Kasus SLB Kembali Buntu

COBA SELESAIKAN MASALAH: PMI Jember bersama Kepala SLB C Jember, Kepsek Sekolah Inklusi, perwakilan Dispendik, serta Asisten II Sekda Jember duduk bersama untuk selesaikan polemik SLB yang menempati Gedung PMI di Jalan Jawa (DWI Siswanto/RADAR JEMBER)

Palang Merah Indonesia (PMI) Jember punya komitmen tinggi untuk bergerak di bidang kemanusiaan. Termasuk untuk menyelesaikan permasalahan SLB yang hingga kini terus menempati Gedung PMI di Jalan Jawa. Meski belum ada kesepakatan tuntas dengan yayasan SLB tersebut, tetapi PMI siap membantu.

Pertemuan untuk menyatukan persepsi dan menyelesaikan masalah tersebut berjalan lancar serta tenang di ruang Asisten II Seketaris Daerah (Sekda) Pemkab Jember, kemarin (20/3). Sayangnya, ketua Yayasan Taman Pendidikan dan Asuh SLB Jember Widi Prasetyo tidak hadir. Padahal, ketua PMI Jember, Zaenal Marzuki, Asisten II Edy Budi Susilo, Kepsek SLBC Jember, Kepsek Inklusi Jember, dan perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) turut hadir.

Zaenal Marzuki menjelaskan, pada prinsipnya PMI ini adalah organisasi yang bergerak di bidang kemanusiaan. Tidak hanya pelayanan donor darah saja, tetapi juga kebencanaan, termasuk memperhatikan anak berkebutuhan khusus. Bahkan, yayasan SLB Jember ini didirikan oleh orang-orang pengurus PMI.

Belakangan ini banyak kabar miring mengenai PMI Jember yang menggusur SLB Jember. Zaenal menjelaskan, bukan menggusur, akan tetapi gedung yang ditempati SLB Jember adalah milik PMI Jember.

Gedung SLB Jember pertama kali dibangun oleh SLB sendiri di atas tanah PMI Jember. Lantas, pada 3 Mei 1998 yayasan SLB Jember mengajukan surat permohonan realisasi penggantian gedung SLB di Jalan Jawa no 57 tersebut. “Sudah kami ganti senilai Rp 150 juta,” katanya.

Lanjut Zaenal, yayasan bersedia pindah tahun ajaran 1998/1999. Namun, hingga kini tetap menempati Gedung PMI  Jember di Jalan Jawa. Jika SLB ini pindah ke Bintoro, PMI juga siap menyediakan armada. Seandainya, tambah Zaenal, yayasan menyerahkan SLB ini ke PMI, maka akan kami bina betul. Sehingga, menurut dia, yayasan seharusnya menjamin keberlangsungan SLB Jember ini. Menurut dia, pendidikan siswa berkebutuhan khusus ini tidak hanya untuk mendapatkan ilmu baca dan tulis saja. “Tapi yakinkan siswa difabel ini punya potensi yang nantinya dia mampu hidup mandiri. Pembelajarannya pun ada di luar sekolah,” paparnya.

Sementara Asisten II Sekda Pemkab Jember Edy Budi Susilo menambahkan, pemerintah akan mencoba mencari solusi terbaik. Salah satunya mengurai persoalan dan ada alternatif pemindahan.

Dia menawarkan ada solusi pindah di belakang Hotel Ardi Chandra atau di daerah Liposos, Kaliwates. Dengan SLB itu pindah, maka PMI bisa melakukan pembenahan revitalisasi gedung. “Saya berharap hasil rapat ini dilaporkan ke Pak Widi selaku Ketua Yayasan SLB Jember,” katanya.

Sementara Pujiastuti, Kepsek SLB C Jember ini menyampaikan, gedung PMI di pakai sekolah memang tidak cocok. Artinya, banyak fasilitas pendukung siswa itu kurang. Tetapi, kata dia, jika pindah lembaga, mereka ini sulit beradaptasi dan ada ketakutan trauma. Total siswanya ada 42, dibagi SMP 6 siswa, SMA 9 siswa, dan SD 27 siswa. Jumlah tersebut juga belum masuk SLB Inklusi yang juga menempati gedung milik PMI Jember tersebut.

(jr/dwi/hdi/das/JPR)