Kisah Hidup Pengamen Remaja Riki Jonata, Hidup Tanpa Orang Tua, Pernah Raih Nilai UN Tertinggi Saat SD

WAWAN DWI/RADAR JEMBER YATIM PIATU: Riki Jonata, remaja asal Talangsari yang memilih mengamen karena tidak ada biaya hidup setelah kedua orang tuanya meninggal.

RADARJEMBER.ID – Siang itu jalanan di Gladak Kembar begitu padat. Ada penumpukan kendaraan baik roda dua dan empat kala menunggu giliran lampu lalu lintas. Ada pula kendaraan yang melaju kencang agar tidak terkena lampu merah.

Banyak orang yang merasa kesal terkena lampu merah di Gladak Kembar. Tetapi tidak untuk anak jalanan. Mereka justru berharap banyak kendaraan berhenti di lampu lalu lintas itu. Anak jalanan itu ada yang sekadar meminta-minta, ada pula jadi pengamen.

Pengamen di Gladak Kembar usianya tergolong muda, bahkan umurnya seperti anak sekolah saja. Prediksi itu memang benar, seperti Riki Jonata, pengamen di Gladak Kembar yang usianya masih 15 tahun. Jika dihitung, dia masih duduk di bangku SMP. “Bukan bolos sekolah Om. Tapi memang sudah tidak sekolah lagi Om, putus sekolah,” ujar Riki polos.

Mengenakan jaket abu-abu, celana pendek, dan tanpa alas kaki, Riki terlihat terbuka saat berbincang-bincang dengan radarjember.id. Duduk di trotoar dan berjalan di antara sela-sela kerumunan kendaraan. Dengan ditemani gitar kentrung (ukulele), dia memainkan sambil bernyanyi sambil berharap kemurahan hati pengguna jalan.

Riki mengaku pernah duduk di bangku kelas 1 SMPN 1 Islam Jember. Dia berhenti sekolah, bukan karena bodoh, sering membolos, atau keenakan mengamen. “Karena memang sudah tidak ada biaya lagi, semenjak ibu saya meninggal dunia. Sebelumnya ayah sudah meninggal. Jadi, sekarang saya yatim piatu,” tutur Riki lirih.

Obrolan yang semula datar, nuansanya berubah. Mata Riki mulai berkaca-kaca jika mengingat orang tuanya dan indahnya berseragam sekolah. Riki sangat mengakrabi kehidupan kota di Jember. Sejak lahir hingga kini di Talangsari dan menghabiskan masa kecilnya di daerah Pasar Tanjung. Sayang dia hanya mendapatkan waktu sedikit untuk merasakan kehangatan seorang ayah. Sang ayah meninggal saat Riki masih kecil. “Ya dulu waktu kecil sering main di Pasar Tanjung, karena ayah jukir di Pasar Tanjung,” imbuhnya.

Duka kembali menyelimuti Riki di tahun 2012. Sang ibu tercinta, Sulastri, mengidap tipes dan batuk hingga tutup usia. Sepeninggal orang tua satu-satunya itulah, kehidupan Riki berubah. Dengan terpaksa, dia harus berhenti sekolah.

Berdiam diri di rumah dan hanya mengandalkan bibinya yang secara keuangan pas-pasan, bukan pilihan yang membuat Riki nyaman. Akhirnya Riki mulai ada inisiatif mencari uang. Dia mulai dari pekerjaan keras menggotong bahan makanan di Pasar Tanjung hingga menjual kembali sayuran sisa. Riki yang berbadan kecil pun tidak bisa mengangkut barang berat. “Kalau mengais sisa sayur dari pasar, hasilnya sedikit. Tidak cukup untuk dimakan di rumah,” tutur remaja yang bercita-cita sebagai insinyur ini.

Riki akhirnya terjun di dunia musisi jalanan setelah diajak oleh tetangganya bernama Tutik. Lewat Tutik dia belajar bermain musik dan belajar hidup di jalanan. Jalan hidup jadi pengamen telah dilalui Riki sekitar 3 tahun terakhir. Berangkat dari siang hingga malam, dia mampu membawa uang rata-rata setiap hari 20-30 ribu.

Dia masih ingat pertama kali mengamen, rasanya malu. Apalagi, melihat pelajar berseragam dan berjumpa dengan teman sekolahnya. “Ya pernah ketemu teman, ya malu,” imbuhnya. Dalam hati dia ingin melanjutkan sekolah. Apalagi, Riki saat kelas 6 di SDN Balung Lor 5 meraih nilai Ujian Nasional (UN) tertinggi di sekolahnya.

Hingga, kini anak yatim tersebut tidak tersentuh program pemerintah apa pun. Termasuk Kartu Indonesia Sehat dan Indonesia Pintar. Dua kartu itu hanya dilihat dilayar televisi saja, tidak ada dalam gengamannya.

Reporter & Fotografer: Dwi Siswanto
Editor : Adi Faizin
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :