Ra Fadil: Itu Sabotase Manaqib untuk Kampanye Ganti Presiden

3473
KLARIFIKASI: Juru Bicara Ponpes Alqodiri, Achmad Fadil Muzakki Syah mememberikan penjelasan terkait pernyataan Habib Muhdor yang menyampaikan ungkapan 2019 Ganti Presiden usai cawapres Ma’ruf Amin memberikan sambutan di Manaqib Al Qodiri.

RADARJEMBER.ID – Kunjungan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 1 KH Ma’ruf Amin ke Pondok Pesantren (Ponpes) Alqodiri Jember, menyisakan polemik. Beredarnya video ceramah Muhdor Alhamid yang menyerukan ganti presiden ke jemaah, menuai kontoversi. Padahal, jargon itu identik dengan kelompok pendukung Prabowo-Sandiaga, yang menjadi kompetitor Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam Pemilu 2019.

Muhdor menyampaikan ceramahnya usai Ma’ruf Amin berpidato. Sebelum meneriakkan ganti presiden, tokoh agama asal Kecamatan Tanggul ini lebih dulu mengucapkan kalimat bernada mengkritik pemerintahan tentang naiknya tarif dasar listrik, dan bahan pangan. Beruntung saat itu, Ma’ruf Amin telah turun dari pentas, dan tak lagi berada di lokasi pengajian. “Listrik mau turun tidak? Listrik mau turun tidak? Jangan lupa 2019 ganti presiden!” pekik Muhdor.

Kalimat inilah yang menuai reaksi. Tak hanya dari masyarakat Jember, tapi juga keluarga Ponpes Alqodiri. Bahkan, melalui juru bicara keluarga pesantren, lembaga yang berada di Kelurahan Gebang, Kecamatan Patrang ini, membuat klarifikasi khusus untuk publik, serta menilai pidato Muhdor Alhamid sebagai sabotase acara manaqib untuk kepentingan politik ganti presiden dan kepentingan politik pribadinya.

Mengenai hal itu, Achmad Fadil Muzakki Syah, juru bicara pesantren menyampaikan permintaan maaf kepada publik, khususnya kepada Kiai Ma’ruf Amin. Karena insiden tersebut di luar prediksinya. Bahkan, dia juga mengaku kecewa karena dalam pengajian itu yang hadir adalah jemaah Ponpes Alqodiri, bukan jemaah Muhdor. Kedatangan mereka juga bertujuan untuk berzikir, bukan menghadiri kampanye.

Kehadiran Kiai Ma’ruf juga diundang khusus dalam acara sholawatan yang rutin digelar tiap malam Jumat legi tersebut. “Untuk itu, keluarga sepakat tak lagi mengundang Habib Muhdor, dan di seluruh kegiatan manakib Ponpes Alqodiri. Karena insiden kemarin telah mengecewakan, dan kami sangat menyayangkan,” katanya.

Sebenarnya, ungkap pria yang disapa Lora Fadil ini, Muhdor Alhamid sering menjadi penceramah di pesantren yang didirikan KH Muzakki Syah ini. Namun biasanya, setiap kali datang Muhdor hanya menyinggung tentang kejelekan kelompok Syiah saja, dan meminta pemerintah tak membela aliran yang dinilainya sesat tersebut. “Tapi kali ini, beliau menyinggung soal ganti presiden. Sehingga kami menilai, ini adalah sabotase untuk kepentingan politik,” ujarnya.

Sejauh ini, kata Fadil, posisi Ponpes Alqodiri masih netral dalam kontestasi Pemilu 2019. Meskipun selama ini, pesantren tersebut dikenal cukup dekat dengan tokoh politik, maupun partai politik tertentu. Bahkan, dirinya sendiri juga masuk di Tim Sukses Jokowi-Ma’ruf, melalui sayap Tim Kiai Nusantara. Dia juga mengaku fungsionaris Partai Nasdem, yang juga mendukung Jokowi-Ma’ruf. “Tapi secara kelembagaan pesantren belum. Kehadiran Kia Maruf sendiri hanya ingin bersilaturahmi dan mengenalkan diri ke jemaah,” jelasnya.

Sikap netral lembaga ini, Fadil mengungkapkan, karena belum ada perintah dari pendiri Alqodiri KH Muzakki Syah, untuk mendukung salah satu pasangan calon presiden. Kendati sudah ada perintah, dia menambahkan, juga tak akan menggunakan pengajian sebagai ajang kampanye, seperti yang dilakukan Muhdor. Pihaknya akan menggerakkan jemaah melalui iman manakib di momen lain, yang diundang khusus untuk kepentingan politik tersebut. “Pengajian manakib netral dari politik. Jika ada aksi dukung mendukung pasti di luar agenda manakib. Dan kami akan mengundang secara khusus di momen yang lain,” tuturnya.

Lebih lanjut dia mengutarakan, hingga kini pengasuh pesantren belum menerima permintaan maaf dari Muhdor Alhamid terkait insiden tersebut. Muhdor hanya menyampaikan permintaan maaf terhadap istri pengasuh pesantren. Meski begitu, keluarga telah memaafkan perbuatan yang dinilai mencoreng nama pesantren tersebut. “Kalau memaafkan, iya. Kemarin kami juga sudah memaafkan. Tapi keputusan untuk tak mengundangnya lagi itu sudah bulat. Dan berdasarkan musyawarah keluarga,” tandasnya. (*)

Penulis : Mahrus Sholih
Fotografer : Wawan Dwi Siswanto
Editor : Winardi Nawa Putra

Reporter :

Fotografer :

Editor :