Tidak Ada Lagi Desa Sangat Tertinggal

13

BONDOWOSO – Kementerian Desa melakukan klasifikasi pembangunan desa untuk melihat status di setiap desa. Klasifikasi itu, dibuat dengan Indeks Desa Membangun (IDM). Khusus untuk Bondowoso, jika pada 2016 lalu ada dua desa yang masuk kategori sangat tertinggal, maka tahun 2017 sudah tidak ada lagi.

Tenaga Ahli Pendamping Desa Andiono Putra mengatakan, klasifikasi tersebut terbagi dalam lima kategori. Yakni desa sangat tertinggal, desa tertinggal, desa berkembang, desa maju, dan desa mandiri. Tahun 2017, Bondowoso sudah tidak ada lagi kategori desa sangat tertinggal. “Hanya saja, belum ada kategori desa mandiri atau desa maju, namun akan terus kami upayakan, yakni melalui koordinasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pihak lainnya,” jelasnya.

Selama ini, berbagai dorongan itu terus dilakukan. Seperti mendorong pendirian BUMDes, melakukan pendampingan dalam bidang pembangunan fisik dan juga sumber daya manusia. Harapannya, kepala desa dan aparatur desa bisa meningkatkan pencapaian pembangunan untuk memajukan desanya masing-masing.

Sementara Sekretaris Dinas Pemberdayaan dan Desa (DPMD) Bondowoso M Asnawi Sabil mengatakan, pemerintah daerah selama ini telah melakukan fasilitasi pembentukan BUMDes. Mulai studi banding dan penguatan pengetahuan perangkat desa. “Dan saat ini, sudah seluruh desa memiliki BUMDes, namun masih terus perlu di kawal,” ujarnya.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, perolehan dana desa di Bondowoso setiap tahunnya mengalami peningkatan. Pada 2016, besaran DD di Bondowoso Rp 136 M, pada 2017 meningkat menjadi Rp 173 M, dan pada 2018 meningkat menjadi Rp 197 M. Sehingga, setiap desa rata-rata mengelola anggaran DD mulai Rp 800 juta sampai Rp 1,2 M. (hud/c2/aro)

Reporter :

Fotografer :

Editor :