Sebagai Awal Kegiatan Aktif Pesantren PP Al-Qodiri Buka Tafsir Central

SELFI BERSAMA BUPATI:PP Al-Qodiri Buka Tafsir Central

JEMBER – Program kegiatan tafsir kitab Alquran atau Tafsir Central mulai dijalankan para santri Pondok Pesantren Al-Qodiri. Kegiatan belajar mengajar tersebut mengundang bertambahnya santriwati menjadi 157 orang. Para santri mengikuti Tafsir Central bersama dengan santriwan Masjid Wali Songo dan santriwati Masjid Banat.

Pembukaan Tafsir Central oleh pendiri sekaligus pengasuh, KH Achmad Muzakki Syah, tersebut menandakan aktifnya kegiatan pesantren. Jumlah santriwati diperkirakan masih terus bertambah. Sebab, masih banyak santri baru dari luar Jawa, seperti Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua, yang akan datang bersama rombongan jemaah manakib.

Tahun ini, santriwati didominasi oleh lembaga Al-Qodiri sendiri, yakni MTs Unggulan, SMP Plus, SMK, dan MA Al-Qodiri. Para santri tersebut akan ditempatkan pada tujuh wilayah, di antaranya LPBA (Lembaga Pengembangan Bahasa Arab), LBMK (Lembaga Bimbingan Membaca Kitab Kuning), ELCA (Englis Camp), I’dadiyah, Ay-syaha sufla yang anggotanya adalah siswi baru full day MA Al-Qodiri, Asy-Syaha Wustho dan Asy-Syaha A’la yang anggotanya siswi unggulan MTs Al-Qodiri, serta wilayah Faza Sufla yang anggotanya santri baru selain siswi MA dan MTs Al-Qodiri.

Letak Ponpes Al-Qodiri yang strategis, di Jl Manggar  149A, Gebang Poreng, Patrang Jember itu, menjadikan ponpes tersebut sangat ramai diminati para santri, dengan berbagai lembaga pendidikannya. Tak hanya itu, lembaga dari luar pesantren pun juga ada yang ikut nyantri di Al-Qodiri. Antara lain, MAN 2 Jember, MTsN 2 Jember, IAIN, Unej, dan Poltek Jember.

Dalam berbagai forum, Pengasuh Ponpes Al-Qodiri, KH Muzakky Syah kerap mengutip pepatah Ibnu Abbas RA, bahwa ilmu itu sulit ketika dicari, namun mudah ketika mencari. Artinya, kata Kyai Muzakky, ilmu memang sulit didapat, kecuali orang-orang yang mau bersusah payah, yang akan mendapat ilmu bermanfaat dan berkah. “Namun, ketika ilmu sudah didapat, dia akan memudahkan segala urusan kita,” ujarnya.

Namun, kata Kyai Muzaaky, tidak semua orang kuat terhadap ujian ilmu tersebut, kecuali orang yang mau bersabar dan bersusah payah mencari ilmu. Begitu pula di Al-Qodiri, lanjut ulama sejuta umat ini, ujian demi ujian telah dilalui santri baru. Baik dari lingkungan yang masih susah dikenali, karena memang butuh proses bersosialisasi dengan lingkungannya. “Atau bahkan karena memang tidak betah, entah karena paksaan masuk pesantren, atau hal-hal lain,” jelasnya. (kr/c2/sh)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :