Popo Dituntut Ringan

Dua terdakwa kasus korupsi dana hibah Askab PSSI Jember rupanya tidak sampai menerima tuntutan maksimal. Jaksa Penuntut Umum (JPU) hanya membanderol hukuman 1 tahun 6 bulan. Pertimbangannya, karena semua kerugian negara sudah dikembalikan.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Jember, Asih SH saat diwawancarai mengaku, pihaknya menuntut Diponegoro alias Popo (mantan ketua Askab PSSI Jember) dan Ari Dwi Susanto (mantan bendahara Askab PSSI Jember) dengan hukuman 1,5 tahun penjara. “Mereka juga kami tuntut bayar denda Rp 50 juta,” ungkapnya.

Menurut Asih, pihaknya tidak bisa menuntut maksimal karena sesuai SOP di institusinya. Tersangka korupsi yang pengembalian kerugian negara secara penuh berhak mendapatkan keringanan tuntutan. Terlebih, Popo sudah mengembalikan duit Rp 2,6 miliar yang diduga telah dikorupsinya bersama Ari Dwi.

Asih menjelaskan, persoalan siapa pun yang mengembalikan kerugian duit negara, pihaknya tidak begitu mempermasalahkan. Namun yang pasti, duit pengembaliannya penuh sesuai hitungan Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Jatim. “Semua uang yang dititipkan ke Kejari Jember dari pihak Diponegoro,” akunya.

Sejumlah duit yang dinilai merugikan negara karena korupsi yang dilakukan mantan ketua dan mantan bendahara Askab PSSI Jember, diserahkan dalam dua tahap.

Seperti data yang telah dihimpun koran ini, tahap pertama diserahkan duit Rp 420 juta. Kemudian, di tahap kedua ada sekitar Rp 2,1 miliar yang dititipkan. Sehingga hitungannya, kerugian negara sekitar Rp 2,5 miliar sudah genap terbayar.

Padahal, sebelumnya tim JPU Kejari Jember sudah menyiapkan tuntutan, sesuai Pasal 3 Undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pasal tersebut menegaskan, ada tuntutan hukuman pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan atau denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 1 miliar

Meski demikian, Asih menegaskan, pihak JPU juga mempertimbangkan status Popo yang sempat buron. “Namun status DPO juga dijadikan pertimbangan,” imbuhnya

Sementara itu, penasehat hukum terdakwa Popo, Mustofa Abidin menyatakan, akan terus melakukan pembelaan supaya kliennya tidak dijatuhi hukuman berat. Beberapa sikap Popo di persidangan yang dinilainya sangat kooperatif, diharapkan bisa dinilai secara objektif oleh majelis hakim.

Bahkan, kata Mustofa, pihaknya telah menyiapkan materi pembelaan pada sidang berikutnya, yang tentunya fokus pada pertimbangan sikap tanggung jawab Popo. Yakni mengembalikan seluruh duit yang dinilai kerugian negara. “Bahkan klien kami sudah sangat kooperatif,” imbuhnya.

(jr/rul/hdi/das/JPR)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :