Membaca Dampak Pertemuan IMF-World Bank di Bali, Peluang Besar Meningkatkan Perekonomian Bangsa

PRODUK UNGGULAN: Cerutu merupakan produk lokal Jember yang sudah dipasarkan ke berbagai daerah hingga luar negeri (Dokumen radar Jember)

Indonesia menjadi tuan rumah dalam kegiatan yang akan menjadi sejarah. 189 negara di dunia akan datang ke Bali dalam kegiatan 2018 Annual Meetings of the International Monetary Fund (IMF) and the World Bank Grup (WBG) di Bali. Bagamana memanfaatkan peluang ini untuk meningkatkan perekonomian?

Bagus Supriadi, Jember

Agus Setiawan sedang membuka lapak di pertokoan hardys dalam kegiatan pameran produk umkm Jember awal Agustus 2018 lalu. Disana, dia menanti pembeli produk aksesoris yang dibuatnya. Mulai dari kalung, gelang hingga asbak. Kerajinan itu dibuat dari berbagai bahan, seperti tulang sapi dan kayu.

DIKIRIM KE BALI: Kerajinan yang dibuat yang dibuat oleh warga Jember sudah dipasarkan di Bali (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Agus rutin mengirim kerajinan  itu ke Bali setiap bulannya. Namun, beberapa bulan terakhir permintaan menurun.  Permintaan ramai ketika ada jumlah wisatawan ke Bali meningkat. “Kalau kunjungan wisatawan banyak, penjualan juga meningkat,” katanya.

Begitu juga dengan Yoyok Iswoyo, pelukis asal Jember yang rutin mengirim karyanya ke Bali. Lukisan itu merupakan pesanan dan permintaan galery untuk dijual pada wisatawan. Sebulan sekali, dia mampu mengirim 40 lukisan, ukuran besar dan kecil.

Dua pelaku kerajinan itu tak mengerti bila akan ada pertemuan akbar di Bali. Yakni  pertemua IMF dan WBG. Kegiatan penting itu  bakal dihadiri oleh 15 ribu wisatawan dari seluruh dunia. “Semoga saja permintaan kerajinan juga meningkat,” harapnya.

KARYA SENI: Lukisan karya para pelukis Jember juga rutin dikirim ke Bali setiap bulannya (Bagus Supriadi/Radar Jember)

Kegiatan itu memang tidak memiliki dampak yang terlihat bagi warga Jember. Namun, memberikan secercah harapan bagi para pengrajin yang terbiasa mengirim produknya ke Bali. “Jelang IMF,  permintaan kerajinan dari Jember ke Bali pasti bertambah,” tambah Rueko Joko Nugroho, ketua Jember Entrepreneur Community (JECO).

Sebab, Jember memiliki banyak produk yang dipasarkan di Bali. Tak hanya kerajinan berupa souvenir dan aksesoris. Namun, juga lukisan karya para seniman Jember juga dikirim kesana. Momentum ini harus menjadi kesempatan bagi para pelaku IKM untuk meningkatkan kreatifitasnya.

Rueko berharap para pelaku bisnis bisa memanfaatkan kesempatan tersebut. Sebab, seringkali warga Jember tak bisa menggunakan momentum itu dengan baik. Seperti event Jember Fashion Carnaval (JFC) yang digelar setiap tahun. “Padahal itu momentum untuk memasarkan dan menjual produk,” tuturnya.

“Kami sudah siap untuk dikunjungi oleh para peserta itu,” tambah Dedi Winarno, kepala bidang pengembangan produk obyek wisata Disparbud Jember. Jember sudah memenuhi empat kriteria pariwisata. Yakni apa yang harus dilihat, apa yang harus dikerjakan, apa yang harus dibeli, kemudian dimana akan tinggal.

“Jujur saja, sebagian cindera mata, handycraft yang ada di Bali, dijual di Bali,” paparnya. Di Jember sudah ada kampung kerajinan, yakni di Desa Balung Tutul. Pertemuan itu akan memberi dampak bagi warga Jember, terutama bagi para pelaku kerajinan dan pariwisata.

Hestu Wibowo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember mengatakan  15 ribu  tamu yang hadir dalam acara merupakan orang penting.  8 ribu orang seperti kepala bank central hingga mentri. Selebihnya adalah para pelaku bisnis yang memanfaatkan moment penting tersebut.

“Misalnya pengusaha dari Jepang, ketemu dengan menteri dari Inggris,” ucapnya. Pertemuan itu menjadi ajang bagi para pebisnis untuk membangun jaringan  bisnis.

Contoh lain,  menteri dari Inggris datang, kemudian ada pengusaha yang ingin bertemu dengannya di Bali. “Ada side event yang bisa digunakan ketika orang-orang penting itu datang ke Bali. Hal itu sangat disayangkan bila terlewati tanpa makna,” papar Hestu.

Siang hari peserta mengikuti acara, namun saat malam, mereka bisa mengadakan pertemuan non formal untuk membahas hal tertentu. “Kalau datang ke Bali tidak hanya rapat, bisa jalan-jalan juga,” ujarnya.

Dia menjelaskan forum pertemuan internasional  itu menjadi wadah untuk mempromosikan Indonesia ke dunia. Taglinenya adalah voyage to Indonesia. Para  tamu akan menghabiskan uang di Bali dan daerah sekitarnya. Mulai dari menginap di hotel, makan, belanja dan berkunjung ke tempat wisata.

Selain itu, lanjut dia, Kegiatan ini bisa meningkatkan pendapatan devisa negara. Daerah yang cukup merasakan dampaknya adalah Kabupaten Banyuwangi. “Yang mendapat tetesan acara ini salah satunya  Banyuwangi dan daerah sekitar,” akunya.

Beberapa waktu lalu, aku dia, Bupati Banyuwangi Azwar Anas sudah diundang ke Washington DC untuk menjelaskan potensi Banyuwangi.  Harapannya, setelah selesai acara, peserta bisa jalan-jalan ke Banyuwangi. Bahkan  bisa melanjutkan perjalanan ke Jember.

Kesempatan ini menjadi momentum untuk meningkatkan perekonomian. Potensi wisata Banyuwangi, Jember Probolinggo dan Bondowoso bisa ditawarkan dan dijual sehingga dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat luas.

Peluang Jangka Panjang dan Pendek

Pengamat ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jember Adhitya Wardhono menambahkan ada dua peluang yang bisa diambil dari pertemuan itu. Peluang jangka panjang dan jangka pendek. Para pemangku kebijakan daerah hingga pelaku usaha harus cerdas menangkap peluang itu.

Pria yang akrab disapa Adhit ini mewakili  Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jember sebagai regional maker datang ke Bali. Dia bersama beberapa pegawai BI mengikuti  undangan pre conference, melihat kondisi pertemuan di Nusa Dua, Bali.

Adhit melihat langsung persiapan kegiatan yanga akan dihadiri oleh 189 negara itu. Todal dari  jumlah 194 negara di dunia, ada  lima negara yang tidak ikut. Pertemuan itu akan dihadiri oleh kepala bank central, Ceo perusahaan, Menteri, NGO, akademisi bahkan anggota palermen dan ribuan jurnalis internasional.

“Jika hanya mengambil manfaat jangka pendek, sangat gampang,” ucapnya. Namun dirinya tidak terjebak kesana. Sebab, ada peluang besar yang bisa diambil dalam jangka panjang yang  berimbas pada kemajuan ekonomi.

Bagi dia, pertemuan itu menjadi etalase indonesia bagi dunia. Lebih dari  2000 pertemuan akan dilakukan antar investor. Dua hari konferensi utama, namun ada konferensi lain yang penting.  “Kalau jangka pendek, manfaat ke Bali  jelas. Ada perputaran uang Rp 5 triliun,” ungkapnya.

IMF juga akan menghadirkan toko-tokoh penting di dunia. Kemudian para investor dari berbagai bidang. Mulai dari  sektor pariwisata, pertambangan, industri farmasi dan lainnya. Hal ini bisa dibaca bahwa nanti akan ada geliat ekonomi jangka panjang yang masuk ke Indonesia.

Mereka akan datang bersama kolega keluarganya, berkunjung ke tempat wisata di beberapa daerah. “Pemerintah  sudah menyiapkan 50 destinasi wisata di  luar Bali, misal Jogja, Gunung Ijen, Bromo dan lainnya” tutur pria berkacamata ini.

Untuk itu, momentum ini harus mampu ditangkap oleh pemangku kepentingan di setiap kabupaten. Misal mempersiapkan tranposrtasi dan kuliner. Ini akan menjadi akses untuk meningkatkan ekonomi. “Dalam jangka pendek, peserta akan mengunjunginya,” ujarnya.

Peluang lain yang bisa diambil Jember, yakni melihat kebutuhan Bali sebagai destinasi wisata. Apakah barang yang dijual disana sudah memadai, jika kurang maka Jember harus siap mensuplai kebutuhan itu. Karena Adhit yakin, barang yang dijual disana, diproduksi diluar daerah.

“Jadi jangan berpikir kalau IMF ada dibali, kita tidak dapat apa-apa,” tegasnya. Kegiatan itu tidak harus ada di Jawa Timur, tapi daerah lain mampu menjadi ruang pendukung yang besar, misal dari sektor pariwisata. Inilah yang harus mampu dibaca oleh pemangku kepentingan di Jember, seperti bupati.

Produk UKM daerah lain harus siap mendukung untuk kebutuhan di Bali. Tidak harus produk wisata, namun bila  kebutuhannya pangan, Jember bisa mengirim, misal beras.  “Cara berpikir seperti itulah yang harus dimiliki dalam membaca peluang pertemuan IMF-World Bank di Bali,” imbuhnya.

Beberapa agenda yang akan dibahas dalam pertemuan itu meliputi ketimpangan ekonomi. dampak perubahan iklim pada perekonomian serta isu korupsi dan lainnya. Bila hasil pertemuan itu dijabarkan ke daaerah, akan terbaca peluangnya.

PRODUK UNGGULAN: Cerutu merupakan produk lokal Jember yang sudah dipasarkan ke berbagai daerah hingga luar negeri (Dokumen radar Jember)

Contoh, Jember sebagai kota tembakau. Ada proses penanaman hingga menghasilkan produk sendiri, seperti cerutu. Selama ini, ada banyak tantangan dari sektor tembakau karena perubahan iklim. Seperti erupsi gunung raung yang menganggu tanaman.

Hasil pertemuan IMF-World bank itu bisa dijabarkan pada kebijakan yang ada di do setiap kabupaten. Sebagai acuan untuk meningkatkan kemajuan ekonomi masing-masing. “Jember bisa mendapatkan keuntungan kalau berpikir lebih jauh,” terangnya.

Apalagi Jember memiliki  berbagai potensi, mulai dari perkebunan, pertanian, pariwisata hingga produk UKM yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Event ini  momen untuk membangun destinasi yang lebih elok dari daerah  lain.

Para pimpinan daerah harus bermain cantik dengan pimpinan daerah lain. Mulai dari Jember, Bondowoso, Banyuwangi, Situbondo dan lainnya. Sebab semua akan mendapat keuntungan kalau memliki persepsi yang sama.

Ketika ada pemahaman bersama untuk menangkap peluang acara IMF-World Bank, secara otomatis  ada pembenahan infrastruktur. “Bagaimana bisa mendatangkan peserta berwisata ke Banyuwangi hingga ke daerah lain, bagaimana tranportasi tersambung antar kabupaten  agar mereka datang,” terangnya.

“Saya pikir sekarang kita harus menyatukan pemahaman bersama,” imbuhnya. Sebab, masih ada yang menganggap bahwa IMF sebagai sesuatu yang tidak mengenakkan bagi sejarah perekonomian Iindonesia. IMF dinilai pemberi hutang yang mencekik leher negara-negara. Padahal  harus memahami keberadan IMF  lebih arif.

Yakni perekonomian Indonesia terintegrasi dengan perekonomian negara lain di dunia. Indonesia tidak hidup sendiri. Semua saling terpengaruh satu sama lain. “Ruang berpikir ini juga harus sama di tingka kabupaten,” pungkasnya.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :