 personel berada di Jember. Ada TNI yang tergabung dalam Batalyon Infanteri Raider 509/Balawara Yudha yang merupakan Batalyon Infanteri berkualifikasi Raider yang sebelumnya bernama Batalyon Infanteri 509/Balawara Yudha.

Yonif 509/Raider ini berada di bawah komando Brigif 9/2/Daraka Yudha, Kostrad. Markas batalyon berkedudukan di Sukorejo, Kabupaten Jember. Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat Nomor Skep/1423/XII/ 1964 tanggal 9 Desember 1964, Batalyon Infanteri 509 menerima Tunggul Batalyon sebagai lambang kesatuan yang berslogan Balawara Yudha yang berarti Prajurit Pilihan yang gagah berani di medan pertempuran.
Simbol Kucing Hitam Condromowo merupakan lambang kebanggaan Satuan yang melukiskan bahwa Yonif 509 Kostrad memiliki keuletan dalam bertempur dan selalu berhasil dalam menundukan lawan/musuhnya.

Ada pula Batalyon Infanteri Raider 515/Ugra Tapa Yudha yang sebelumnya bernama Batalyon Infanteri 515/Ugra Tapa Yudha). Batalyon Infanteri ini berada di bawah komando Brigif 9/Dharaka Yudha, Divisi Infanteri 2/Kostrad. Sebelumnya, batalyon ini merupakan satuan organik Kodam VIII/Brawijaya, sebelum akhirnya berdasarkan surat perintah Pangdam VIII/Brawijaya Nomor: Sprin/416/III/1978 Batalyon Infanteri 515 diubah statusnya menjadi satuan Kostrad. Markas Batalyon saat ini berkedudukan di Tanggul, Jember, Jawa Timur

“Jember adalah kabupaten pahlawan, karena banyak pahlawan-pahlawan ditemukan di Kabupaten Jember. Banyak jiwa-jiwa kesatria dan jiwa-jiwa patriot lahir di Jember,” ujar Kolonel Inf Robby Suryadi, Komandan Brigif 9/Kostrad Jember.

Tidak heran pula berbagai rangkaian kegiatan Drama kolosal mengenang perjuangan pahlawan seperti Letkol Moch Sroedji yang gugur dalam medan pertempuran sempat mewarnai peringatan HUT ke 73 TNI di Alun-Alun Kabupaten Jember, Jumat (5/10/2018). Drama yang dimainkan para pelajar dari SMA Negeri Pakusari tersebut menggambarkan heroisme pasukan yang dipimpin Letkol Sroedji dalam mempertahankan wilayah Jember dari serbuan serdadu Belanda. Kisah kolosal ini, berlatar peperangan di wilayah Kedawung, Mumbulsari saat para pejuang mempertahankan kemerdekaan Indonesia di awal Februari 1949 lampau.

Peperangan bersejarah itu diawali adegan sepasang lelaki perempuan yang menaiki sepeda. Mereka berkeliling di antara perempuan-perempuan berkebaya merah dan jarit kuning keemasan. Semuanya terlihat suka cita. Perempuan-perempuan itu bernyanyi sembari menabur benih di ladang. Ini menggambarkan betapa gembiranya rakyat Jember kala itu, setelah Indonesia menyatakan diri merdeka, terbebas dari penjajahan. Lamat-lamat, suara Soekarno yang membacakan proklamasi terdengar. Suara ini menjadi latar kegembiraan rakyat.

Namun, keceriaan itu tak berlangsung lama. Segerombolan serdadu Belanda tiba-tiba datang. Mereka tak hanya membuyarkan kaum perempuan yang tengah menyemai di ladang, para penjajah ini juga memporak-porandakan harapan rakyat Indonesia.

Pasukan kolonial yang dipimpin seorang Belanda serta noni-noni itu, segera memerintahkan serdadu menangkapi, serta menyiksa rakyat. Dari sini, adegan kebengisan pasukan penjajah dimulai. Mereka memukul, menendang, bahkan menyeret dan menyekap para perempuan itu. Kemudian, para serdadu Belanda berpesta. Mereka mabuk minuman keras.

Diam-diam, pasukan pejuang yang dipimpin Letkol Moch Sroedji menyergap. Para pejuang ini menyelamatkan kaum perempuan yang ditawan serdadu Belanda. Aksi pejuang diketahui serdadu. Pertempuran sengit pun tak terelakkan. Tak pelak, letusan senapan dan dentuman bom, mulai menyalak.

MENDIDIK ANAK BANGSA: Inilah drama kolosal mengenang perjuangan Letkol Moch Sroedji di ajang Jember Army Festival saat peringatan HUT TNI ke-73 di Alun-Alun Jember Jumat (5/10/2018).

Dalam adegan ini, peperangan mahadahsyat tergambar sedemikian rupa. Hingga pasukan pejuang berhasil merangsek dan mengganti belasan bendera Belanda dengan merah putih. Korban dari kedua belak pihak berjatuhan. Ketika itu, para pejuang nyaris menggapai kemenangan.

Sejurus kemudian, saat Sroedji akan memekikkan kalimat pengobar perjuangan, dia dibidik serdadu. Tembakan prajurit Belanda itupun mengenai tubuh Sroedji. Pemimpin pejuang itu roboh. Tubuhnya berlumuran darah. Mengetahui pemimpin mereka tertembak. Pasukan pejuang berupaya menolong. Satu di antaranya adalah Letkol dr. Soebandi. Namun, serangan Belanda bukannya mereda, justru kian bertubi-tubi.

Pasukan pejuang tak kuasa menghadang serangan itu. Kematian membayang pada diri yang terlalu lemah melawan pucuk-pucuk senapan. Hardikan tak lagi garang, saat peluru bersarang di badan. Kedua pemimpin pejuang itu pun gugur. Tapi, pada moncong senapan serdadu penjajah, mereka menunaikan sikap, Merdeka atau Mati. Keduanya telah menunjukkan kepada rakyat, tak ada kata menyerah pada penjajah.

Kematian ini rupanya tak membuat Belanda puas. Adegan selanjutnya, serdadu menyeret jasad Sroedji dari Kedawung hingga Alun-alun. Tangisan dan ratapan menyertai penyiksaan jasad kusuma bangsa itu. Detik-detik penghabisan penuh ancaman ini menyisakan keberanian. Rakyat mulai melawan kembali.

MENDIDIK ANAK BANGSA: Inilah drama kolosal mengenang perjuangan Letkol Moch Sroedji di ajang Jember Army Festival saat peringatan HUT TNI ke-73 di Alun-Alun Jember Jumat (5/10/2018).

“Saat ada pejuang yang mati diseret menggunakan kendaraan, tidak terasa saya menangis,” ujar Puspa, warga yang sempat menyaksikan adegan atraksi. Perjuangan Sroedji dan rakyat Jember ini pun tak sia-sia. Setelah melalui perjuangan dan perundingan, 27 Desember 1949 silam, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Indonesia, baik secara defacto maupun dejure. Dan pertempuan di Kedawung Jember, menjadi satu pecahan dari puzle utuh perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah. Seperti daerah lain di belahan Nusantara, rakyat Jember juga sepakat, tak ada kompromi pada kolonial, karena merdeka adalah hak semua bangsa.

Drama kolosal ini ditutup dengan adegan seorang pejuang yang selamat dari peperangan itu. Dia mencabut bendera Belanda yang tersisa. Kemudian pejuang tersebut merobek warna biru, hingga tinggal merah putih. Selanjutnya, dia mengibar-kibarkan bendera itu, sebelum menancapkannya kembali ke tanah.

“Jember Army Festival ini merupakan ajang edukasi pemersatu anak bangsa. Sinergisitas dan persatuan sangat terlihat dalam peringatan HUT TNI ini. TNI memberikan edukasi tentang sejarah dan pendidikan kepada masyarakat. Inilah salah satu bentuk profesionalisme TNI untuk rakyat,” puji dr Hj Faida MMR, Bupati Jember.

Tidak salah memang, drama kolosal yang diangkat dari sejarah perjuangan ini hanya satu dari rangkaian peringatan HUT ke 73 TNI di Alun-alun Jember. Masih ada atraksi beladiri double stik yang dimainkan para prajurit TNI AD. Masih ada atraksi memecah genting menggunakan kepala, memecah balok beton memakai siku, serta aksi menangkap dan memakan ular yang sempat membuat terkesima masyarakat yang menyaksikan. Belum ditambah parade devile pasukan TNI dan pameran alat utama sistem senjata (alutsista) yang digunakan tentara sejak zaman pra kemerdekaan, kemerdekaan, hingga Indonesia modern.

Ajang `Jember Army Festival ini` benar-benar dimanfaatkan masyarakat, terutama para siswa dari berbagai sekolah untuk ajang edukasi bagi anak didiknya. Berbondong-bondong, para guru mengajak siswa-siswa melihat langsung berbagai peralatan alutsista yang terpajang. “Enak bisa melihat langsung berbagai senjata TNI dan peralatan lainnya. Ini banyak yang tanya-tanya dan foto teman-teman,” ujar Raditya, siswa SMPN 2 Jember.

Terlihat berbagai peralatan tempur memang telah dipajang dalam ruang pameran yang sudah disiapkan secara khusus. Berbagai jenis senjata militer dan seragam TNI dari bebagai kesatuan juga menghiasi ruangan pameran alustisya
“Jember Army Festival ini akan kita laksanakan tiap tahunnya. Ini sangat bagus sebagai ajang edukasi bagi anak-anak agar generasi penerus bangsa lebih mengenal sejarah perjuangan bangsa. Sekaligus sebagai benteng menjaga NKRI,” ujar Faida, bupati perempuan pertama di Jember peraih penghargaan Satya Lencana dari Presiden RI ini. (*)

Penulis: Winardi Nawa Putra
Fotografer: Winardi Nawa Putra

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :