Enam Pasien Hipospadia Operasi Gratis di RSBS

58
Operasi Kasus Hipospadia: Proses Operasi Gratis Kasus Hipospadia di Rumah Sakit Bina Sehat Jember

RADARJEMBER.ID- Enam anak penderita kelainan bawaan pada lubang uretra atau saluran kemih (hipospadia) mendapat giliran operasi gratis di RS Bina Sehat, Sabtu – Minggu akhir pekan lalu. Untuk kasus ini, ditangani oleh dua dokter sekaligus, yaitu dr Septa Surya Wahyudi SpU dan dr Rameshdo Yuanda SpU.

Menurut dr Septa Surya Wahyudi, hipospadia adalah kelainan bawaan lahir pada anak laki-laki, yang dicirikan dengan letak abnormal lubang kencing. Yakni, letaknya tidak di ujung kepala penis seperti layaknya, tetapi berada lebih bawah/lebih pendek. Sebagian besar anak dengan kelainan hipospadia memiliki bentuk batang penis yang melengkung.

Jika kelainan bentuk ini tidak diperbaiki dengan tindakan operasi, penderita akan mengalami gangguan fungsi berkemih. Yakni, berupa arah dan pancaran berkemih yang tidak normal,” papar dokter spesialis urologi yang praktik di RS Bina Sehat Jember ini.

Sementara itu, dr Rameshdo Yuanda menambahkan, penanganan bagi penderita hipospadia sebenarnya dapat dilakukan kapan saja. Akan tetapi, sebaiknya dilakukan saat pasien belum masuk pada usia sekolah. Hal tersebut karena dikhawatirkan pasien akan mengalami penurunan rasa percaya diri karena kelainan bawaan yang dialami.

“Untuk proses pengerjaan, biasanya membutuhkan waktu kurang lebih selama dua jam. Sedangkan proses perawatan pascaoperasi membutuhkan waktu sekitar dua pekan. “Itu juga menjadi salah satu pertimbangan agar pasien dioperasi sebelum masuk usia sekolah,” imbuh dokter akrab disapa Edo itu.

Poniyem, 45, orang tua dari Raditya, 12, mengaku sangat bersyukur anaknya sudah dioperasi secara gratis. Diceritakan bahwa kelainan bawaan putra bungsunya itu sebenarnya sudah diketahui sejak dilahirkan. Akan tetapi, penghasilan suaminya yang bekerja sebagai buruh tani membuatnya pasrah. Bahkan, kondisi yang tak normal itu sempat menurunkan rasa percaya diri anaknya.

“Bolak-balik Radit minta dioperasi, malu katanya. Tapi ya saya cuma bisa bilang untuk sabar dulu. Dalam kondisinya yang begitu, dia tetap semangat, malah bercita-cita mau jadi pemain bola,” terang warga Tempurejo itu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rosidah, 36. Fatir adalah anak lelaki satu-satunya dan telah dinantikan selama 10 tahun. Namun, dua minggu setelah melahirkan Fatir, dia mengetahui ada yang tidak beres pada saluran kencing putranya. Kekhawatiran pun dia rasakan. Namun, lagi-lagi alasan perekonomian yang terbatas membuatnya juga harus membatasi usaha dalam mengobati Fatir.

“Tiap waktu saya berdoa, meminta sama Allah SWT. Ternyata dijawab sekarang. Itu pun juga karena dibantu Pak Rudi (relawan) untuk didaftarkan ke RS Bina Sehat. Pokoknya sangat Alhamdulillah sekali anak saya bisa dioperasi,” ucapnya penuh syukur.

Editor : M. Shodiq Syarif
Editor Bahasa: Imron Hidayatullah.

Reporter :

Fotografer :

Editor :