Kilas Balik Letkol Moch (Anumerta) Sroedji Meraih Penghargaan Presiden

Irma Devita for Radar Jember DIAKUI PERJUANGANNYA: Putri keempat Almarhum Letkol Moch. Sroedji, Ny Pudji Redjeki Irawati Sroedji, menerima penghargaan dari Presiden Joko Widodo di Istana Negara pada 9 November 2016.

RADARJEMBER.ID- “Alhamdulillah perjuangan kita dan seluruh masyarakat Jember tidak sia-sia.” Demikian pesan singkat yang diterima koran ini dari Irma Devita pada 9 November 2016 silam. Dialah yang mengikuti prosesi pemberian penghargaan Bintang Mahaputera Utama dari Presiden Joko Widodo kepada keluarga Moch Sroedji. Irma adalah cucu Sroedji yang memang cukup aktif menggali sejarah Sroedji.

Bintang Mahaputera Utama merupakan bintang kelas tiga. Yakni penghargaan sipil tertinggi tetapi dikeluarkan atau diberikan sesudah bintang RI kepada anggota korps militer. Bintang ini diberikan kepada pihak yang secara luar biasa pada bidang militer. Saat itu, Sroedji meraih penghargaan bersama pahlawan Sulawesi Selatan Andi Mattalatta.

Sedangkan yang menjadi pahlawan nasional adalah KHR. As’ad Syamsul Arifin dari Situbondo. Tentu menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga dan warga Jember secara keseluruhan. Pasalnya, Sroedji bukan lagi pahlawan lokal Jember saja, namun perjuangannya juga diakui secara nasional. Namun, ternyata perjuangan itu bukanlah perjuangan yang mudah dan sebentar.

Perjuangan menjadikan Sroedji pahlawan nasional itu sebenarnya baru dilakukan oleh masyarakat Jember pada 2014 silam. Tepatnya dilakukan saat Irma Devita melakukan bedah buku berjudul ‘Sang Patriot’ di aula RRI Jember pada 12 Juni 2014. Di buku itu menceritakan tentang sejarah Sroedji dan perjuangan melawan penjajah.

“Saat itu dihadiri kepala dispendik yang kemudian Pemkab Jember berjuang bersama mengusulkan Sroedji ke nasional,” jelas Irma Devita saat dihubungi radarjember.id sedang berada di tanah suci melakukan ibadah haji.

Pembuatan buku ini bukanlah hal yang mudah. Pasalnya, Irma harus berjuang penuh selama 1,5tahun untuk menyelesaikan novel kisah perjuangan Sroedji itu. Selain mendapatkan data dari keluarga besar Sroedji, dirinya juga sampai harus melakukan riset ke Jember dan berbagai tempat lainnya untuk menggali data tentang Sroedji.

Hasilnya, sungguh novel perjuangan yang sangat heroik, menggugah hati dan sanubari. Selanjutnya dukungan itu mengalir dari banyak pihak. Seperti Pemkab dan Universitas Moch. Sroedji Jember menggelar napak tilas Sroedji dari Karang Kedawung, Mumbulsari ke makam Sroedji di Kreongan, Patrang yang diikuti ribuan siswa.

PWI Jember bersama Dinas Sosial Pemkab Jember juga turut serta dalam perjuangan itu yakni dengan menggelar lomba menulis Sroedji dan simposium tentang Sroedji. Kemudian diusulkan melalui tim peneliti dan pengkaji gelar daerah (TP2GD) Pemkab Jember dan Provinsi Jawa Timur ke Kementerian Sosial dan Dewan Gelar Nasional.

Sroedji pada 2015 itu diajukan bersama tiga pahlawan lainnya dari Jawa Timur yakni Mas Isman yang merupakan pendiri Tentara Republik Indonesia Pelajar dan pendiri yayasan Kosgoro, M. Jasin dan Doel Arnowo, tokoh pertempuran 10 November 1945 sama-sama dari Surabaya.

Namun, pada 2015 hanya M. Jasin dan Mas Isman yang menjadi pahlawan nasional. Selain itu, juga ada Bernard Willem Lapian (Sumatera Utara), I Gusti Ngurah Agung (Bali) dan Ki Bagus Hadikusumo (Jogjakarta) yang diberikan penghargaan pahlawan nasional.

“Saat itu katanya kurang kajian akademis dan sosialisasi ke masyarakat,” jelas Irma. Oleh karena itu, Pemkab Jember pun berusaha melengkapi hal itu dan mengajukan lagi di tahun 2016. Bahkan, untuk melengkapi data akademis itu pihaknya sempat ke Belanda. Yakni tepatnya ke Museum KNIL – Broonbek di Anheim Belanda dan Pusat Data Marine Intelligent Belanda.

Benar saja, di sana ternyata banyak sekali data tentang Sroedji yang membuktikan jika perjuangan Sroedji bukanlah sekadar cerita. “Ada surat dengan tanda tangan Sroedji yang mewakili TNI wilayah Besuki untuk melakukan perundingan dengan Letkol A.P. Arens tentang pembagian wilayah sesuai perjanjian Renville,” tegasnya.

Yakni tentang pembagian garis batas demarkasi. Bukti autentik inilah yang kemudian menjadi bukti kuat bagaimana perjuangan Sroedji untuk Indonesia di era mempertahankan kemerdekaan, sehingga kemudian diajukan lagi pada 2016. Hasilnya, Sroedji dianugerahi penghargaan Bintang Mahaputera Utama oleh presiden pada 2016.

Oleh karena itu, pihaknya pun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, khususnya Pemkab Jember yang sudah berjuang mewujudkan hal itu. “Sroedji bukan hanya mendapatkan gelar pahlawan lokal, namun layak sebagai pahlawan nasional karena perjuangannya,” jelasnya.

Karena saat perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia juga meliputi wilayah lain mulai dari Kediri, Blitar, Malang, hingga ke Banyuwangi. Efek perjuangannya pun juga sifatnya nasional.

Pihaknya pun akan sangat berterima kasih jika kemudian diajukan lagi untuk nominasi pahlawan nasional lagi tahun depan. Karena memang dari segi kajian akademis, bukti fisik, serta dikenal masyarakat sudah memenuhi syarat. Tinggal ihtiar bersama agar mewujudkan Sroedji jadi pahlawan nasional.

“Karena yang bisa mengajukan dari pemerintah daerah, bukan dari keluarga. Jadi butuh pemerintah daerah untuk mewujudkannya,” ucapnya dengan penuh rasa bangga.

Reporter : Rangga Mahardika
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :