Jembatan Gantung Putus Dihantam Banjir

SETELAH PUTUS: Jembatan yang sempat putus setelah dihantam banjir, Februari 2018, langsung diperbaiki secara gotong-royong. (Jumai/Radar Jember)

Jembatan gantung yang ada di Dusun Mandilis, Desa Sanenrejo, Tempurejo benar-benar bermanfaat. Jembatan yang terbuat dari papan sirap dan bambu itu hanya ‘digantung’, menggunakan seling/kawat berserat yang dibentangkan antara pohon dan penyangga dari kayu besar.

Jembatan dengan panjang sekitar 35 meter dengan lebar 2,5 meter ini hampir tiap hari itu tidak pernah sepi. Sebab, warga Mandilis maupun warga Dusun Baban Barat, Desa Mulyorejo selalu menggunakan akses itu. ”Warga yang rumahnya di Dusun Baban Barat, Silo yang akan ke Tempurejo malah lebih dekat,” kata Didik, 38, warga Dusun Mandilis, Desa Sanenrejo kepada Jawa Pos Radar Jember kemarin. Dengan jembatan gantung yang serba darurat ini, warga pun tidak perlu melewati jalur yang lebih jauh.

Warga Silo yang hendak ke Tempurejo pun cukup lewat di jembatan gantung ini. Demikian juga sebaliknya. ”Memang jalan yang dilewati tidak semulus kalau melewati jalur yang jauh karena sudah diaspal,” lanjutnya. Karena jarak dari jembatan gantung ke Dusun Baban Barat, Desa Mulyorejo, Silo tidak terlalu jauh.

Jembatan gantung putus,

SEBELUM PUTUS: Jembatan gantung yang menghubungkan Dusun Mandilis, Desa Sanenrejo (Tempurejo) dengan Dusun Baban Barat, Desa Mulyorejo (Silo), sebelum dihantam banjir. (Jumai/Radar Jember)

Memang jembatan gantung yang dibangun secara gotong-royong ini beberapa kali dipindah setelah putus dihantam banjir. “Seingatku, lima kali jembatan gantung ini tempatnya berpindah-pindah, karena kebanjiran,” lanjutnya.

Sebelumnya, ada jembatan di bagian hulu sungai. Namun setelah dihantam banjir beberapa tahun lalu, pindah ke bagian hilir. “Jembatan yang di lokasi ini, sudah dibangun yang kedua kalinya,” ujarnya.

Sementara Sutikno, kepala Desa Sanenrejo mengatakan, dengan adanya jembatan gantung ini warga di dua desa benar-benar tertolong. Petani yang rumahnya di Desa Sanenrejo yang hendak ke lahan pertaniannya di seberang sungai sekarang lebih nyaman. ”Memang sangat rawan ketika musim hujan. Karena kalau sungai air sungai naik, jembatan kena imbasnya,” ujar Sutikno.

Karena itulah, ketika rusak sedikit saja, warga yang biasa melintas di jembatan itu langsung melakukan perbaikan.

(jr/jum/hdi/das/JPR)

IKLAN

Reporter :

Fotografer :

Editor :