Antara Ibadah Puasa dan Pengawasan Allah

Dr. ali Musri Semjan Putra, M.A.
(Dosen STDI Iman Syafii Jember)

Dalam suasana puasa Ramadhan kita benar-benar merasa selalu dalam pengawasan dan penglihatan Allah sehingga hal tersebut membuat kita untuk tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa kita sekalipun tidak ada orang yang melihat kita. Suasana merasa merasa dilihat dan diawasi Allah dalam beribadah maka ini adalah salah satu tingkat Ihsan. Sebagaimana jawaban Rasul kita shalallahu ‘alaihi wa salam ketika beliau ditanya oleh malaikat Jibri: “Beritahulah aku tentang apa itu Ihsan? Beliau menjawab: Ihsan ialah, engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah, jika tidak! Maka yakinlah sesungguhnya Allah selalu melihatmu”. (HR. Muslim). Jika rasa pengawasan yang tinggi ini selalu tumbuh dalam diri kita niscaya tingkat kemaksiatan dan kemungkaran yang tersebar di tengah-tengah masyarakat akan turun drastis dalam tatanan kehidupan kita sehari-hari. Baik dalam tingkat keluarga, masyarakat kecil maupun dalam tingkat kehidupan berbangsa dan bernegara. Perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji akan berkurang.
Maka dari itu marilah kita menerapkan nilai-nilai Ramadhan dalam kehidupan kita, dianataranya menerapkan nilai ihsan, seolah-olah kita selalu melihat Allah, jika tidak mampu maka yakinlah bahwa Allah selalu melihat gerak-gerik kita, kapan dan dimanapun kita berada. Semoga sikap ini selalu tumbuh dan berkembang dalam diri kita. Sesunggunya Allah selalu mengawasi dan melihat kita dimana dan kapan saja? Allah tegaskan dalam firman-Nya: “Dan Dia bersama kamu di mama saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan”. (QS. Al Hadiid: 4).
Suatau hal yang mesti kita pertanyakan kepada diri kita masing-masing, mengapa saat berpuasa perasaan merasa selalu dilihat atau diawasi Allah itu hadir namun saat kita berbuka atau setelah puasa Ramadhan selesai perasan itu menjadi berkurang bahkan bisa dikatakan hampir-hampir tidak ada dirasakan lagi? Pada hal Allah itu melihat atau mengawasi kita tidak hanya di waktu berpuasa atau di bulan Ramadhan saja. Mungkin salah satu penyebab hilangnya nilai tersebut setelah Ramadhan adalah karena kita tidak menghayati nilai-nilai yang tersimpan dalam ibadah puasa tersebut, sehingga nilai-nilai tersebut tidak menjadi target kita dalam melaksanakan ibadah puasa.
Sesungguhnya Allah senantiasa bersama kita dengan ilmu, pendengaran dan penglihatan serta pengawasan-Nya. Maka tidak ada sedikitpun dari gerak-gerik kita yang tersembunyi di hadapan Allah. Baik pedagang di pasar, pegawai di kantor, petani di sawah serta siapapun dan dimanapun ia berada, Allah melihat dan mendengar serta mengetahui segala perbuatan dan gerakgeriknya. Jika perasaan selalu diawasi Allah selalu tumbuh dalam diri setiap muslim niscaya penipuan dan korupsi serta kejahatan lainnya akan berkurang di tengah-tengah kehidupan kita.
Begiru banyak ayat Al Quran menjelaskan tentang orang-orang yang muhsin, diantaranya firman Allah “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang muhsin”. (QS. Al Baqarah: 195). Ayat yang semakna terulang beberapa kali dalam Al Quran, ini menunjukkan tentang mulianya sifat orang yang musin di sisi Allah. “Sesungguhnya rahmat Allah amat dari orang-orang yang muhsin”. (QS. Al A’raaf: 56). “Maka sesungguhnya Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang muhsin. (QS. Yusuf: 90). “Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang muhsin”. (QS. Al Angkabut: 69). Semoga puasa Ramadhan tahun ini menjadikan kita orang yang sampai pada tingkat ihsan.

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :