Salahi Izin Tinggal dan Overstay, Tiga WNA Dideportasi

ram/Radar Jember DIPULANG : Kantor Imigrasi Kelas II Jember memulangkan tiga warga asing asal Jerman dan Thailand.

RADARJEMBER.ID-Kantor Imigrasi Kelas II Jember, kemarin siang (10/8) secara resmi memulangkan alias mendeportasi tiga warga negara asing ke negaranya. Dua di antaranya karena overstay alias melebihi izin tinggal. Sedangkan satu lainnya karena menyalahi izin tinggal yang diberikan.

Ruangan di Kantor Imigrasi kemarin memang cukup heboh. Terutama saat berada di ruang interogasi. Ada seorang perempuan bule yang terlihat masih emosi. “Saya bukan kriminal, ini bukan kasus kriminal. Saya tidak mau,” tutur perempuan itu kepada petugas. Namun, bule ini tidak berkenan untuk wawancara langsung dengan media.

Petugas kemarin pun mengarahkan untuk langsung menyampaikan persoalannya kepada Kartana, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Jember. Selain bule tersebut, ada dua laki-laki WNA yang terlihat menggunakan sarung, berbaju busana muslim, dan memakai songkok layaknya seorang santri. Mereka berdua lebih kooperatif, namun lebih banyak diam.

Ketiga WNA inilah yang kemarin secara resmi akan dipulangkan ke negara asalnya. Dua WNA yang dipulangkan karena overstay yakni Kusoi Kuna dan Al-Imron Sa Mae, warga Negara Thailand. “Kemudian, seorang wanita warga negara Jerman, Daniela Hempel yang menyalahi izin tinggal di Indonesia,” ujar Kartana, Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Jember dalam rilis kepada sejumlah media, kemarin.

Menurut Kartana, ketiga WNA ini diamankan karena hasil dari laporan tim pengawasan orang asing (Pora). Mereka tidak diizinkan tinggal di wilayah Indonesia karena melanggar aturan tinggal di Indonesia. “Atas tindakannya yang melakukan pelanggaran izin tinggal, sesuai dengan Pasal 78 ayat 3 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian,” tegas Kartana.

Dua pria WNA asal Thailand sebenarnya datang ke Indonesia secara legal melalui Bandara Internasional Juanda. “Mereka datang pada 12 Juli 2017 menggunakan visa kunjungan,” jelasnya. Padahal, seharusnya dengan visa kunjungan ini, maka batas tinggalnya hanya sekitar 60 hari.

Namun, keduanya ini melebihi masa tinggal tersebut. Bahkan, lebih dari setahun tinggal di Indonesia. Mereka selama ini memang bukan tinggal di rumah warga seperti WNA lainnya. Namun, keduanya sedang menempuh pendidikan agama. Yakni berada di Pondok Pesantren Wali Songo, Situbondo, untuk mengikuti kegiatan pendidikan.

“Saat tiba di pondok, keduanya menyerahkan dokumen paspornya kepada pengasuh pondok, sehingga tidak tahu jika izin tinggalnya berakhir,” terangnya. Berdasarkan hitungan dari petugas imigrasi, mereka menyalahi izin tinggal cukup lama, yakni sekitar 327 hari dibandingkan dengan batas tinggal yang diizinkan, karena menggunakan visa kunjungan tersebut.

Karena pelanggaran tersebut, kedua WNA itu akan mendapat tindakan administratif. “Kami deportasi kembali ke negara asalnya,” jelasnya. Sedangkan untuk Daniela Hempel, ternyata kesalahannya bukan overstay seperti kedua WNA dari Thailand. Daniela diketahui datang ke Indonesia melalui Bandara Juanda juga sejak setahun silam.

Daniela datang sekitar 27 Juni 2017 lalu dengan menggunakan visa kunjungan. Wanita ini diamankan oleh petugas Pora saat berada di kediamannya yang berada di Licin, Kabupaten Banyuwangi. “Dia di sana mengelola tempat wisata rumah pohon bernama Ijen Shelter yang disewakan kepada wisatawan lokal dan asing,” jelas Katana.

Tentu, dirinya dianggap melanggar karena izinnya datang ke Indonesia dengan visa kunjungan, namun malah melakukan kegiatan bisnis. Oleh karena itu, perlu dilakukan tindakan tegas administratif, karena yang dilakukan oleh wanita itu di Indonesia dinilai layaknya seorang investor di Indonesia.

Dengan demikian, yang dilakukan Daniela ini diduga membahayakan keamanan dan ketertiban umum, serta melanggar Pasal 75 Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian. “Bukan hanya dikenakan tindakan administrasi keimigrasian berupa deportasi dan pencekalan,” pungkasnya.

Reporter : Rangga Mahardika, Jumai
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.
Fotografer: Rangga Mahardika

 

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :