Drama Kolosal Babad Bondowoso Menceritakan Bondowoso abad ke-18

Sholikhul Huda/Radar Ijen DRAMA KOLOSAL: Para penggiat seni Bondowoso saat memeragakan drama kolosal Babad Bondowoso di Alun-Alun RBA Ki Ronggo.

BONDOWOSO – Salah satu pertunjukan inti dalam agenda Harjabo adalah drama kolosaL Babad Bondowoso. Drama ini menceritakan Bondowoso abad ke-18. Cerita itu mengisahkan asal muasal Raden Bagus Asra Ki Ronggo serta masa kepemimpinannya di Bondowoso.

Sosok Raden Bagus Asra adalah anak Demang Walikromo pada masa pemerintahan panembahan di bawah Adikoro IV, Tjakraningrat Bangkalan. Demang Walikromo sendiri adalah putra Adikoro IV.

Ketua Gerakan Apresiasi Seni (GAS) Bondowoso, Junaidi, yang menjadi sutradara mengatakan, drama kolosal itu menceritakan tentang Babad Bondowoso. Kisah itu berawal tahun 1743, saat terjadi pemberontakan yang dilakukan Kiai Lesap terhadap pemerintahan Tjakraningrat di Pamekasan. Demi keselamatan cucunya Raden Bagus Assra (RBA Ki Ronggo), Nyi Seda Bulungan bersama keluarga Adikoro IV eksodus ke tanah Besuki.

Dalam perjalanannya, Raden Bagus Asra bertemu dan diasuh Kiai Patih Besuki untuk dijadikan anak angkat sekaligus dididik berbagai ilmu kenegaraan. “Awalnya dari situ,” tutur Bang Jun, sapaan karibnya.

Setelah dewasa, Raden Bagus Asra yang sudah bergelar Astrotumo (mantri muda), diperintahkan oleh Adipati Besuki R Aryo Prawirodiningrat untuk memperluas wilayah dengan membabat atau membuka hutan di belantara Selatan. Saat itu, Raden Bagus Asra diiringi empat mantrinya, yakni Wiratruna, Jatirta, Puspadriya, dan Jiwotruno.

Akhirnya, pembukaan wilayah itu berhasil dilakukan. Selanjutnya, tahun 1819 Adipati Besuki Raden Aryo Prawirodiningrat mengangkat Mas Ngabehi Astrotuno menjadi penguasa wilayah dan pimpinan agama dengan Gelar Abhiseka Mas Ngabehi Kertonegoro dengan predikat Ki Ronggo 1.

Sementara pada masa kepemimpinan Ki Ronggo 1 ini, Puger berhasil ditaklukkan pemberontak Aryo Gledak. Merasa besar hati dan tamak kekuasaan, Aryo Gledak menghimpun kekuatan untuk memperluas kekuasaan dengan berniat menaklukkan negeri Besuki. “Karena perjalanannya menuju Besuki teramat jauh, maka Aryo Gledak meminta penguasa negeri Bondowoso bersedia memberi jamuan untuk pasukan yang akan menuju Besuki,” jelasnya.

Mendengar kabar itu, Rekyana Patih Kertonegoro teramat murka dan memerintahkan pasukannya untuk menyambut mereka dengan perlawanan. Tepatnya di Desa Sentong (Nangkaan) pertempuran terjadi. Pertumpahan darah tak terelakkan yang akhirnya pasukan pemberontak dapat dikalahkan. Kemenangan itu berakhir dengan dipenggalnya kepala Aryo Gledak.

Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, walau ceritanya setiap tahun sama, namun ada polesan yang membuat beda. Misalnya, ada tari Nyangar Kopi, Pencak Silat, dan musik Tempong dengan penabuhnya anak muda.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Amin Said Husni sempat naik panggung. Dia menyerahkan cepuk pada Salwa Arifin. Salwa Arifin diundang Bupati Amin Said Husni untuk naik ke panggung, karena Salwa Arifin kini terpilih menjadi Bupati Bondowoso 2018-2013. Bupati Amin Said Husni memberikan cepuk yang selama ini digunakannya dalam melaksanakan tugas sebagai bupati kepada Salwa Arifin. “Membangun Bondowoso haruslah dengan sepenuh hati. Semua harus mendukung dan bersinergi untuk mengembangkan seluruh potensi dengan kreativitas dan terus berinovasi. Buanglah dendam kesumat dan rasa dengki. Rapatkan barisan dan terus tingkatkan konsolidasi,” tegasya. (hud/c2/aro)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :