Rp 1,7 Juta untuk Cara Pintas agar Gugatan Cepat Diproses

RADARJEMBER.ID – Angka perceraian di Jember relatif tinggi. Data di Pengadilan Agama Kabupaten Jember 2017 lalu ada 5.740 surat cerai dikeluarkan. Setahun sebelumnya, 5.707 kasus cerai dikabulkan.

Penyebab perceraian tersebut macam-macam. Terbanyak persoalan ekonomi. Pada 2017, dari total kasus perceraian, 2.962 di antaranya karena persoalan ekonomi. Kemudian disusul akibat salah satu pihak meninggalkan pasangan dan pertengkaran yang tak berujung. Sedangkan akibat kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) relatif sedikit hanya 24 kasus.

Yang mengejutkan, dari sekian banyak kasus itu, tak sedikit dari penggugat yang memilih jalan pintas dalam mendapatkan surat cerai alias beli. Sebut saja Rere (nama samaran). Ibu dua anak asal Jember selatan ini terpaksa menggugat cerai suaminya. Supaya tak repot, dia memakai jalan pintas.

Kepada radarjember.id, perempuan 34 tahun itu menceritakan alasannya menggugat cerai suaminya, medio 2016 lalu. Menurutnya, lebih dari setahun, lelaki yang dikenalnya saat kuliah di Surabaya itu tak pernah pulang ke rumah. Ia pamit bekerja ke luar Jawa untuk mencari nafkah.

Namun, selama itu, tak ada kabar atau kiriman uang untuk menafkahi dirinya, serta dua anak mereka yang salah satunya sudah mulai masuk sekolah dasar. “Kemudian saya terpaksa membeli surat cerai sendiri. Saya nekat datang ke pengadilan agama,” katanya.

Awalnya, dia sempat bingung bagaimana cara menggugat suaminya ke pengadilan. Jika harus melalui modin di desa, dia merasa malu, karena khawatir perceraian itu di ketahui oleh tetangga. Dalam kondisi galau tersebut, Rere meminta bantuan salah seorang saudaranya untuk mengantarkan ke Pengadilan Agama (PA) Jember.

Dia mendaftarkan gugatan itu sendiri. “Saat itu, saya dibantu oleh petugas di pengadilan. Proses sidang saya bisa lebih cepat, asal mau membayar lebih,” akunya. Dari sinilah, praktik percaloan gugatan cerai itu dimulai.

Rere menuturkan, jika melalui jalur normal, dirinya cukup membayar Rp 650 ribu. Tetapi prosesnya lama, sekitar empat hingga lima bulan. Itu karena pihak lelaki tak ada di rumah. Jadi, proses sidangnya melalui mekanisme sidang gaib, alias sang suami tak diketahui rimbanya.

Sementara jika melalui “jalur pintas”, dirinya harus mengeluarkan kocek cukup banyak yang mencapai Rp 1.700.000. Tetapi ada garansi. Prosesnya lebih cepat, tak sampai dua bulan sudah kelar. Di antara dua opsi itu, Rere memilih “jalur pintas”. “Namun saya tetap ikut proses sidang sebagaimana mestinya. Juga menghadirkan saksi. Hanya saja, prosesnya lebih cepat,” tuturnya.

Rere mengaku, melalui bantuan petugas berinisial Y tersebut, dirinya mendapat kemudahan. Misalnya, waktu persidangan dia diingatkan lewat pesan singkat. Tak hanya itu, proses gugatan yang seharusnya memakai sidang gaib, juga diakali dengan menyebutkan bahwa pihak lelaki ada di rumah. Hanya saja, alamatnya dipalsukan.

Sehingga, kesan yang muncul, alamat dan keberadaan suaminya itu diketahui, tetapi sengaja dia tak menghadiri sidang. Dengan begitu, waktu sidang hingga putusan yang seharusnya lebih lama, bisa dipersingkat. Sebab, pihak lelaki dianggap mengacuhkan panggilan sidang tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, hakim bisa langsung memutus perkaranya dengan putusan verstek, alias tanpa kehadiran tergugat. Semua ini telah diatur oleh petugas yang berinisial Y tersebut. “Saya kira, bagi wanita yang bekerja, cara yang begini ini sangat membantu,” ucapnya.

Model gugatan cerai ala Rere ini, menjadi salah satu penyumbang besarnya angka cerai gugat yang dilayangkan perempuan, dibandingkan cerai talak yang diajukan oleh pihak laki-laki. Selain pola seperti ini, ada juga model lain. Yakni kesepakatan antara kedua belah pihak, bahwa yang maju ke pengadilan adalah pihak perempuan. Namun tetap dalam konteks putusan verstek.

MS, salah seorang mantan modin di Jember selatan mengungkapkan, biasanya sebelum sepakat bercerai, problem rumah tangga itu dibawa ke modin. Sehingga, modin di desa memberi nasihat terlebih dulu agar niatan berpisah itu diurungkan.

Namun, jika sudah tak bisa dipersatukan kembali, maka jalan terakhirnya adalah pihak perempuan yang diminta mengajukan gugat cerai. “Sebab, kalau perempuan yang mengajukan gugatan, prosesnya lebih cepat. Asalkan pihak lelaki bersedia tidak menghadiri sidang,” ungkapnya.

Hal seperti ini menjadi fenomena gunung es. Masih banyak modin lain yang melakukan praktik serupa. MS juga mengakui, teman-temannya sesama modin juga melakukan hal yang sama. Sebab, kata dia, suami atau istri yang sedang berperkara tak ingin masalahnya bertambah rumit. Mereka lebih suka memilih cara instan, agar proses perceraian yang dilakukan cepat rampung. “Biasanya mereka pasrah, yang penting dapat surat cerai,” tandasnya.

1. Rp 1,7 Juta untuk Cara Pintas agar Gugatan Cepat Diproses

2. Sewa Pemeran Penggugat Jadi Cara Ampuh

3. Pengadilan Agama: Nggak Ada Itu Jual Beli Surat Cerai

Reporter : Rully Efendi, Mahrus
Fotografer: Dwi Siswanto
Editor : MS Rasyid
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :