Dilema Kecanggihan Teknologi Aplikasi: Ingat, Anak Itu Peniru Ulung

WAWAN DWI/RADAR JEMBER Anak zaman now sudah terbiasa dengan  teknologi yang diberikan smartphone.  Termasuk dengan meniru kebiasaan orang untuk selfie.

KEHADIRAN smartphone membuat hidup semakin mudah, cepat, dan ringkas. Mau apa, cari apa, semua dalam genggaman. Lewat kecanggihannya tidak sekedar mampu menjelajah dunia, tapi juga cepat terkenal lewat foto dan video yang diupload di media sosial.

Kehadiran smartphone pun juga menambah orang tua datang ke poli psikiatri RSD dr Soebandi. Bukan orang tua yang sakit. Tapi mereka justru datang ke psikiater untuk konsultasi terhadap tingkah laku anaknya yang berubah sejak kehadiran smartphone. Psikiater RSD dr Soebandi dr Justina Evy Sp Kj mengaku, hampir setiap bulan sekali selalu ada orang tua yang membawa anaknya sekedar konsultasi dan ingin sembuh dari ketergantungan gawai. “Hampir setiap bulan ada, tapi rata-rata karena kecanduan game online. Sehingga, aktifitas hariannya terlupakan seperti tidak mau sekolah,” katanya.

Kini dunia maya lagi heboh dengan penutupan aplikasi tik-tok oleh Kementrian Informasi dan Teknologi. Aplikasi yang dibuat anak negeri ini adalah video lip sync dan bisa diupload. Bahkan, karena booming tiktok ada anak yang jadi artis dadakan. Anak tega bermain tiktok dengan background kakeknya yang meninggal dunia, ada pula perawat memainkan wajah bayi bayu lahir untuk lip sync di tiktok.

dr Justina Evy menyebut, anak kecil bermain tiktok sampai tidak punya etika seperti tiktok dengan jenazah sang kakek itu tidak boleh disalahkan. Sebab, kata dia, anak yang usianya 0-10 tahun ini melakukan sesuatu hanyalah meniru.

Evy menjelaskan, anak mulai mengenal smartphone tentu dari orang tuanya. Kemudian anak bisa selfie dan narsis di medsos tentu juga melihat orang tuanya saat pegang smartphone. Bahkan, anak bisa foto selfie pun diajarkan orang tua. Sehingga, kata dia, orang tua juga harus menjaga prilakunya saat memiliki anak usia dibawah 10 tahun.

Semisal ada anak yang bermain video dan diuplaoud dengan kelakukan nyeleneh hingga berbau sesuatu membuka aurat juga jangan disalahkan. “Anak di bawah 10 tahun ini tidak ada dorongan seks. Mereka ini meniru tindakan orang dewasa di medsos,” paparnya.

Untuk anak yang berusia 1-2 tahun pun sangat tidak baik dan tidak dianjurkan untuk bermain gawai. Sebab, akan menghambat perkembangan motorik halusnya. Sehingga, berdampak pada lambatnya anak berbicara.

Lantas bagaimana menyembuhkan anak yang ketergantungan dengan gawai ini. “Tidak perlu obat, tapi orang tua harus memberikan aturan yang tegas,” ujarnya.

Kecanduan gadget ini terjadi saat anak bermain gawai tiga jam lebih atau tiga jam tanpa henti dan meniadakan aktifitas biasanya. Seperti sekolah, makan, dan mandi. Dia menjelaskan, dalam sehari bermain gawai ini maksimal tiga jam. “Maksimal tiga jam, tapi tidak terus-terusan. Tapi maksimal satu jam berhenti,” imbuhnya.

“Pukul 9 malam anak ini harus tidur, karena usia tersebut butuh waktu tidur 8 jam. Berbeda saat dewasa, waktu tidur cukup 6 jam dan jangan bergadang lebih dari pukul 23.00,” pungkasnya. (RAM/WAN/LIN/ras)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :