Balai Desa Mirip Istana Merdeka di Kemuningsari Kidul

JUMAI/RADAR JEMBER SURAPA ISTANA: Gedung Kantor Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah, menyerupai desain Istana Merdeka di Jakarta. Rencananya, di area bangunan yang disebut Gedung Putih ini juga dibangun wahana wisata keluarga dan anak-anak.

JENGGAWAH – Sebuah bangunan megah di areal persawahan Dusun Tegal Kalong, Desa Kemuningsari Kidul, Kecamatan Jenggawah, terlihat cukup mencolok. Tak heran, jika gedung yang didesain menyerupai Istana Merdeka di Jakarta ini menjadi destinasi wisata baru di Jember selatan.

Bahkan, sejumlah remaja dan generasi muda menjadikan gedung itu sebagai destinasi wisata baru sebagai lokasi swafoto. Mereka menilai, bangunan yang sebenarnya adalah kantor desa tersebut sangat instagramable.

Pantauan Jawa Pos Radar Jember, jika dilihat dari depan, bangunan ini memang serupa Istana Merdeka. Ada enam pilar beton yang berjajar rapi di bagian depan gedung, serta sebuah burung garuda yang terpasang tepat di atas akses masuk bangunan. Sehingga, ketika ada pengunjung yang datang, mereka seolah disambut pilar-pilar yang tampak gagah. Tak hanya itu, gedung yang tanpa pintu tersebut juga memiliki 12 anak tangga, sehingga benar-benar menyerupai Istana Merdeka.

Untuk menambah kesan megah, di bagian depan gedung juga dilengkapi lampu 200 watt yang terpasang di sisi kanan dan kiri bangunan. Jika menyala, lampu ini menerangi ornamen seperti motif batik Jawa. Empat lampu bohlam juga dipasang melingkari bangunan di bagian depan. Sehingga saat malam hari, gedung pemerintah desa yang mulai digunakan sejak awal pekan kemarin terlihat semakin gagah.

Kepala Desa Kemuningsari Kidul Sujarwo Hadiono menuturkan, gedung ini dibangun sejak 2014 lalu, pasca dirinya terpilih sebagai kepala desa setahun sebelumnya. Pengerjaan yang membutuhkan waktu hingga empat tahun ini dilakukan secara bertahap. Sebab, dana yang digunakan memakai sisa anggaran desa serta swadaya masyarakat. Total biayanya mencapai hampir Rp 2 miliar.

Meski menelan biaya yang cukup besar, namun dia mengaku senang karena kantor desa ini populer di masyarakat. Bahkan, menjadi destinasi wisata baru, terutama bagi para remaja dan pemuda. Oleh karenanya, pihaknya menyiapkan lahan seluas empat hektare di tanah milik pemerintah desa untuk mewujudkan rencana tersebut. Satu hektare di antaranya menjadi kompleks perkantoran, sedangkan tiga hektare sisanya bakal digunakan sebagai area wisata keluarga yang menjadi satu lokasi dengan gedung tersebut.

Sujarwo juga mengaku, bangunan seluas 30 x 50 meter ini dia desain sendiri. Mulai dari gambar hingga detil bangunan. Termasuk juga pemilihan cat yang seluruhnya berwarna putih. Pemilihan cat inilah yang kemudian dipakai menjadi nama bangunan tersebut menjadi Gedung Putih. Rencananya, di kawasan ini juga akan dibangun wahana wisata Gedung Putih. “Kami sudah punya site plan-nya. Nanti akan dibuat wahana wisata anak, untuk lokasi belajar anak. Selain itu, kolam pancing, kolam renang, kebun binatang mini, dan permainan anak. Namun, karena keterbatasan anggaran, rencana itu akan diwujudkan secara bertahap,” terangnya.

Lebih lanjut, Sujarwo juga menjelaskan ihwal berdirinya Gedung Putih ini. Menurutnya, sebelum menggunakan gedung baru itu sebagai kantor desa, pihaknya menempati kantor desa lama yang secara teritori masuk ke wilayah Desa Kertonegoro. Ini dilakukan sejak terjadinya pemekaran desa pada 1985 silam. Sebelumnya, Desa Kertonegoro merupakan salah satu dusun di Desa Kemuningsari Kidul.

Karena merasa numpang di tanah milik desa tetangga inilah, dirinya kemudian berupaya memiliki bangunan kantor sendiri untuk mendekatkan layanan ke masyarakat. Di tengah kondisi seperti itu, Sujarwo lantas memiliki ide membangun sebuah kantor desa yang berbeda dari yang lain. Targetnya, tak hanya menjadi pusat pelayanan masyarakat, tetapi juga dapat menarik minat warga untuk berkunjung.

Kemudian, kepala desa yang berlatar belakang kontraktor ini mencari sejumlah referensi desain bangunan yang nyentrik, hingga menemukan bangunan Istana Merdeka. “Ide ini dari inspirasi pribadi, setelah melihat Istana Negara di televisi. Kemudian saya ingin mendesain kantor pemerintahan desa sama dengan Istana Negara. Jadi, dari pada jauh-jauh ke Jakarta, warga bisa selfie-selfie di sini. Alhamdulillah, simpatik masyarakat lokal dan luar daerah yang berkunjung ke sini luar biasa,” paparnya.

Setelah resmi digunakan awal pekan kemarin, Gedung Putih tersebut langsung diserbu oleh para pengunjung. Mayoritas adalah para remaja dan muda-mudi. Dari sejumlah pengunjung yang datang, ada sepasang pemuda asal luar daerah yang menjadikan bangunan ini sebagai tempat wisata. Mereka adalah Ahmad Syaihoni (21) dan Fitria Sukanto (19).

Muda-mudi asal Dusun Karangsemanding, Desa Sukorejo, Kecamatan Bangsalsari ini sengaja datang ke kantor desa itu untuk berwisata, sekaligus berswafoto di lokasi yang populer di media sosial tersebut. “Dari rumah, saya memang berniat datang ke sini untuk berwisata dan foto-foto. Ternyata, bangunannya memang megah seperti istana presiden,” kata Honi, panggilan Ahmad Syaihoni, kemarin.

Honi mengaku mengetahui keberadaan gedung berpilar enam itu dari media sosial Instagram dan Facebook. Menurut dia, banyak teman-temannya yang sudah mengunggah foto berlatar belakang bangunan itu di dunia maya. Dirinya pun penasaran. Bersama pasangannya, Honi kemudian nekat berangkat ke Jenggawah meski belum tahu tempatnya. “Saya pakai google maps, dan tadi sempat kesasar. Untunglah akhirnya bisa ketemu,” akunya.

Honi merasa tak kecewa setelah menyaksikan sendiri bentuk bangunan itu. Katanya, gambar yang dia lihat di media sosial sama persis dengan wujud aslinya. Rasa penasarannya pun terobati. Sebab biasanya, ujar Honi, meski terlihat bagus di media sosial, namun saat didatangi kerap kali tampilannya tak seindah yang diunggah. “Saya tadi foto beberapa kali, sampai puas. Bangunannya sama seperti istana presiden, jadi nggak usah jauh-jauh ke Jakarta,” tuturnya.

Hal senada juga diungkapkan Fitria Sukanto. Gadis yang mengelola toko daring (online) ini mengaku sudah tahu sejak empat bulan lalu kalau ada bangunan yang serupa dengan tempat resmi kediaman sekaligus kantor presiden tersebut. Meski begitu, dirinya baru sempat ke sini pekan ini karena sibuk melayani pesanan konsumennya. “Tidak kecewa. Karena antara foto di medsos dengan wujud aslinya sama. Saya juga tak menyangka kalau ini kantor desa,” kagumnya.

Dia pun berandai-andai, jika ada bangunan lain seperti itu di Jember, maka kesan kantor desa yang kaku akan terkikis. Menurut dia, masyarakat yang berurusan dengan pemerintah tak lagi segan datang ke kantor desa. Sebab, warga tak hanya mendapat pelayanan saja, tetapi juga bisa berswafoto usai urusannya tuntas di kantor desa. “Kalau bisa, ide membangun gedung seperti ini ditiru oleh desa-desa lain. Tapi jangan sama bangunannya. Biar berbeda dan unik. Apalagi kalau ada tempat wisatanya, pasti akan lebih seru,” ujarnya.

Sementara Abdul Hamid, warga Desa Kemuningsari Kidul, mengaku bangga desanya memiliki lokasi yang kerap dikunjungi oleh warga luar daerah. Dirinya pun mengapresiasi jika nantinya area gedung itu juga dibangun lokasi wisata keluarga, dan anak-anak. Sebab, selain tak perlu jauh-jauh keluar kota, wahana wisata yang direncanakan bernilai edukasi itu juga dikatakannya bakal menumbuhkan perekonomian masyarakat di desa setempat. “Semoga saja rencana itu bisa terwujud. Sebagai warga asli di desa sini, tentu saya sangat bangga,” akunya. (mg-4/c2/hdi)

… Nek kedawan potong ae. Yg bagian bawah nggak penting

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :