Keluarga Cemara, Komunitas Keluarga Seniman yang Selalu Ajak Anak Bermusik dan Menari Bersama

WAWAN DWI/RADAR JEMBER KEBERSAMAAN: Keluarga Cemara dari berbagai keluarga seniman yang ingin saling berbagi banyak hal di masa tua mereka.

JEMBER-Ada yang berbeda di kolam renang di kawasan Kramat, Sumbersari Jember kemarin (14/7). Tempat wisata buatan yang biasanya selalu dipenuhi dengan pengunjung memakai busana renang. Namun, yang terjadi malah berasa menjadi tempat pesta. Satu persatu yang datang malah menggunakan busana yang nyentrik.

Tidak sekedar mengenakan sepatu high heels, tapi juga pakai sepatu boots tinggi yang terbuat dari bahan kulit. Mirip koboi? tidak juga. Tapi gaya kaum hawa yang hadir punya gaya berbeda sesuai jaman mudanya dahulu. Ya rata-rata yang datang adalah ibu rumah tangga yang usianya sekitar 50 tahun. Datang bersama suaminya dan anaknya.

Mereka tetap gaul, tidak kalah dengan anak muda jaman now. Hentakan musik yang dimainkan mereka pun cukup membuat yang datang bisa bergoyang riang. Menggiring mereka untuk membentuk barisan. Bukan untuk upacara bendera, melainkan untuk persiapan memainkan tari yang kini sedang digemari ibu-ibu yakni line dance.

Tidak hanya wanita dewasa yang ikut, anak kecil pun juga turut ikut. Termasuk juga penyanyinya juga gantian dari generasi muda dan tua. Keakraban dan kehangatan mereka nyatanya bukan satu keluarga besar. Melainkan perkumpulan tapi ingin dinamakan keluarga, Keluarga Cemara namanya. “Perkumpulan dan komunitas bukan. Tapi kami keluarga, karena istri, suami, dan anak juga tergabung,” kata Ivan Unifar, anggota keluarga cemara itu.

Dia mengatakan, anggota keluarga cemara ini memang rata-rata punya background seni. Mulai dari seni tari, seni musik, hingga seni tarik suara. Namanya hobi, saat berkumpul tentu asyik. Saat berkumpul waktu pun terasa cepat. Dari yang suntuk berubah jadi fresh. Bahkan, berasa seperti muda kembali.

Asyiknya berkumpul, kata Ivan, dalam hati terdalam tak ingin meninggalkan keluarga. Sehingga, punya konsep keluarga cemara ini memang seperti keluarga sesungguhnya. Antar anak saling kenal, suka duka pun dirasa bersama. “Pakai nama cemara karena pohon ini rindang dan membawa kesejukan. Sehingga ingin membawa kesejukan,” paparnya.

Sehingga, kata Ivan, dari ini ingin mendekatkan keluarga inti juga. Dia melihat saat anak tumbuh dewasa para orang tua ini mulai kesepian. Terlebih lagi mulai ada jarak antar orang tua dan anak. Berangkat dari kegiatan cemara yang asyik dan menyejukan hati inilah ingin anak ini kembali dekat dengan orang tua. Agar orang tua tidak kesepian lagi. “Saling kenal dengan teman bermain orang tua juga makin mendekatkan anak,” imbuhnya.

Apalagi, tambah Ivan, juga memantau perkembangan anak dengan mudah dan menjauhi dari hal kenakalan remaja. Dia pun berharap konsep keluarga cemara ini mampu diadopsi masyarakat meski hanya tingkat RT. Orang tua tidak kesepian lagi, anak pun semakin dekat dengan keluarga. (ram)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :