Balada Anak Satpam UGM : Rela Berhutang, Terharu Saksikan Anaknya Wisuda Gelar Doktor

Teguh Suparman, satpam UGM yang mengantarkan anaknya wisuda gelar doktor. (dok. Humas UGM Yogyakarta)

RADARJEMBER.ID: Kamis (19/4) pagi merupakan hari yang cukup membahagiakan bagi Teguh Suparman. Sembari menggandeng istri dan anak-anaknya, pria yang mengenakan seragam satpam lengkap ini datang menuju ke Gedung Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Wajahnya berkaca-kaca sewaktu menyaksikan putri sulungnya, yang bernama Retnaningtyas Susanti diwisuda dengan menyandang gelar doktor.

Teguh Suparman tergabung dalam satuan keamanan UGM yang kini bernama Pusat Keamanan Keselamatan Kesehatan Kerja dan Lingkungan (PK4L). Ia sudah mengabdi di kampus yang mempunyai julukan kampus biru itu sejak 33 tahun terakhir. Angka yang sama saat putri sulungnya tersebut terlahir.

Momen penting dalam hidupnya ini pun baginya merupakan suatu rezeki yang memang sudah digariskan. “Saya percaya ini memang sudah rezeki, semua sudah diatur,” ucapnya.

Ia sempat terkenang, ketika anaknya Tyas masih kecil. Pernah diajaknya ke tempat kerjanya untuk ikut berpatroli pada akhir pekan.

Sembari berpatroli mengitari fakultas yang ada, dalam hatinya berkeinginan agar suatu hari melihat anaknya bisa berkuliah di salah satu gedung yang tiap hari dijaganya tersebut. “Saya kerja di tempatnya orang-orang pintar. Saya jadi ingin, anak saya nanti bisa seperti orang-orang ini,” ucapnya.

Dari keinginannya itu, Teguh pun mendukung anaknya untuk melanjutkan studi di Prodi Antropologi UGM selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas (SMA). Meski harus cukup banyak berkorban baik dalam segi moril maupun materiil.

“Hutang sana sini. Tapi saya yakin kalau uang itu digunakan untuk hal yang baik nanti akan ada penggantinya. Dan nyatanya sampai sekarang kami bisa hidup cukup, dan empat anak kami semua kuliah,” kisahnya.

Dukungan dari orangtuanya itu, membuat Tyas bersungguh dalam menempuh pendidikan. Ia menyelesaikan S1 dalam jangka waktu 3 tahun 7 bulan.

Setelah lulus, Tyas menjadi peneliti di Pusat Studi Kebijakan dan Kependudukan (PSKK) UGM. Kemudian, dia lalu memutuskan untuk melanjutkan ke S2.

“Meski awalnya saya tidak yakin bisa kuliah, Bapak yakinkan bahwa saya bisa kuliah. Tapi waktu saya mau S2 bapak tidak bisa membiayai lagi karena adik-adik saya juga masih sekolah semua,” ujarnya.

Tyas pun berambisi untuk membiayainya sendiri. Bekerja sampingan untuk menambah penghasilan, bahkan sampai bekerja di warung kopi hingga jualan. “Dulu pernah berjualan salah,” ucapnya.

Kerja kerasnya berbuah hasil, 2011 mampu mendapatkan gelar master bidang pariwisata dan menjadi dosen di Universitas Andalas Padang.

Pada 2013, ia kembali lagi ke Jogja untuk studi S3 dengan beasiswa BPPDN Dikti. “Saya ingin Bapak dan Ibu melihat saya dikukuhkan sebagai guru besar suatu hari kelak,” pungkasnya. (JPC/ras)