Harga Telur karena Faktor Cuaca Ekstrem

11
WAWAN DWI/RADAR JEMBER TETAP MURAH: Telur sortiran mulai dari yang kulit retak hingga isi telur dibungkus plastik jadi pilihan masyarakat di tengah harga telur ayam ras yang melambung.

RADARJEMBER.ID- Lonjakan kenaikan harga telur yang terjadi sejak beberapa hari yang lalu, sempat menjadi polemik di media sosial. Ini salah satunya dipicu pernyataan dari Menteri Perdagangan Enggartiarto Lukito yang menyebut harga telur naik karena pengaruh Piala Dunia 2018. Menurut menteri asal Partai Nasdem tersebut, selama demam Piala Dunia, banyak masyarakat yang menyaksikan bola sembari mengonsumsi telur atau makanan berbahan telur.

Namun, pendapat berbeda dikemukakan oleh pakar peternakan dari Politeknik Negeri Jember (Polije), Budi Prasetyo. Kenaikan harga telur lebih disebabkan faktor yang lebih fundamental, yakni perubahan cuaca ekstrem selama beberapa bulan terakhir.

“Selama hampir tiga bulan terakhir, cuaca ekstrim, tidak menentu. Sekarang ini kemarau tidak, hujan juga tidak,” jelas Budi Prasetyo. Kondisi perubahan cuaca yang tidak menentu ini, menurut Budi sangat berpengaruh pada kondisi peternakan ayam penghasil telur. Banyak ternak ayam yang mati karena tidak bisa beradaptasi dengan perubahan cuaca yang tak menentu.

“Di Indonesia ini, barometer komoditas telur ayam adalah di Blitar, sebagai sentra ayam petelur nasional. Kalau di sana harga goyah, maka akan berpengaruh secara nasional,” jelas pria yang juga menjabat sebagai sekretaris UPT Produksi Pertanian dan Peternakan Polije ini.

Tingginya angka mortalitas atau kematian ayam petelur ini, tidak langsung diikuti dengan penggantian (replacement) bibit. Musababnya karena harga bibit atau DOC yang cukup mahal. “Sehingga pasokan telur dan juga daging ayam di pasaran menjadi berkurang,” jelas staf pengajar Prodi Manajemen Bisnis Unggas, Jurusan Peternakan. Polije ini.

Kondisi cuaca ekstrem ini, tidak bisa diatasi oleh manusia secara langsung. Karena itu, Budi menyarankan agar peternak ayam mengantisipasinya dengan meningkatkan porsi pemberian vaksin dan vitamin. “Ini sebagai langkah pencegahan. Karena vaksin itu hanya bisa diberikan kepada ayam yang sehat. Kalau sudah sakit, ya sudah,” jelas Budi.

Penambahan pemberian vitamin dan vaksin untuk ayam secara proprosional, menurut Budi tidak akan menambah biaya produksi secara signifikan. “Karena komoditas ayam ini, pengeluaran terbesar ada di pakan. Kalau vaksin dan vitamin tidak terlalu dan itu lebih baik ketimbang ayamnya mati,” pungkas alumnus Magister Ilmu Ternak Universitas Brawijaya ini.

Reporter : Adi Faizin
Editor : M. Shodiq Syarif
Fotografer : Dwi Siswanto
Editor Bahasa: Yerri A Aji