Tak Cukup Reformasi, tapi Revolusi Birokrasi

RADARJEMBER.ID – Bukan lagi sekedar reformasi. Tapi, revolusi. Itulah yang disampaikan Wakil Bupati Indah Amperawati, kepada radarjember.id

Mengapa? Menurut Indah, ada persoalan yang teramat serius yang kini tengah melanda birokrasi di Lumajang. Di banyak hal, di banyak sektor. Maka, menurut dia, reformasi saja tak cukup. “Ya, bukan lagi reformasi, tapi harus revolusi sepertinya,’’ katanya.

Memang, gambaran banyaknya persoalan di birokrasi sudah terlihat ketika Bupati Thoriqul Haq memimpin apel pagi di hari pertamanya ngantor. Apel digelar besar-besaran. Tak lagi di halaman pemkab, tapi harus digelar di alun-alun Lumajang.

Semua pimpinan OPD, camat dan petinggi pemerintahan dihadirkan. Saking pentingnya, Thoriq sampai merasa tak perlu naik podium yang disediakan. Bupati yang akrab dipanggil Cak Thoriq ini memilih turun yang diikuti Wabup Indah. Sementara kepala OPD diminta lebih mendekat dan tidak berjauhan.

Saat itu, Thoriq dengan amat jelas menyampaikan beberapa persoalan di birokrasi. Main pungli, jual beli jabatan ditekankannya. “Sesama ASN dipungli ASN,” tegasnya.

Dia juga meminta agar para aparatus sipil negara (ASN) bekerja secara benar serta profesional. Pimpinan tertinggi di Lumajang saat ini adalah dirinya. Tidak ada bupati lain selain dirinya. Tidak ada Wabup lain selain Indah. ASN tidak bisa lapor ke selain bupati dan Wabup. “Kalau tidak percaya, silakan dicoba,” katanya.

Thoriq dan Indah tak ingin lagi ASN bersikap seenaknya. ASN harus profesional. Tidak main-main dan menyalahgunakan jabatannya.

Lantas, akankah ada mutasi besar-besaran? Wabup Indah menegaskan, tidak lantas demikian. Bersama Bupati Thoriq dia akan melihat kinerja dan profesionalisme ASN. “Selain tentunya, aturan tidak bisa ujug-ujug mutasi. Tapi, ayo berubah. Jangan pakai tradisi lama,’’ tegas Indah.

   Dia menegaskan, ASN adalah pelayan masyarakat. Mereka bekerja di bawah sumpah. Melayani masyarakat sebaik mungkin adalah keharusan. Apalagi di zaman seperti saat ini. Di tengah banyaknya persoalan yang menuntut ASN fleksibel dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Pejabat bukan untuk dilayani tapi harus melayani masyarakat. “Kalau tidak bisa berubah ya harus minggir,’’ tegasnya.

Tak perlu titel tinggi untuk bisa melayani masyarakat dengan baik. Tak perlu bergelar profesor. Namun, semua harus dimulai dari semangat ikhlas mengabdi. “Bukan cari-cari dan berharap dapat apa,’’ tegasnya.

Dia mengakui, persoalan di birokrasi Lumajang sangatlah kompleks. Bahkan, dia mengaku sempat pusing mencari solusi. “Saking ruwetnya. Tapi, setelah kami urai solusi itu tinggal kita terapkan,’’ kata perempuan yang akrab disapa Bunda Indah ini.

Untuk itu, dia mengajak agar para ASN di semua lini mengubah paradigma. Dia juga mengaku sudah menyiapkan formula untuk memantau kinerja para ASN. Bahkan, saat ini tengah diupayakan dengan memanfaatkan IT untuk bisa memantau secara intens para ASN. “Kami sedang membuat semacam aplikasi. Bekerja sama dengan pakar IT di ITS sama rekan-rekan di Telkom,’’ tukas perempuan yang sudah lebih seperempat abad meniti karier birokrasi ini.

Lewat aplikasi itu bahkan kondisi para ASN bisa terpantau riil dan real time. Termasuk ketika ada persoalan-persoalan. “Misalkan sedang tidak mood karena ada persoalan pun harapan kami bisa terpantau. Sehingga, nanti para ASN bisa bekerja dan melayani masyarakat dengan kondisi prima,’’ tegasnya.

Mulai kapan bisa diterapkan? Indah tak memastikan. “Tunggu saja, masih kami upayakan sejauh mana kita mampu menyinkronkan IT dengan teknis di lapangan, termasuk kendala-kendalanya,’’ kata Indah.

Reporter : Hafid Asnan
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

Reporter :

Fotografer :

Editor :