Menristek Dikti: Dilarang Kampanye di Kampus, Tegaskan  Dosen Tak Boleh Berpolitik

Bagus Supriadi/Radar Jember MERESMIKAN: Menristek Dikti RI saat peresmian dimulainya pembangunan delapan gedung baru di Universitas Jember.

RADARJEMBER.ID – Pesta demokrasi pemilihan presiden dan wakil presiden serta pemilu legislatif sudah memasuki masa kampanye. Menristek Dikti menegaskan bahwa dosen yang berstatus pegawai negeri sipil (PNS) dilarang berpolitik. Bahkan, kampus juga dilarang menjadi tempat kampanye.

“PNS itu tidak boleh berpolitik, tidak boleh jadi tim sukses,” tegas Menteri Riset dan Teknologi M Natsir saat berkunjung ke Universitas Jember. Kedatangan Natsir tersebut dalam rangka peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gedung auditorium, integrated laboratory, dan Agrotechno Park Complex.

Tak hanya dosen. Bahkan, rektor juga dilarang berpolitik sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang ASN. Ketentuan larangan PNS berpolitik itu juga diatur dalam Surat Edaran Nomor B/71/M.SM.00.00/2017 tentang Pelaksanaan Netralitas bagi ASN pada Penyelenggaraan Pilkada Serentak Tahun 2018, Pemilihan Legislatif Tahun 2019, dan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019.

Larangan kampus untuk dijadikan tempat kampanye, menurut Natsir berlaku bagi perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS). “Kami sudah menyampaikan ke seluruh kampus di Indonesia,” tutur Natsir.

Kecuali, kata dia, semua calon presiden itu didatangkan dalam satu kegiatan secara bersamaan. “Tapi jangan sendiri-sendiri, misal hari ini A, besok B, tidak boleh seperti itu,” jelasnya. Pengawasan itu, lanjut dia, dilakukan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) atau  Badan Pengawas Pemilu.

Kampus yang melanggar aturan itu, lanjut Natsir, bisa mendapat peringatan tertulis. Sedangkan dosen yang berpolitik bisa mendapat sanksi teguran. Larangan kampanye itu juga berlaku meskipun gedung milik kampus disewa. “Tidak boleh ada kampanye di kampus, sehingga bisa dipolitisasi, kecuali semua pasangan,” terangnya.

Pembangunan Gedung Baru Unej

Kedatangan menteri M Natsir ke Universitas Jember untuk peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan gedung auditorium, integrated laboratory, dan Agrotechno Park Complex.

Pembangunan gedung itu dalam rangka mendukung penetapan Universitas Jember sebagai pusat keunggulan bioteknologi oleh Kemenristekdikti. Pembangunan delapan gedung itu didanai oleh Islamic Development Bank (IsDB).

“Proyek IsDB yang dibangun ini untuk empat perguruan tinggi secara bersama-sama,” jelasnya. Mulai dari Universitas Mulawarman Kaltim, Universitas Negeri Malang, Universitas Sultan Agung Tirtayasa Banten, dan Unej dengan nilai pembangunan Rp 2,2 tiriliun. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas lulusannya.

Bertambahnya fasilitas itu diharapkan bisa meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Masing-masing perguruan tinggi punya bidang masing-masing. “Di Unej konsentrasi pada bioteknologi, di Malang pada modernisasi pendidikan di Indonesia, di Universitas Mulawarman pada tropikal,” jelas mantan rektor Undip ini.

Sebelumnya, Kemenristek Dikti sudah melakukan hal yang sama dengan tujuh PTN, mulai dari Aceh hingga Jawa, seperti Unesa, Universitas Tanjungpura, dan lainnya. Semua pendanaan itu dari IsDB. “Evaluasi proyek ini selesai dulu, setelah itu kinerjanya dievaluasi,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor Universitas Jember Moh. Hasan menambahkan, bangunan itu diharapkan bukan sekadar berdiri. Namun bisa menjadi pusat unggulan bioteknologi. “Menjadikan Unej yang nyaman, memberikan layanan terbaik pada mahasiswa,” pungkasnya.

Reporter : Bagus Supriadi
Editor : Adi Faizin
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah
Fotografer: Dwi Siswanto

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :