Ranupani Dingin Ekstrem, Tetapi Saat yang Tepat untuk Dikunjungi

Khawas Auskarni/RAME KONDISI HARUS FIT: Khawas Auskarni, wartawan Jawa Pos Radar Semeru mencoba mengunjungi Ranupani saat sedang dingin-dinginnya.

LUMAJANG-Suhu malam Ranupani belakangan membuat menggigil dan menusuk-nusuk. Tetapi, jangan lantas alergi ke sana. Justru, sekarang Ranupani sedang molek-moleknya. Lebih-lebih perpaduan dengan Gunung Semerunya. Sungguh, sebuah lukisan alam nan indah terhampar.

Kendati biasanya suhu di kawasan Desa Ranupani memang dingin, namun dingin kali ini lebih ekstrem. Penurunan suhu drastis terjadi sejak sepekan terakhir. Coba saja bawa termometer ke sana. Maka, Anda akan tahu berapa rendah suhu di perkampungan yang berada di ketinggian 2.100 mdpl itu.

Termometer angka yang dibawa Jawa Pos Radar Semeru menunjukkan pergerakan angka yang konstan menurun sejak pukul 16.00 sore. Suhu yang tadinya berada di kirasan 18 derajat celsius, pelan-pelan menyusut menjadi 17, 16, 15, 14, hingga kirasan 12 derajat celsius. Penurunan suhu ini seiring dengan tenggelamnya matahari dan tibanya malam yang diiringi kabut.

Jaket tebal pun tidak terlalu mampu menahan rasa dingin yang berusaha menembus kulit. Bahkan, kopi panas yang baru saja disajikan akan langsung dingin dalam waktu sekitar 5 menit.

Kondisi malam semakin pekat saat tertutup kabut. Kabut mulai muncul sejak siang, tapi semakin malam semakin tebal.

Warga perkampungan tidak banyak yang beraktivitas saat malam hari. Terlihat hanya beberapa jemaah masjid di barat lapangan desa, serta pemilik dan pengunjung warung makan. Serta, beberapa calon pendaki yang memutuskan bermalam di desa terakhir sebelum Gunung Semeru itu. Dataran Ranupani kerap dipakai parkir oleh calon pendaki yang akan naik menuju ketinggian Gunung Semeru.

Sebelumnya, ketika masih sore, aktivitas warga dan pemuda tampak begitu ramai. Lapangan yang berada sekitar 50 meter di barat Danau Ranupani riuh oleh anak-anak muda setempat yang bermain sepak bola. Sementara, warga yang lain masih banyak beraktivitas di luar. Belum lagi, beberapa pengunjung asal Bali yang mampir untuk sembahyang di pura terdekat, setelah berziarah dari Pura Mandara Giri di Senduro bawah.

Sukirman, 23, warga sekaligus pemilik salah satu warung di desa itu menuturkan, titik terdingin di wilayah Ranupani memang terjadi di bulan Juli, tiap tahun. Namun, bagi warga seperti dia, kondisi tersebut terasa biasa. “Dingin, tapi tidak sampai membuat kedinginan. Bahkan, sejak beberapa hari terakhir, saat subuh, sekitar pukul 03.00 hingga 04.00, muncul semacam es pada dedaunan. Es itu akan mencair ketika matahari mulai terbit,” paparnya.

Kendati dingin cukup ekstrem, justru di bulan inilah para wisatawan dan calon pendaki Gunung Semeru banyak berdatangan. Pasalnya, di bulan Juli sedang berlangsung musim kemarau. Febriansyah, 19, salah seorang pendaki asal Blitar menuturkan, di bulan ini pendaki seperti dirinya bisa melihat pemandangan dalam kondisi terindahnya. Hal itu tidak akan disaksikan saat musim hujan.

Selain itu, lanjut Febri, bulan ini berbarengan dengan waktu libur sekolah. Sehingga, menjadi kesempatan yang sangat pas bagi pelajar sepertinya untuk melakukan pendakian ke Gunung Semeru. (c2/ras)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :