Peninggalan Majapahit Dipermak

Di Dusun Beteng, Desa Sidomekar, Kecamatan Semboro memiliki sebuah situs yang dipercaya sebagai peninggalan kerajaan Majapahit. Situs yang diperkirakan berusia ratusan tahun tersebut sering dikunjungi masyarakat. Baik masyarakat desa bahkan masyarakat dari luar kota. Ada yang hanya mengisi waktu libur bersama keluarga, ada juga yang hanya untuk menikmati panorama di daerah tersebut.

Kesan pertama setelah memasuki kawasan situs adalah angker. Jelas tepat berada di tengah-tengah situs tumbuh pohon beringin yang berukuran besar. Pohon beringin yang diketahui memiliki usia puluhan tahun itu membuat suasana situs terlihat seperti pada zamannya dulu.

Untuk membuat banyak masyarakat berkunjung, pemerintah desa dan masyarakat Desa Sidomekar, Semboro melakukan beberapa upaya. Diantaranya membuat keberadaan situs menjadi lokasi nyaman berwisata. Sehingga situs yang oleh masyarakat sekitar disebut Mbah Beteng ini mampu menjadi lokasi wisata yang juga menawarkan edukasi sejarah bagi masyarakat.

Siang kemarin, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) “Jeruk Siem” Desa Sidomekar melalukan bersih-bersih Situs Beteng. Terlihat juga beberapa masyarakat yang ikut nimbrung dan melalukan bersih-bersih situs. Rupanya mereka sudah rutin melakukan aksi bersih-bersih tersebut. Bahkan pihak desa sudah menjadwal masyarakat untuk melakukan bersih-bersih di situs tersebut.

Namun pada bersih-bersih kali ini ada yang berbeda. Mereka mulai membersihkan rerimbunan pohon yang ada di sekitaran Mbah Beteng. Bahkan terlihat ada pohon yang juga dipotong sehingga terlihat tidak seram atau menakutkan lagi. Sementara ada beberapa orang juga memulai menggali fondasi untuk pembuatan gazebo.

Mereka ingin ada yang berbeda dari Situs Beteng. Tentu perbedaan itu mampu menarik masyarakat untuk berlama-lama berada di situs bersejarah itu.  Atas dasar tersebut Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Sidomekar memiliki inisiatif untuk membuat gazebo. Gazebo direncanakan bakal menjadi lokasi santai bagi para pengunjung. Sehingga pengunjung yang tidak membawa alas untuk menikmati situs bisa duduk bersama keluarga pada gazebo tersebut.

Pembangunan gazebo itu juga dilakukan dengan hasil swadaya. Istilahnya patungan. Mereka secara cuma-cuma memberikan beberapa kebutuhan untuk keperluan pembuatan gazebo tersebut. Dengan begitu masyarakat akan memiliki kewajiban sendiri untuk melakukan perawatan terhadap bangunan yang mereka buat dari hasil patungan tersebut.

Sehingga pembangunan yang dikoordinatori Pokdarwis Desa Sidomekar ini menggunakan barang seadanya. Mulai dari pohon pinang, bambu, dan daun serai untuk atap gazebo. “Ini merupakan peninggalan zaman dulu. Konon di sini merupakan salah satu benteng dari kerajaan Majapahit. Patut kiranya kami menjaga situs ini agar tetap terawat,” kata Sugeng Priyadi, Kades Sidomekar.

Dia menambahkan, keberadaan Situs Beteng tidak bisa dibiarkan begitu saja. Dengan mengandalkan Mbah Ngadulhadi, 70, seorang juru kunci untuk melalukan perawatan. Perlu peran aktif dari masyarakat dan pemerintah tentunya, agar keberadaan situs tidak hanya sebagai peninggalan saja, terlebih mampu menjadi wadah sejarah untuk masyarakat luas.

Ke depan kata dia, ada mimpi besar terhadap keberadaan Situs Beteng tersebut sehingga tidak hanya menjadi wisata yang dikunjungi begitu saja oleh masyarakat. Paling tidak mereka yang datang mampu mengenal sejarah dari Situs Beteng itu sendiri. “Jika sudah demikian adanya, keberadaan situs tidak hanya menjadi destinasi wisata religi saja, melainkan juga mampu menjadi wisata edukasi sejarah,” tuturnya. Apalagi ada ruangan khusus yang sengaja disediakan oleh juru kunci untuk menyimpan dan merawat barang-barang peninggalan Majapahit tersebut.

Dia berharap, tidak hanya beberapa pihak saja yang menjadi imbas atas keberadaan situs. Masyarakat di sekitar situs perlu diajak bersama-sama untuk meramaikan situs sehingga ada kontribusi bagi masyarakat sekitar. “Harapan saya jelas, situs ini akan dibangun sedemikain rupa. Selain untuk menjaga keberadaan situs, upaya ini untuk memberikan kontribusi bagi masyarakat yang ada di sekitar situs dan Desa Sidomekar tentunya,” tutupnya.

(jr/jum/mar/wah/das/JPR)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :