Mengenal ISP, Komunitas yang Belajar Investasi Saham

ISP for Radar Jember MERANCANG MASA DEPAN: Anak muda kini bukan hanya pintar berwirausaha, namun mereka juga mulai mengenal investasi di bidang saham yang ternyata banyak sekali anggotanya.

RADARJEMBER.ID – Berbicara masalah saham, imajinasi kita secara otomatis akan langsung melesat ruangan bursa efek. Bayangan di pikiran juga akan langsung dipenuhi dengan para ekonom andal dan kalangan kaum berduit berdasi. Tetapi, ternyata anggapan tentang saham tersebut kini sepenuhnya akan salah jika kita mengenal Komunitas Investor Saham Pemula (ISP) Jember.

Mereka adalah komunitas yang mewadahi sejumlah masyarakat di Jember yang ingin mengenal dan belajar semua hal tentang dunia saham. Sebab, fokusnya memang edukasi pasar modal, utamanya trading dan investasi. Meskipun baru didirikan pada 10 November 2017, namun ternyata animo masyarakat yang ingin bergabung cukup banyak. Apalagi, memang tidak dibatasi usia dan latar belakang untuk bisa bergabung dengan komunitas ini.

“Total, kini ada 50-an anggotanya dengan berbagai profesi. Tetapi memang yang paling banyak adalah mahasiswa,” jelas R. Syauqy Wildana Refowidya Mahardika, ketua ISP Jember. Mahasiswa semester tiga Jurusan Manajemen Unmuh Jember ini mengatakan, kebanyakan yang bergabung memang yang masih tahap belajar tentang dunia saham.

Menariknya, para pelaku saham ini bukan menggunakan alat yang canggih untuk melakukan investasi, menabung, atau trading saham. Cukup menggunakan ponsel pintar (smartphone), maka sudah bisa masuk dalam pasar saham dan memilih menabung saham. Bahkan, yang menarik ternyata untuk menabung dan menanamkan modal saham kini tidak harus menggunakan modal jutaan.

“Minimal cukup Rp 100 ribu, sudah bisa memiliki akun investasi di pasar saham,” jelas Syauqy. Oleh karena itu, dengan berbagai kemudahan ini, semua masyarakat sebenarnya bisa melakukan investasi saham.

Dijelaskan Syauqy, memang yang dilakukan pihaknya bukan pada trading atau jual beli saham saja, melainkan untuk memberikan alternatif kepada masyarakat dalam berinvestasi. Utamanya pada sejumlah masyarakat yang berkali-kali terjebak dalam investasi bodong, khususnya penipuan berkedok saham.

“Saat ini masyarakat tidak harus investasi saham kepada perusahaan. Bahkan, masyarakat bisa memiliki akun dan berjual beli saham sendiri,” jelasnya. Dengan demikian, mereka akan tahu sendiri bagaimana risiko dan keuntungan investasi saham, serta tidak terjebak dalam investasi bodong yang menyesatkan.

Apalagi, diakui Syauqy, sebenarnya investasi di pasar saham ini jauh lebih menguntungkan dibandingkan dengan hanya mengendapkan uang di bank konvensional. Jika di bank, biasanya malah terkena potongan administrasi. Bahkan, jika berbentuk deposito, maka lama untuk mendapatkan kembali modal dan bunganya tidak terlalu besar.

“Tapi di investasi saham, asalkan bisa menganalisis pasar, maka keuntungan jauh lebih besar,” jelasnya. Syauqy sempat menceritakan pengalamannya investasi saham jangka menengah dengan bermodalkan hanya Rp 250 ribu. Uang tersebut didiamkan, dan asal profit perusahaan terlihat naik, bisa dijual tanpa harus menunggu jatuh tempo panjang.

Dirinya pernah investasi saham selama tiga bulan, dan ternyata sudah mendapatkan keuntungan menjadi Rp 700 ribu. Tentu jauh lebih besar dari investasi lainnya. Bahkan, diakuinya, keuntungan jauh lebih besar jika para anggota ini aktif bisa mengikuti trading untuk jangka waktu harian.

Yakni membeli saat harga murah dan dijual saat harga naik. “Sehari bukan tidak mungkin mendapatkan keuntungan sampai 25 persen, 100 persen, bahkan lebih,” jelasnya. Tetapi memang harus pintar-pintar memilih perusahaan yang akan dibeli sahamnya dan menganalisis pangsa pasar yang ada.

Hal ini pula yang juga di-sharing bersama oleh grup komunitas ISP Jember setiap harinya. Bahkan, layaknya pialang saham andal, setiap hari selalu ada obrolan mengenai kondisi pasar nasional dan global. Informasi ini sangat penting untuk memberikan masukan kepada anggota yang hendak berinvestasi saham. “Meski ada masukan dan analisis, tetapi yang memutuskan tetap masing-masing anggota,” jelasnya.

Bukan hanya investasi saja yang didapatkan oleh anggota ISP. Namun, mereka juga bisa berkenalan dengan anggota ISP nasional yang sudah terbentuk secara nasional pada Desember 2014 silam. “Bahkan, kadang ada yang mendapatkan undangan RUPS (Rapat Undangan Pemegang Saham) dari perusahaan-perusahaan besar. Meskipun kecil kan juga sebagai pemegang saham,” terangnya.

Menariknya, ternyata ISP ini juga memiliki misi mulia, yakni menguatkan pasar modal Indonesia. Makanya, yang dibeli sahamnya rata-rata adalah perusahaan nasional yang sudah go public. “Yah itung-itung membantu perekonomian Indonesia. Makanya teman-teman ISP jika bermain saham pasti di Bursa Efek Indonesia dan membeli perusahaan nasional. Baru jika sudah mahir, bisa perusahaan dan bursa efek internasional,” pungkasnya.

Reporter : Rangga Mahardika

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :