Pengabdian Guru, Rela Tempuh Puluhan KM dan Menyebrangi Sungai

Yusnaningsih saat pergi untuk mengajar. (Alwi Alim/JawaPos.com)

RADARJEMBER.ID: Berseragam coklat dan membawa tas serta sejumlah berkas, Yusnaningsih menaiki angkutan kota (Angkot) sebanyak tiga kali. Tak sampai situ, Yusnaningsih harus menaiki getek untuk menyebrangi Sungai Musi agar sampai di sekolah tempat ia mengajar.
Yakni SD Negeri 218 di Jalan Sungai Tengkorak, Kelurahan Keramasan, Kecamatan Kertapati, Palembang, Sumsel. Begitulah yang dialami Yusnaningsih selama mengajar 19 tahun untuk memberikan pendidikan kepada anak didiknya.
Yusnaningsih mengaku memulai karirnya dari guru honor pada tahun 1986. Saat itu, ia hanya digaji hanya Rp 250 ribu hingga Rp 300 ribu. Jumlah honor tersebut pas-pasan. Kemudian, dia dipindahkan mengajar di SD Negeri 218 Palembang pada 1999.
Saat dipindahkan, honor selama satu bulan justru terus merugi karena ia harus menggunakan angkot dan getek menuju sekolah tersebut.
“Saya harus naik angkot sebanyak tiga kali dari Jalan Letkol Adrian, Sukabangun 2, Kelurahan Sukajaya, Kecamatan Sukarami, ke Gandus. Setelah dari gandus naik getek sekitar 15-30 menit ke sekolah,” katanya, Rabu (2/5).
Meski merugi, ia mengaku tetap mengabdi sebagai guru di Sekolah tersebut hingga saat ini. Ia juga mengaku selama 19 mengajar di SD Negeri 218, tak jarang telat sampai ke sekolah. Namun, ia tidak pernah berniat sedikit pun untuk libur mengajar meski jarak antara rumah dan sekolah jauh.
“Ini tugas dan kewajiban saya, jadi harus semangat meski jauh dan sering terlambat,” kata wanita berusia 51 tahun ini.
Istri Lukman Hakim ini berharap ke depan semua guru terus bersemangat dalam mengajar dan memberikan performa dan materi terbaik untuk anak muridnya karena anak murid merupakan generasi penerus bangsa yang wajib dididik masa depannya.
“Semoga apa yang sudah saya dan guru lain lakukan dapat bermanfaat bagi generasi penerus bangsa,” tutupnya.
(lim/JPC/ras)