Cerita Tentang Pahlawan Sroedji dan Soebandi

PATUNG KALIWATES: Patung Moch. Sroedji di Jl Gajah Mada Kaliwates.

RADARJEMBER.ID- Ulang tahun kemerdekaan baru kemarin. Kisah tentang perjuangan pahlawan lokal acap terlewat. Padahal, perjuangan mereka tak kalah heroik. Salah satunya duo Sroedji dan Soebandi yang gugur saat agresi militer Belanda 1949. Sroedji gugur tertembak, Soebandi gugur ketika hendak menolong karibnya yang luka parah itu.

LETKOL Moch. Sroedji dibenci Belanda dan disebut sebagai ruh jahat. Sebutan itu karena  penjajah menganggapnya  sebagai orang yang ada di balik operasi penyusupan, perampokan dan pembunuhan di daerah timur. Sroedji harus meninggalkan istrinya yang sedang hamil tua hingga akhir perjuangan gugur di Karangkedawung.

Bahkan dalam kondisi sakit dia melakukan perundingan untuk mengatur strategi dengan pimpinan Desa Karangkedawung saat itu. Saat itulah Belanda menyerang hingga menyebabkannya gugur. Kekesalan Belanda dilakukan dengan menyiksa jenazah sang pahlawan. “Jarinya dipotong dan mata dicungkil,” kata Ratna EW, dosen Prodi Ilmu Sejarah Unej.

Bahkan mempertontonkan jenazahnya dari Karangkedawung ke Jember dengan diseret memakai truk, mengelilingi alun-alun. Pembunuhan itu dilakukan oleh perwira KNIL Letnan Schelten, atas keberhasilannya membunuh Letkol Sroedji, dia mendapat piagam penghargaan dari pemerintah Belanda.

Letkol dr. R. Soebandi sendiri adalah sosok ningrat yang langka. Dia turut berjuang bersama pasukan di garis depan mengusir Belanda. Sikapnya yang terang-terangan menentang Belanda ditunjukkan saat beliau memilih tetap mengoperasi seorang prajurit yang terluka parah dalam Agresi Militer I tahun 1947. “Keberanian itu berbuah hukuman tahanan kota,” tambahnya.

Saat Pertempuran Karangkedawung tanggal 8 Februari 1949, Letkol dr R. Seobandi kembali menunjukkan diri sebagai seorang dokter perang yang pemberani. Dia berusaha menyelamatkan Komandan Brigade 3 Letkol Moch. Sroedji yang tertembak. Meskipun keselamatannya sendiri dipertaruhkan. Dia akhirnya juga tertembak dan gugur saat berupaya merawat luka-luka komandan Moch. Sroedji.

“Idealnya pengusulan Pahlawan Nasional dari Jember satu paket, Moch. Sroedji dan Soebandi,” terangnya. Sebab keduanya memiliki peran besar dalam mengusir penjajah di Jember.

Ratna menerangkan ketika kemerdekaan RI diproklamasikan  pada 17 Agustus 1945 lalu. Dua hari setelahnya, pada 19 Agustus 1945 dibentuk delapan provinsi awal dan keputusan pembentukan Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID). Namun  keputusan  resminya ditetapkan  pada 22 Agustus 1945.

KNID bertugas sebagai pelaksana pemerintahan Republik Indonesia (RI) di tingkat daerah. Di Jember juga dibentuk KNID yang diketuai R. Soedarman. “Beliau kemudian ditetapkan sebagai Bupati Jember yang pertama di masa kemerdekaan,” kata Ratna.

Di pihak lain, kata dia, sidang PPKI tanggal 22 Agustus 1945 juga menetapkan pembentukan Badan Keamanan Rakyat (BKR). Tujuannya sebagai pemelihara keamanan dalam negeri. “Anggota BKR  tersusun dari bekas pasukan Pembela Tanah Air (PETA) dan sebagian kecil bekas KNIL (Koninlijk Nederlandch-Indische Leger),” tambahnya.

BKR di Jember dibentuk dengan mengumpulkan kembali para mantan anggota PETA Daidan II. Mantan anggota PETA di Jember membentuk Resimen II BKR dengan wilayah Jember dan Banyuwangi. “Komandannya bernama Soewito Kartosoedarmo yang membawahi empat batalion dan satu kompi meriam,” ungkapnya.

Masing-masing batalion itu dipimpin oleh Moch. Sroedji dan Soerodjo berkedudukan di Jember. Kemudian Batalion Istiklah dipimpin Istiklah dan Battalion Soepono berkedudukan di Banyuwangi. “Kompi Meriam dipimpin Syafioeddin berkedudukan di Balung,” ujarnya.

Resimen II BKR Jember itu bertugas menjaga keamanan serta melucuti persenjataan serdadu Jepang. Selain itu membantu penyelenggaraan pemerintahan di Jember. Lalu 5 Oktober 1945 Presiden Sukarno mengeluarkan maklumat pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR). “Akhirnya BKR  berubah menjadi TKR,” ujarnya.

Resimen II BKR Jember berubah menjadi RESIMEN IV TKR DIVISI VIII dengan struktur komando berbeda. Yakni  Komandan Resimen IV oleh Kolonel Soerodjo Mangoenprawiro. Kepala Staf adalah Letkol Istiklah. “Salah satu  batalionnya adalah  Mayor Moch. Sroedji,” imbuhnya.

Tugas Resimen IV, kata dia, mengirimkan bantuan tempur untuk membantu perjuangan bangsa Indonesia dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Pengiriman itu dipimpin langsung Komandan Batalion Mayor Moch. Sroedji. Selain itu Resimen IV juga melaksanakan tugas mengatur pemulangan tawanan perang Sekutu dari kamp-kamp interniran di beberapa wilayah di Jember.

Saat Belanda menggelar Agresi Militer I tahun 1947, pasukan TNI berjuang bersama rakyat untuk menghalangi masuknya tentara Belanda ke Jember. Namun karena kekuatan tidak imbang, akhirnya TNI menggunakan strategi gerilya. “Sementara kota Jember jatuh ke tangan Belanda,” ucapnya.

Belanda menangkap Bupati Jember R. Soedarman dan memenjarakannya di Sidoarjo hingga meninggal. Untuk meredam perlawanan bersenjata dari TNI, Belanda memasukkan pasal-pasal “jebakan” dalam Perjanjian Renville 17 Januari 1948.

Karena perjajian  Renville itulah, TNI harus meninggalkan daerah-daerah kantong gerilya, karena praktis yang berkuasa adalah Belanda. Pasukan TNI  yang bertahan di Jember harus meninggalkan zona gerilya dan melakukan hijrah menuju wilayah lain.

Pasukan TNI kemudian hijrah meninggalkan Jember menuju Kediri, Tulungagung, Blitar, dan sekitarnya. Pasukan TNI dipimpin Komandan Resimen 40/Damarwulan Letkol Moch. Sroedji dan disertai pasukan-pasukan laskar Hizbullah dan rakyat Jember.

Ratna menjelaskan, tanggal 19 Desember 1948 Belanda kembali menggelar Agresi Militer Kedua dan menduduki ibukota RI di Jogjakarta. Panglima Besar TNI Letjen Soedirman memerintahkan seluruh pasukan TNI untuk mengobarkan Perang Gerilya Semesta.

Pasukan yang dipimpin Letkol Moch. Sroedji  berubah menjadi Brigade 3/Damarwulan  melakukan gerilya untuk kembali ke basis pertahanan di Jember. Pasukan berhasil mencapai Jember pada tanggal 9 Januari 1949.

Komandan Brigade Letkol Moch. Sroedji membagi tugas pembentukan pemerintahan darurat perang berupa Komando Sub Teritorium Besuki di wilayah Karesidenan Besuki, termasuk Jember. Letkol Moch. Sroedji juga merangkap sebagai Komandan Sub Teritorium Besuki dan bertanggungjawab  terhadap operasi di Jember dan Banyuwangi.

Sementara untuk wilayah Bondowoso dan Situbondo diserahkan kepada Wakil Komandan Brigade III, Mayor Imam Soekarto sebagai Wakil Komandan Sub Teritorium Besuki. Letkol dr. R. Soebandi ditunjuk sebagai Residen Militer Besuki.

Pada saat melaksanakan gerilya di Desa Karangkedawung Mumbulsari, terjadi pertempuran antara pasukan Staf Brigade 3 dengan pasukan KNIL. Dalam pertempuran ini Komandan Resimen Letkol Moch. Sroedji gugur beserta Residen Militer Letkol dr. Soebandi dan para prajuritnya.

Sebagian kecil prajurit berhasil menyelamatkan diri, di antara yang selamat adalah Wakil Komandan Sub Teritorium Besuki Mayor Imam Soekarto. Dia  memegang Komando Brigade 3 dan Komando Sub Teritorium Besuki hingga penyerahan kedaulatan dari Komandan KNIL Rayon V Jawa Timur Mayor PA Muller. “Penyerahan kedaulatan dilaksanakan tanggal 26 Desember 1949 bertempat di Bondowoso,” terangnya.

Dua sosok pahlawan  Letkol Moch. Sroedji dan Letkol dr. Soebandi merupakan pahlawan perang kemerdekaan yang berjuang melalui militer. Keduanya  adalah perwira TNI. Moch. Sroedji sejak awal kemerdekaan dengan pangkat Mayor telah memimpin Batalion Alap-Alap yang bertugas memperkuat pertahanan Kota Surabaya dalam Pertempuran 10 November 1945.

Mayor Sroedji kemudian dipercaya menduduki jabatan Komandan Resimen 39/Menak Koncar sekaligus  sebagai Komandan Commando Offensive Guerilla (COG) III pada masa Agresi Militer Belanda I tahun 1947. Sebagai Komandan COG III beliau menggagas pembentukan satuan gerilya khusus bernama Kompi Sambernyowo yang beroperasi di wilayah Penanggal.

Setelah memimpin Resimen 39/Menak Koncar, Mayor Moch. Sroedji mendapat kenaikan pangkat menjadi Letkol dan dipercaya memimpin Resimen 40/Damarwulan.

Sedangkan Letkol dr. Soebandi, kata dia, adalah dokter militer alumni Ika Daigaku (sekolah kedokteran masa Jepang). Dia mengikuti pendidikan militer PETA, setelah lulus ditugaskan sebagai dokter tentara di Daidan PETA Lumajang. “Kemudian dia menjadi TNI berpangkat mayor,” ujarnya.

dr Soebandi  dipindah ke Rumah Sakit Tentara di Jember sebagai kepala rumah sakit. Saat Belanda masuk tahun 1947, Mayor dr Soebandi dikenai tahanan kota karena menyelamatkan seorang prajurit TNI yang terluka parah. “Dia juga diangkat  sebagai perwira kesehatan di Resimen 40/Damarwulan,” tambahnya.

Saat wingate action Brigade 3/Damarwulan, Letkol dr. Soebandi berperan rangkap sebagai dokter sekaligus Residen Militer Besuki. Dia gugur dalam Pertempuran Karangkedawung tanggal 8 Februari 1949.

Reporter : Bagus Supriadi
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Yerri A Aji
Fotografer: Jumai

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :