Secuil Kisah “Roller Coaster” Petani Tembakau, Kaya dan Buntung Mendadak gara-Gara Na Oogst

WAWAN DWI/RADAR JEMBER DAUN MAHAL: Al Karim (kiri) dan Supijan saat mengamati tembakau Na Oogts yang sedang dikeringkan di gudang.

RADARJEMBER.ID – Pria itu kerap kali keluar masuk rumah. Pikirannya tidak tenang. Gudang tembakau tepat di belakang rumahnya yang membuat dia gundah.

Nama pria tersebut adalah Al Karim warga Dusun Karang Anom, Desa Balung Kulon, Kecamatan Balung.  Dia punya memori buruk gara-gara tembakau, uang puluhan juta yang sudah di depan mata lenyap begitu saja. Bukan, karena gagal panen, kualitas tembakau buruk, atau terserang hama. Tapi, gudang tembakau dari welit miliknya, tahun kemarin terbakar. Hanya menyisakan debu dan cerita duka saja. “Tahun kemarin ada sekitar 1 kuintal yang terbakar. Kemungkinan kehilangan uang Rp 40 juta.” ujarnya.

Rinciannya tembakau Na Oogst 1 kuintal senilai Rp 10 juta, sementara membangun gudang dari welit menghabiskan Rp 30 juta. Belum lagi biaya tanam. Padahal tahun kemarin harga tembakau bagus-bagusnya. Tidak seperti sekarang per kuintal hanya tembus Rp 5-6 juta saja.

Banyak faktor kebakaran terjadi . Ada yang karena lalai. Ada pula teledor. “Kalau gudang tembakau saya tahun kemarin ini murni karena anak kecil bermain korek di dekat gudang. Anak kecil itu juga masih keponakan dan mengaku bermain korek,” imbuhnya.

Paling nyesek jika gudang terbakar itu karena dibakar sengaja oleh orang. “Alhamdulillah di sini tidak ada kejadian seperti itu,” imbuhnya. Terakhir menurut cerita dari petani tembakau lainnya, di Desa Wringin Telu dan Desa Bagon, Kecamatan Puger paling sering kasus gudang sengaja dibakar.

Wajah Karim yang awalnya serius menceritakan kisah kebakaran gudang tembakaunya, tiba-tiba tersenyum lebar. Dia menyapa kedatangan kakek-kakek. Dialah Supijan. Usianya 73 tahun, dia adalah pedagang tembakau dan siap untuk membeli tembakau Na Oogst dari gudang milik Karim.

Supijan juga banyak cerita soal kebakaran gudang itu. Dia juga mengaku pernah mengalaminya. Sebelum terjun jadi pedagang, dia memang petani tembakau. “Sudah tua boyok tidak kuat merawat tembakau. Enak jadi pedagang saja,” imbuhnya.

Kata Supijan, kebakaran gudang penyebabnya beragam. Intinya ada unsur disengaja dengan tidak. Tidak sengaja seperti kasus terbakarnya gudang milik Karim tahun kemarin. Ada pula tidak teliti membuang sisa bara api sisa dari proses oven. “Ada juga karena mercon. Seperti tahun kemarin, tapi waktu itu tidak ada tembakaunya,” imbuhnya.

Sementara unsur sengaja itu ada dari petani dan pedagang. “Petani juga membakar gudangnya sendiri. Biasanya itu petani banyak utangnya, kemudian gagal panen atau harga tembakau jatuh. Karena mulai tanam petani itu ngutang, agar memilih aman tidak ditagih terus. Akhirnya memilih membakar gudangnya sendiri,” imbuhnya.

Sedangkan ada juga kebakaran yang disengaja, karena sakit hati pedagang. Kejadian itu berawal dari petani melempar tembakaunya ke pedagang yang berani memberi harga mahal, padahal sudah deal dengan pedagang sebelumnya. “Karena merasa sakit hati, itu membakar gudang,” ujarnya.

Kondisi demikian masih terjadi di Jember. Sepengetahuan Supijan yang hingga kini sering terjadi di daerah Wringin Telu, dan Bagon Kecamatan Puger. “Awal tahun 2000 banyak kebakaran gudang karena pedagang sakit hati. Bahkan, pernah ada 22 gudang terbakar secara bersamaan. Maunya membakar satu gudang, tapi merembet ke gudang lainya,” tuturnya.

Diancam gudang tembakau akan dibakar juga pernah dirasakan Karim. “Sekitar empat tahun lalu diancam akan dibakar. Karena tembakau dilempar ke pedagang lain, tapi hanya diancam saja,” ujar Karim.

Alasan dilempar ke pedagang lain, karena harga lebih mahal. “Selisihnya tidak tentu. Ada selisih per kuintal Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta,” terangnya.

Keluh kesah dirasakan petani tembakau, tidak akan membuat Karim ciut untuk tidak jadi petani tembakau lagi. Sebab, dia pernah kaya mendadak juga berkat tanaman dengan julukan daun emas ini. Jika harga tembakau sedang bagus-bagusnya banyak petani jadi kaya raya. Itu saat Reformasi sekitar 1998-1999. “Rekor tertinggi per kuintal Rp 12 juta. Harga itu masih tergolong standar, ada yang lebih bagus hingga mendekati Rp 20 juta per kuintalnya,” pungkas Karim.

Reporter  & Fotografer: Dwi Siswanto:
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :