Dibuat Anak Jember, Helicak Mirip Helikopter tapi Bentuknya seperti Becak

Yoyok Hartawan for Radar Jember MENGINSPIRASI: Yoyok Hartawan (kanan), pembuat Helicak, bersama Wakil Bupati Abdul Muqit Arief di rumah dinas Wabup Jember, belum lama ini.

Jember Kota-Bentuknya menyerupai mobil mini. Hanya bisa ditumpangi tiga orang, termasuk sopirnya. Meski seperti mobil, namun rodanya hanya ada tiga. Satu di depan  dan dua di belakang.

Kendaraan ini diberi nama Helicak. Perpaduan helikopter dan becak. Meski namanya mengadopsi helikopter, namun Helicak asal Jember ini tidak bisa terbang. Hanya saja, sepintas bentuknya menyerupai helikopter. Tetapi fungsinya mirip becak.

Bukan hanya roda yang posisinya berbeda dengan becak konvensional. Kemudinya pun juga tidak di belakang. Posisi belakang, khusus untuk penumpang. Pun demikian dengan setir yang mirip dengan setir sepeda. Namun yang ini, ada gagang yang bisa untuk ngegas layaknya motor.

Helicak jalannya memang tidak hanya dikayuh. Melainkan digerakkan dengan mesin. Meski mesinnya tanpa bahan bakar minyak (BBM). Sebab, yang dipasang adalah mesin tenaga listrik. Sengaja memilih listrik, supaya tetap ramah lingkungan.

Pembuat Helicak adalah Yoyok Hartawan. Pria berumur 40 tahun itu tinggal di Jalan Ikan Paus II 13, Kaliwates, Jember. “Sebenarnya, sejak dua tahun lalu saya sudah merakit Helicak,” akunya, saat diwawancarai, kemarin.

Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (STIKOM) Malang itu mengaku, terdorong membuat Helicak supaya becak tak lagi sebagai kendaraan tradisional yang kurang manusiawi. “Saya prihatin karena becak semakin kurang diminati,” tuturnya. Bahkan, hasil surveinya, income tukang becak terus menurun.

Meski demikian, Yoyok harus memperjelas segmentasi Helicak. Tentu, supaya tidak bersinggungan dengan becak konvensional. Sampai akhirnya, dia putuskan Helicak lahir untuk becak wisata.

Belajarnya dari dunia maya. Merakit Helicak, hasil dari komunikasi yang intensif dengan pencipta Mobil Hijau di Jogjakarta. Sebuah mobil listrik yang diciptakan orang Jogjakarta. Sampai dia pun ditawari pendampingan khusus tenaga ahli dari Jogjakarta. “Tetapi saya tolak, karena saya yakin anak Jember pasti ada yang bisa,” ujarnya.

Kemudian, dia kenal dengan sekelompok mahasiswa Universitas Jember (Unej), yang langganan juara di setiap kali kompetisi mobil listrik nasional. “Saya pun berkolaborasi dengan mahasiswa,” akunya.

Berkat bantuan para mahasiswa itu, Helicak buatan Yoyok, gasnya tidak hanya bisa untuk on dan off. Melainkan juga bisa ngegas seperti motor. Sebab, kendaraan tersebut memiliki controller yang bisa mengakselerasikan laju kendaraan. “Sekali charger listrik bisa untuk jarak 50 km,” klaimnya.

Namun, dalam keadaan tertentu, mesin listriknya tidak lagi ada cadangan energinya, maka pengemudi masih bisa menjalankan Helicak. Sebab, juga disediakan alat kayuh. “Tapi tetap ringan. Karena kami pakai fiberglass,” imbuhnya.

Supaya tetap seperti misinya menjadikan kendaraan tradisional yang modern, desainnya pun dibuat menarik. Namun, tetap tematik dan menonjolkan daya tarik khas Jember. Karena Jember dikenal kota tembakau, Helicak dibuat dengan desain daun tembakau.

Diam-diam, Helicak sudah dipamerkan ke Menteri Pariwisata, Arief Yahya. Sebagai becak wisata, tentu harus dikomunikasikan ke pemerintah pusat yang memiliki wewenang sama. “Beliau ingin menaiki Helicak, saat berkunjung ke Jember di JFC nanti,” akunya.

Soal harga, Yoyok mematok harga Rp 35 juta. Sama seperti kendaraan sejenis di Tiongkok. Harga tersebut jauh lebih murah jika dibandingkan Velotaxi asal Jerman. “Di China, harganya Rp 35 juta, tetapi belum sampai Indonesia,” pungkasnya. Namun yang pasti, kendaraan itu bisa jadi kebanggaan Jember. (rul/c2/hdi)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :