Wow sampai Ada Outlet Khusus Jual Barang Gadai

RADARJEMBER.ID –  Menyelesaikan masalah tanpa masalah. Inilah jargon dari salah satu merek usaha pegadaian. Namun, jargon tersebut tidak selalu tepat pegadaian. Pasalnya, kerap ditemui sebuah usaha pegadaian swasta yang mampu menerima barang gadai apa pun dari masyarakat. Tapi justru, menambah masalah baru karena bunga terlalu tinggi. Dan siap-siap barang akan dilego.

Bunga terlalu tinggi, menjadikan bisnis gadai menggiurkan. Kemunculan gadai dengan bunga mencekik pun bukan baru-baru ini. Tapi sudah ada puluhan tahun. Pemerintah juga belum bisa menyelesaikan secara menyeluruh ke pegadaian berbunga nakal itu. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang telah diberi kewenangan pada tahun 2016 dirasa belum menindas pegadaian nakal. Apalagi pemilik pegadaian swasta juga beranggapan punya ijin, karena punya bahan hukum koperasi.

Seperti pegadaian dengan badan hukum koperasi KSU Bintang Timur di Jalan Brantas. Pegadaian itu jadi pegadaian yang sangat familiar di tengah-tengah kehidupan mahasiswa. Pantauan Jawa Pos Radar Jember, pegadaian ini tumbuh subur. Terlihat dari barang-barang yang dilego, adalah barang mewah. Ada kamera, laptop, AC, kipas angin, televisi LED, lemari es, hingga barang kebutuhan rumah tangga lainnya.

Bahkan, di rumah bertingkat tersebut ada tiga stand. Stand pertama untuk menerima gadai barang rumah tangga. Seperti panci tupperware. Stand satunya untuk gadai elektronik. Sementara stand selanjutnya, tidak seperti stand pergadaian. Lebih mirip minimarket saja. Ya stand berukuran sekitar 5×7 meter itu terdapat rak-rak untuk menjual barang hasil gadai. “Ini barang gadai yang sama orangnya tidak ditebus,” ujar pegawai pegadaian Jalan Brantas tersebut.

Wawan, pemilik gadai itu mengatakan, bunga di tempat usahanya mencapai 8 persen per bulan. Bisa dihitung jika, taksiran barang 1 juta. Maka, bunga per bulan itu Rp 80 ribu. Sementara total bunga dalam setahun itu, hampir mendekati harga taksiran tersebut. Rp 80 ribu x 12, jadi Rp 960 ribu. Tinggal nambah Rp 40 ribu saja bukan.

Ada cara lain agar gadai swasta ini “menang” banyak. Per bulan nasabah harus lapor, jika ingin memperpanjang. Kalau tidak lapor, dalam jangka waktu 15-30 hari siap-siap saja barang bernilai akan dilego alias dijual. Tak sampai di sana saja, telat melapor pun juga ada dendanya 5 persen per 15 hari. “Kalau mau perpanjang itu harus ke sini, tidak bisa via transfer. Untuk perpanjang bisa diwakilkan asalkan ada membawa tanda bukti. Tapi untuk menebus barang, harus orang bersangkutan,” tutur Wawan. Keuntungan lainnya, barang yang dilelang itu dijual dengan harga bekas di pasaran, padahal harga taksirannya separuh harga tersebut. Contohnya Kamera Canon EOS 1100 D yang dijual Rp 2,5 juta – Rp 2,8 juta.

Keuntungan menggiurkan bisnis gadai bunga tinggi tersebut. Tak sampai usia 10 tahun, bisa beli rumah mewah di daerah kampus. “Dulu itu tempatnya di pinggir jalan arah Jembatan Semanggi. Dulu kecil. Seingat saya terakhir gadai di tempat itu tahun 2009. Sekarang sudah punya rumah besar,” papar Yusman alumnus ekonomi Unej.

Dia mengaku memilih gadai swasta di Jalan Brantas pada waktu itu, karena pegadaian negeri pilah-pilih barang dan beberapa merek tertentu diterima. “Kalau gadai resmi bunganya kecil. Sangat ringan, cocok untuk mahasiswa,” imbuhnya.

Keanehan lainnya, gadai dengan badan hukum koperasi itu. Menurut pegawainya, pemiliknya hanya satu orang bernama Pak Wawan. Padahal dalam koperasi anggotanya minimal 20 orang. “Syaratnya mendirikan koperasi ini, anggotanya itu minimal 20 orang,” kata Djamil Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kab Jember.

Reporter : Dwi Siswanto
Editor : Adi Faizin
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Dwi Siswanto

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :