Etanan, Film Narasi Karya Mahasiswa tentang Jember

29
Humas Universitas Jember for Radar Jember KARYA ANAK DAERAH: Suasana diskusi dan pemutaran Etanan di bioskop Jember. Foto lain, dari kiri ke kanan, Alfian Parahita, Riandhani Yudha Pamungkas, dan M. Sudrajat yang menjadi ‘otak’ di balik film Etanan.

RADARJEMBER.ID-Film dibuka dengan keindahan alam Gunung Bromo, kemudian dilanjutkan dengan pemandangan eksotis dari pantai Watu Ulo, Gunung Ijen, air terjun Madakaripura, dan destinasi wisata lainnya di wilayah Tapal Kuda. Selain menampilkan destinasi wisata, muncul potensi industri di Tapal Kuda dan tentu saja potensi sumber daya manusia yang diwakili oleh keberadaan Universitas Jember.

Tidak berhenti di segi potensi saja, film ini juga menampilkan tantangan yang masih dihadapi oleh wilayah Tapal Kuda. Seperti akses pendidikan yang belum merata hingga ekses negatif dari industrialisasi.

Seluruh potongan video tersebut disatukan dalam karya film apik bertajuk Etanan. Sebuah film hasil karya tiga mahasiswa Program Studi Televisi dan Film (PSTF) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jember, yaitu Riandhani Yudha Pamungkas, M. Sudrajat, dan Alfian Parahita.

Nama Riandhani memang bukan nama yang asing lagi dalam prestasi perfilman mahasiswa Jember. Sebelumnya, pada 2016 lalu dirinya beserta rekan-rekannya juga menjuarai kompetisi video sebuah brand nasional. Karyanya yang menampilkan perjalanan komunitas motor trail berhasil memikat hati dewan juri dan mengalahkan ratusan film pendek lainnya dari seluruh penjuru Indonesia.

Hadiah uang tunai dari lomba tersebut menjadi sumber pembiayaan film Etanan ini. Film tersebut merupakan tugas akhir studi mereka yang sengaja diputar di bioskop lokal selama dua hari pada 30 Juni dan 8 Juli lalu.

Ide awal pembuatan film Etanan berasal dari potensi daerah Tapal Kuda atau Besuki Raya yang melimpah, namun belum dimanfaatkan secara maksimal. Baik potensi pertanian, wisata, hingga sumber daya manusia.

Namun, di sisi lain, ketiga mahasiswa ini tidak ingin menggurui penonton. Tak heran jika dalam film dokumenter tersebut sengaja dibuat hanya menampilkan gambar saja. Dalam kajian film dokumenter, garapan mereka bertiga masuk dalam kategori association picture story. “Silakan penonton yang menafsirkan sendiri,” tutur Sudrajat.

Masing-masing menjalankan tugasnya sendiri. Rian bertugas sebagai sutradara sekaligus pencetus ide dan naskah. Sementara Sudrajat atau lebih akrab disapa Ipung sebagai editor, dan Alvian didapuk sebagai pengambil gambar. Tak tanggung-tanggung, waktu pengerjaan film berdurasi 45 menit ini mencapai empat tahun. “Dua tahun untuk mencari data dan mempelajarinya, serta dua tahun untuk proses pengambilan gambar dan editing,” kata Alfian.

Rian mengaku, ada berbagai kesulitan yang mereka hadapi selama proses pembuatan film. Hal tersebut membuat masa studinya sempat molor hingga mencapai enam tahun. “Di tahapan praproduksi, yang paling sulit itu menerjemahkan data menjadi bentuk gambar. Sementara di tahap produksi kesulitan yang dialami adalah pada saat harus mengambil gambar di lokasi-lokasi yang belum tersentuh infrastruktur,” kata Rian.

Meski demikian, mereka layak berbangga, usaha ketiganya tak sia-sia. Pengorbanan tenaga, waktu, dan materi terbayar lunas setelah mendapatkan apresiasi, baik dari dosen penguji maupun penonton yang hadir di bioskop. Ipung menjelaskan, setelah mengikuti ujian pendadaran, mereka diuji oleh penonton yang penasaran dengan film mereka. “Alhamdulillah lulus keduanya,” imbuhnya.

Tak tebersit sama sekali dalam benak Rian dkk untuk menayangkan film karya mereka di bioskop lokal. Umumnya tugas akhir atau skripsi mahasiswa hanya dipertontonkan dalam kelas atau selama ujian berlangsung. Walau begitu, langkah mereka memproduksi film Etanan ternyata banyak mendapatkan dukungan dan apresiasi.

Tidak hanya dari kalangan internal kampus saja, dukungan juga datang dari luar kampus. Banyak pihak yang bersedia membantu penyelesaian film mereka, sekaligus memublikasikan film mereka melalui beragam jalur. “Termasuk pihak bioskop yang bersedia memutar film kami, padahal awalnya sempat nggak pede untuk diputar di bioskop, tetapi pihak manajemen ternyata mendukung penuh,” kata Ipung.

Saat diputar pertama kali di bioskop lokal akhir Juni lalu, semua kursi nyaris terisi penuh. Usai film diputar, tak sedikit penonton yang mengajukan pertanyaan. “Rata-rata menanyakan mengapa tanpa narasi sama sekali, padahal ini film dokumenter yang bertujuan menjelaskan sesuatu. Kedua, banyak yang tanya bagaimana cara dan proses pengambilan gambar, hingga film Etanan banyak menampilkan gambar-gambar yang indah,” imbuh Alfian.

Bakat Rian dkk dalam memproduksi film ternyata sudah menarik minat beberapa production house di ibu kota. Tak hanya itu, mereka juga sudah menjadwalkan road show pemutaran film Etanan di beberapa kota. “Mimpi kami ingin mendaftarkan film Etanan ke Festival Film Cannes tahun 2019 nanti,” pungkas Rian.

Reporter : Lintang Anis Bena Kinanti
Editor : MS Rasyid Winardi
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.

Reporter :

Fotografer :

Editor :