Melihat Kiprah Persatuan Pemuda Majangan: Iuran dari Roan, Hasilnya Dipakai Promosi Jajanan Tradisional

PPM FOR RADAR JEMBER DIMOTORI ANAK MUDA: Pengunjung membeli jajanan tradisional di salah satu stan dalam bazar kuliner tradisional yang digelar PPM, di Desa Grenden, Kecamatan Puger.

RADARJEMBER.ID – Sekelompok anak muda terlihat sibuk menata stan. Mereka memasang tirai, membetulkan tata letak meja, serta merapikan kursi. Rupanya, belasan pemuda ini sedang menyiapkan lapak sederhana bagi warga yang akan menjual jajanan tradisional dalam bazar yang digelar oleh PPM.

PPM adalah sebuah organisasi pemuda di Lingkungan Majangan, Desa Grenden, Kecamatan Puger. Lapak-lapak tersebut menempati jalan desa yang melintas di kawasan dusun setempat. “Ada macam-macam, mulai dari cenil, lupis, klepon, jemblem, rujak, dan kuliner tradisional lain yang saat ini mulai ditinggalkan oleh pemuda dan remaja,” kata Mistono, Ketua PPM, saat ditemui kemarin.

Sebenarnya, ujar pria 35 tahun ini, ide membuat bazar jajanan tradisional ini merupakan ide spontan ketika PPM menggelar yasinan yang dilakukan rutin tiap pekan. Menurut dia, ada salah seorang anggotanya yang nyeletuk bahwa saat ini merambahnya toko modern hingga ke desa-desa berdampak terhadap berkurangnya minat generasi muda terhadap jajanan pasar, karena mereka lebih tertarik dengan makanan kemasan dan cepat saji.

Berangkat dari diskusi kecil itulah, akhirnya PPM sepakat membuat acara bazar. Kemudian, agenda itu dibarengkan dengan rangkaian peringatan hari kemerdekaan yang lain, seperti pengajian, karnaval, dan pagelaran seni tradisional wayang kulit. “Jadi, semangat yang ingin kami sampaikan dalam HUT ke-73 RI kali ini adalah, generasi muda harus bebas dari penjajahan makanan cepat saji,” ucapnya.

Organisasi yang dibentuk Agustus 2016 lalu ini memang terlihat berbeda dengan organisasi pemuda di desa pada umumnya. Selain bentuk kegiatannya, cara pengumpulan dana dari anggota juga tak sama. Jika umumnya iuran itu berbentuk uang tunai, PPM ini berbeda. Setiap anggota hanya wajib mengikuti roan alias gotong-royong untuk membantu para tetangga yang sedang memanen tanaman mereka di sawah.

Menurut Wakil Ketua PPM, Roni Wibowo, jika ada warga di lingkungan mereka panen, maka anggota PPM akan menawarkan bantuan tenaga. Masing-masing anggota bakal mendapat giliran, sesuai jadwal yang telah disusun pengurus. Bagi yang kena piket, mereka harus ikut memanen hingga selesai.

Tetapi, tenaga itu tidak cuma-cuma. Pemuda berusia 30 tahun ini menuturkan, pemilik tanaman wajib memberi sejumlah uang sesuai dengan biaya panen pada umumnya, setelah anggota PPM menuntaskan pekerjaannya. “Uang inilah yang akan dijadikan sebagai kas organisasi. Jadi, anggota tak mendapat upah, tapi langsung masuk ke kas PPM,” jelasnya.

Rupanya, model pengumpulan iuran seperti ini cukup efektif. Selain organisasi bisa terus eksis hingga kini, cara seperti itu juga dapat memupuk kekompakan para anggota. Tak hanya itu, tetangga yang sebagian besar adalah petani juga ikut senang, karena dengan biaya panen yang sama, pekerjaannya jadi lebih cepat dan ringan. “Yang lebih penting, cara seperti ini sangat membantu mengguyubkan para pemuda juga masyarakat,” tuturnya.

Sehingga, kata dia, setiap PPM menggelar acara, warga yang berada di Lingkungan Majangan juga kompak. Tak hanya bapak-bapak, emak-emak juga selalu siap membantu. Semisal membuat makanan ketika ada acara pengajian, atau ikut menggelar lapak saat agenda bazar jajanan tradisional seperti yang digelar saat ini.

Efek lainnya, PPM bisa mandiri. Sehingga, mereka tak perlu meminta bantuan dari orang lain, maupun pemerintah desa setempat. “Seperti saat ini, semua biaya yang digunakan adalah murni kas organiasi, dan donasi dari warga di Lingkungan Majangan,” tuturnya.

Meski bazar yang berlangsung selama tiga hari, sejak Rabu (29/8) hingga Sabtu (1/9), baru pertama kali dilakukan, namun rencananya acara itu bakal digelar rutin setiap tahun, yang dibarengkan dengan peringatan hari ulang tahun kemerdekaan. “Ke depan akan digelar tiap Agustus. Jadi, tak hanya memperingati HUT Kemerdekaan RI, tapi juga ulang tahun PPM,” tandas Roni Wibowo.

Reporter : Mahrus Sholih
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :