Perjuangan Si Kembar Menggapai Kampus Unej

DOKUMEN PRIBADI BANGGA: Devi (kanan) dan Desi (kiri) mengapit ibunya yang menjadi satu-satunya harapan dan dukungan moral untuk studinya.

RADARJEMBER.ID- Suasana di halaman Gedung Soetardjo, Kampus Tegalboto, Universitas Jember terlihat ramai oleh calon mahasiswa baru (camaba) yang sedang mengantre untuk mengikuti kegiatan verifikasi dan registrasi Mahasiswa Baru Universitas Jember dari jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2018 pekan lalu.  Beberapa calon mahasiswa baru tersebut tampak didampingi oleh orang tuanya masing-masing.

Rona bahagia dan lega pun terpancar dari wajah mereka, sebab akhirnya perjuangannya membuahkan hasil. Salah satunya adalah si kembar yang memiliki nama lengkap Desi Isdayatul Coiru Nisa dan Devi Isdayatul Coiru Nisa.  Kembar identik kelahiran 26 November 1999 tersebut, merupakan lulusan SMAN 1 Durenan, Trenggalek, yang berhasil lolos masuk kampus Tegalboto melalui Jalur SBMPTN 2018. Tampak rona bahagia keduanya saat menceritakan perjuangannya hingga berhasil diterima di Universitas Jember (Unej).

“Kami belajar siang malam. Bahkan setiap hari kami begadang sampai jam satu malam agar bisa lolos di jalur SBMPTN, dan diterima di Unej ini,” ujar Desi, yang merupakan sang kakak, mengawali kisahnya. Itu dilakukan terutama setelah sang ayah, Mahmudi, tiada lagi mendampinginya sejak usia SMP. Padahal, saat itu keduanya menginjak usia yang sangat membutuhkan pendampingan, bimbingan, manja-manjanya pada sang ayah. “Bapak meninggal karena sakit leukemia,” kenangnya.

Semasa hidupnya yang pas-pasan, sang ayah selalu berharap agar kedua puteri kembarnya itu kelak bisa menjadi “orang” yang lebih baik nasibnya. Dan, itu satu-satunya harus ditempuh dengan memiliki ilmu memadai, seperti kuliah. Sebab, sang ayah dan ibu hanyalah tamatan SD yang tak mampu mengubah nasib hidupnya, kecuali hanya kuli bangunan dan berjualan reyek (wadah ikan dari bambu). “Harapan itulah yang selalu kami ingat dan harus diwujudkan,” imbuh Devi, sang adik.

Sebenarnya, harapan sang ayah bukan ditujukan kepada putri kembarnya itu saja. Kepada kakak tirinya, Sunaryo, juga sama. Yakni, ingin sang kakak bisa kuliah. Dan, itu hampir terealisasi ketika mendapat beasiswa dari sebuah perguruan tinggi. Namun karena hanya 50 persen dari jumlah kebutuhan kuliah, akhirnya tidak dilanjutkan. Kini, sang kakak pilih bekerja di perantauan, Jambi.

Terpacu oleh keinginan luhur dan mulia sang ayah itulah, akhirnya Desi dan Devi meneguhkan hati agar bisa kuliah seperti yang diimpikan sang ayah. Demikian pula, Giyem, 55, sang ibu, terus menyemangati wasiat suaminya, Mahmudi, agar bisa menguliahkan putri kembarnya itu. Padahal, sebagai pembuat reyek rumahan, tentu saja Giyem merasa berat merealisasikan keinginan suami. Apalagi, penghasilan dari kerajinan reyek tersebut hanya cukup untuk mempertahankan hidup sehari-hari.

“Kadang mendapat penghasilan satu juta (rupiah, Red), kadang lebih, atau kadang malah kurang dari itu sebulan,” tutur Desi, yang selalu membantu pekerjaan sang ibu bersama adiknya, Devi, usai sekolah. Bahkan pekerjaan itu sering dilakukan hingga malam, demi mencapai target tertentu. Apalagi pekerjaan (warisan almarhum ayahnya) itu harus dilakukan sendiri oleh sang ibu, bersama kedua anaknya yang masih berusia remaja. Tentu saja, harapannya agar ada sisa lebih untuk bisa ditabung, demi kelangsungan studinya.

Bagaimana membagi waktu antara belajar dan kewajiban membantu orang tua? Kata Desi, itu dilakukan dengan baik dan ikhlas. Jika membantu pekerjaan sang ibu hingga jam sepuluh malam, maka belajarnya setelah itu. Bahkan hingga sampai dini hari. Keduanya mengaku tak sempat menikmati liburan atau jam-jam istirahat, seperti umumnya kawan sekolah lainnya. Sebagai hamba yang beriman, tentu saja Desi dan Devi tak melupakan kewajiban vertikal, termasuk salat malam dan puasa sunnah.

Di Unej, Devi diterima di jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) FKIP, sementara Desi diterima prodi Ilmu Administrasi Bisnis, FISIP. Pilihan tersebut merupakan pilihan pertama dari masing-masing kakak-adik itu. Desi ingin berkerja di bidang pendidikan, sedangkan adik kembarnya lebih tertarik dengan bidang ekonomi dan sosial. “Nah itu alasan mengapa saya dan adik saya memilih beda jurusan,” jelasnya.

Kata Desi, sejak awal keduanya memang mengincar Universitas Jember sebagai pilihan pertama, karena mereka percaya dengan kualitas kampus yang kini berakreditasi A tersebut. “Kami berdua memang ingin sekali kuliah di Unej. Bahkan sejak awal kami sudah bermimpi untuk kuliah di sini (Unej, Red),” akunya.  Mereka mencari banyak informasi dari kakak kelasnya mengenai profil kampus yang berusia 52 tahun itu.

Situasi kampus yang kondusif untuk proses belajar membuat keduanya yakin bisa melabuhkan pilihan di kampus Tegalboto tersebut. Keduanya diterima di Unej dengan fasilitas beasiswa Bidikmisi. Yakni, biaya kuliah khusus bagi keluarga miskin, namun berprestasi, hingga tamat kuliah kelak. Diakui tak banyak kawan seangkatannya mendapat peluang untuk kuliah via program khusus bidikmisi tersebut.

Di akhir wawancara, Desi dan Devi mengaku dorongan para guru di sekolah juga amat besar, Yakni, selama sekolah, banyak gurunya memberi motivasi dan membimbingnya agar menjadi siswa yang berprestasi, dan mampu mewujudkan impiannya orang tua. Tak heran, kata Devi, jika para gurunya, baik di sekolah maupun guru ngajinya, merasa bangga dan bergembira mendengar keduanya diterima di perguruan tinggi negeri.

Dari kisah perjalanan dia atas, keduanya bertekad serius menempuh pendidikan yang jauh dari sang ibu dan kerabatnya itu. Pasalnya, mereka yakin pendidikan diharapkan akan menjadi sarana memperbaiki kondisi keluarga. Keduanya akan berusaha keras untuk rajin kuliah demi masa depan yang lebih baik. Keduanya sangat berharap dengan berkuliah di Unej dapat menjadi pribadi-pribadi yang unggul, menjadi lulusan yang berprestasi, serta bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. “Kami ingin dapat mengangkat perekonomian keluarga. Dan, yang paling penting dapat membuat ibu bangga,” tutur Desi dan Devi, terharu.

Reporter : M. Shodiq Syarif
Editor Bahasa: Yerri A Aji

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :