Video Viral, Korban Tempuh Jalur Hukum

28
BERI KETERANGAN: Kasatreskrim AKP Julian Kamdo Waroka saat memberikan penjelasan perihal pelaporan kasus penganiayaan di Hotel Slamet, Bondowoso.

BONDOWOSO RADARJEMBER.ID – Beberapa hari ini, di berbagai grup di media sosial sedang heboh video yang diambil di sebuah hotel di Bondowoso. Video itu menggambarkan dua orang yang tengah marah. Satu orang merekam video, satu orang meluapkan kemarahan. Kemarahan itu diluapkan kepada seorang perempuan yang tengah berada di hotel.

Video itu berdurasi 4 menit 49 detik. Karena kemarahan dua orang itu, berbagai kata kotor diluapkan. Mulai menyebut pelakor pada perempuan yang dimahari, meludahinya, menjambaknya sampai ingin mempermalukan dengan membuka dada perempuan tersebut. Video yang viral itu, mendapat predikat ‘video pelakor kena grebek’.

Penelusuran Jawa Pos Radar Ijen, video yang kini telah beredar luas itu, terjadi di Hotel Slamet Bondowoso. Waktu kejadian sekitar pukul 20.00 pada 7 Juli 2018. Keterangan ini diapat, karena orang yang merasa dianaya, melaporkan kejadian tersebut ke Polres Bondowoso. “Sudah ada laporannya, fokus laporan bukan tentang video, namun tentang penganiayaan,” jelas AKP Julian Kamdo Waroka, Kasatreskrim Polres Bondowoso.

Dijelaskan, yang melaporkan adalah orang yang mengalami korban penganiayaan. Pelapornya adalah SM warga Pakusari, Jember. Dia melaporkan telah menjadi korban penganiayaan. Bukti yang disertakan adalah visum.

Sementara yang dilaporkan ada tiga orang. US warga Tamanan dan CA serta EK warga Dadapan, Grujugan. Namun kepolisian belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut. Sebab masih dalam proses.

Berdasarkan pemeriksaan, saat itu korban berada dalam kamar hotel bersama UM. Saat itu terlapor datang dan menggedor pintu. UM membuka pintu. Melihat seseorang perempuan yang datang, UM langsung pergi. Saat itulah para terlapor dianggap telah melakukan penganiayaan oleh korban.

AKP Julian Kamdo Waroka menambahkan, untuk video yang saat ini beredar, tidak disertakan sebagai barang bukti. Sebab barang bukti video itu harus melalui pengujian laboratorium. Dan pengujiannya harus di Mapolda. “Kami tahu ada video yang beredar, namun itu tidak diajukan sebagai barang bukti, mungkin karena bukan pelapor yang merekam,” pungkasnya. (*)

Penulis : Sholikhul Huda
Photografer : Sholikhul Huda

Editor : Winardi Nawa Putra

Reporter :

Fotografer :

Editor :