alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 9 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Pertanian 2020 ‘Pasrah’ pada Cuaca

HKTI: Pemberdayaan dan Pendampingan Perlu Diperbaiki

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terobosan di bidang pertanian pada 2020 nyaris tak ada yang membanggakan. Petani seakan-akan harus banting tulang sendiri demi menaikkan produksinya. Hal ini terungkap dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Tahun Anggaran 2020 pada era sebelum Bupati Jember Hendy Siswanto. Kendati kegiatan tahun lalu, Hendy tetap membacanya agar Jember tidak dapat rapor merah.

Dalam LKPJ itu disebut, produksi pertanian dan perikanan meningkat. Sayangnya, faktor pendongkraknya terjadi karena iklim. Bukan karena alat-alat pertanian yang baik ataupun dampak perbaikan irigasi, dan bukan karena pelatihan-pelatihan terhadap petani dan nelayan.

Hendy menyebut, produksi padi pada 2019 sebanyak 941 ribu ton dan meningkat di tahun 2020. “Naik menjadi 991 ribu ton,” kata Hendy dalam pidato Nota Pengantar LKPJ 2020. Tak hanya itu, produksi jagung meningkat dari 352 di tahun 2019 menjadi 411 ribu ton di tahun 2020.

Mobile_AP_Rectangle 2

Faktor pendongkraknya disebut karena curah hujan yang stabil. Pada pertengahan tahun, faktor iklim dinilai cocok untuk padi dan jagung. Untuk itu, ke depan curah hujan diharapkan dapat mendorong produksi padi dan jagung.

Pada sektor perikanan produksinya juga meningkat. Tahun 2020, produksi perikanan tangkap 9.963 ton, budi daya tambak 1.377 ton, dan budi daya mina padi 4,6 ton. “Pemerintah Kabupaten Jember juga sudah merealisasikan program perlindungan melalui asuransi nelayan,” beber Hendy, yang selanjutnya menyebut, sebanyak 5.578 nelayan telah diikutkan asuransi.

Mencermati LKPJ itu, Ketua HKTI Jember Jumantoro justru tersenyum. Menurut dia, faktor curah hujan yang dapat meningkatkan produksi padi menjadi alasan yang cukup lucu. “Itu menunjukkan pemerintahan sebelumnya tidak punya program cemerlang. Jangankan program, bantuan alat pertanian saja ditolak,” katanya.

Jumantoro menyebut, hasil produksi pertanian meningkat tidak bisa dipasrahkan begitu saja pada cuaca. “Terus, kalau curah hujan tidak baik, mau menyalahkan panas yang berakibat kekeringan. Mau hujan atau mau kemarau, irigasi pertanian harus diperbaiki. Itu baru program pemerintah,” katanya.

Dikatakannya, hasil pertanian meningkat karena di balik itu ada semangat petani di masa pandemi. Yaitu kegigihan untuk bercocok tanam. “Distribusi pupuk perlu diperbaiki lagi. Itu harapan petani. Kalau alam, itu sudah dengan Yang Mahakuasa. Sebagai hamba, kita jangan pasrah pada alam,” tuturnya.

Untuk itulah, Pemkab Jember ke depan perlu melakukan terobosan-terobosan nyata. Yaitu mengatur sistem irigasi, baik di musim hujan maupun kemarau. “Hal terpenting, pemberdayaan dan pendampingan harus tetap dilakukan. Bagaimana pemerintah punya program untuk meningkatkan produksi petani. Bukan pasrah pada iklim,” katanya.

Jumantoro berharap, Pemkab Jember ke depan juga mengontrol peredaran pupuk. Selain itu, mengatur pendistribusian pupuk bersubsidi dan nonsubsidi dengan baik. “Kalau ada pupuk ilegal atau tidak jelas sumbernya, perlu ditertibkan,” ulasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi menyampaikan, LKPJ 2020 harus tetap disampaikan, mengingat belum dilakukan oleh bupati sebelumnya. Kendati program dan kegiatan melekat pada mantan bupati, namun LKPJ menjadi penting untuk dibacakan di era Bupati Hendy Siswanto. “Kalau LKPJ tidak dilaksanakan, Jember bisa dapat rapor merah,” tuturnya.

Itqon melanjutkan, guna mendapatkan dana insentif daerah (DID) dari Kemendagri, maka LKPJ harus disampaikan. “Jika LKPJ tidak diselesaikan tepat waktu, Jember tidak akan dapat DID,” pungkas Itqon.

 

 

Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terobosan di bidang pertanian pada 2020 nyaris tak ada yang membanggakan. Petani seakan-akan harus banting tulang sendiri demi menaikkan produksinya. Hal ini terungkap dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Tahun Anggaran 2020 pada era sebelum Bupati Jember Hendy Siswanto. Kendati kegiatan tahun lalu, Hendy tetap membacanya agar Jember tidak dapat rapor merah.

Dalam LKPJ itu disebut, produksi pertanian dan perikanan meningkat. Sayangnya, faktor pendongkraknya terjadi karena iklim. Bukan karena alat-alat pertanian yang baik ataupun dampak perbaikan irigasi, dan bukan karena pelatihan-pelatihan terhadap petani dan nelayan.

Hendy menyebut, produksi padi pada 2019 sebanyak 941 ribu ton dan meningkat di tahun 2020. “Naik menjadi 991 ribu ton,” kata Hendy dalam pidato Nota Pengantar LKPJ 2020. Tak hanya itu, produksi jagung meningkat dari 352 di tahun 2019 menjadi 411 ribu ton di tahun 2020.

Mobile_AP_Half Page

Faktor pendongkraknya disebut karena curah hujan yang stabil. Pada pertengahan tahun, faktor iklim dinilai cocok untuk padi dan jagung. Untuk itu, ke depan curah hujan diharapkan dapat mendorong produksi padi dan jagung.

Pada sektor perikanan produksinya juga meningkat. Tahun 2020, produksi perikanan tangkap 9.963 ton, budi daya tambak 1.377 ton, dan budi daya mina padi 4,6 ton. “Pemerintah Kabupaten Jember juga sudah merealisasikan program perlindungan melalui asuransi nelayan,” beber Hendy, yang selanjutnya menyebut, sebanyak 5.578 nelayan telah diikutkan asuransi.

Mencermati LKPJ itu, Ketua HKTI Jember Jumantoro justru tersenyum. Menurut dia, faktor curah hujan yang dapat meningkatkan produksi padi menjadi alasan yang cukup lucu. “Itu menunjukkan pemerintahan sebelumnya tidak punya program cemerlang. Jangankan program, bantuan alat pertanian saja ditolak,” katanya.

Jumantoro menyebut, hasil produksi pertanian meningkat tidak bisa dipasrahkan begitu saja pada cuaca. “Terus, kalau curah hujan tidak baik, mau menyalahkan panas yang berakibat kekeringan. Mau hujan atau mau kemarau, irigasi pertanian harus diperbaiki. Itu baru program pemerintah,” katanya.

Dikatakannya, hasil pertanian meningkat karena di balik itu ada semangat petani di masa pandemi. Yaitu kegigihan untuk bercocok tanam. “Distribusi pupuk perlu diperbaiki lagi. Itu harapan petani. Kalau alam, itu sudah dengan Yang Mahakuasa. Sebagai hamba, kita jangan pasrah pada alam,” tuturnya.

Untuk itulah, Pemkab Jember ke depan perlu melakukan terobosan-terobosan nyata. Yaitu mengatur sistem irigasi, baik di musim hujan maupun kemarau. “Hal terpenting, pemberdayaan dan pendampingan harus tetap dilakukan. Bagaimana pemerintah punya program untuk meningkatkan produksi petani. Bukan pasrah pada iklim,” katanya.

Jumantoro berharap, Pemkab Jember ke depan juga mengontrol peredaran pupuk. Selain itu, mengatur pendistribusian pupuk bersubsidi dan nonsubsidi dengan baik. “Kalau ada pupuk ilegal atau tidak jelas sumbernya, perlu ditertibkan,” ulasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi menyampaikan, LKPJ 2020 harus tetap disampaikan, mengingat belum dilakukan oleh bupati sebelumnya. Kendati program dan kegiatan melekat pada mantan bupati, namun LKPJ menjadi penting untuk dibacakan di era Bupati Hendy Siswanto. “Kalau LKPJ tidak dilaksanakan, Jember bisa dapat rapor merah,” tuturnya.

Itqon melanjutkan, guna mendapatkan dana insentif daerah (DID) dari Kemendagri, maka LKPJ harus disampaikan. “Jika LKPJ tidak diselesaikan tepat waktu, Jember tidak akan dapat DID,” pungkas Itqon.

 

 

Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Terobosan di bidang pertanian pada 2020 nyaris tak ada yang membanggakan. Petani seakan-akan harus banting tulang sendiri demi menaikkan produksinya. Hal ini terungkap dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ) Akhir Tahun Anggaran 2020 pada era sebelum Bupati Jember Hendy Siswanto. Kendati kegiatan tahun lalu, Hendy tetap membacanya agar Jember tidak dapat rapor merah.

Dalam LKPJ itu disebut, produksi pertanian dan perikanan meningkat. Sayangnya, faktor pendongkraknya terjadi karena iklim. Bukan karena alat-alat pertanian yang baik ataupun dampak perbaikan irigasi, dan bukan karena pelatihan-pelatihan terhadap petani dan nelayan.

Hendy menyebut, produksi padi pada 2019 sebanyak 941 ribu ton dan meningkat di tahun 2020. “Naik menjadi 991 ribu ton,” kata Hendy dalam pidato Nota Pengantar LKPJ 2020. Tak hanya itu, produksi jagung meningkat dari 352 di tahun 2019 menjadi 411 ribu ton di tahun 2020.

Faktor pendongkraknya disebut karena curah hujan yang stabil. Pada pertengahan tahun, faktor iklim dinilai cocok untuk padi dan jagung. Untuk itu, ke depan curah hujan diharapkan dapat mendorong produksi padi dan jagung.

Pada sektor perikanan produksinya juga meningkat. Tahun 2020, produksi perikanan tangkap 9.963 ton, budi daya tambak 1.377 ton, dan budi daya mina padi 4,6 ton. “Pemerintah Kabupaten Jember juga sudah merealisasikan program perlindungan melalui asuransi nelayan,” beber Hendy, yang selanjutnya menyebut, sebanyak 5.578 nelayan telah diikutkan asuransi.

Mencermati LKPJ itu, Ketua HKTI Jember Jumantoro justru tersenyum. Menurut dia, faktor curah hujan yang dapat meningkatkan produksi padi menjadi alasan yang cukup lucu. “Itu menunjukkan pemerintahan sebelumnya tidak punya program cemerlang. Jangankan program, bantuan alat pertanian saja ditolak,” katanya.

Jumantoro menyebut, hasil produksi pertanian meningkat tidak bisa dipasrahkan begitu saja pada cuaca. “Terus, kalau curah hujan tidak baik, mau menyalahkan panas yang berakibat kekeringan. Mau hujan atau mau kemarau, irigasi pertanian harus diperbaiki. Itu baru program pemerintah,” katanya.

Dikatakannya, hasil pertanian meningkat karena di balik itu ada semangat petani di masa pandemi. Yaitu kegigihan untuk bercocok tanam. “Distribusi pupuk perlu diperbaiki lagi. Itu harapan petani. Kalau alam, itu sudah dengan Yang Mahakuasa. Sebagai hamba, kita jangan pasrah pada alam,” tuturnya.

Untuk itulah, Pemkab Jember ke depan perlu melakukan terobosan-terobosan nyata. Yaitu mengatur sistem irigasi, baik di musim hujan maupun kemarau. “Hal terpenting, pemberdayaan dan pendampingan harus tetap dilakukan. Bagaimana pemerintah punya program untuk meningkatkan produksi petani. Bukan pasrah pada iklim,” katanya.

Jumantoro berharap, Pemkab Jember ke depan juga mengontrol peredaran pupuk. Selain itu, mengatur pendistribusian pupuk bersubsidi dan nonsubsidi dengan baik. “Kalau ada pupuk ilegal atau tidak jelas sumbernya, perlu ditertibkan,” ulasnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Jember Itqon Syauqi menyampaikan, LKPJ 2020 harus tetap disampaikan, mengingat belum dilakukan oleh bupati sebelumnya. Kendati program dan kegiatan melekat pada mantan bupati, namun LKPJ menjadi penting untuk dibacakan di era Bupati Hendy Siswanto. “Kalau LKPJ tidak dilaksanakan, Jember bisa dapat rapor merah,” tuturnya.

Itqon melanjutkan, guna mendapatkan dana insentif daerah (DID) dari Kemendagri, maka LKPJ harus disampaikan. “Jika LKPJ tidak diselesaikan tepat waktu, Jember tidak akan dapat DID,” pungkas Itqon.

 

 

Jurnalis : Nur Hariri
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Perketat dengan 5 Pos Penyekatan

Masih Megah Meski Tak Berfungsi

Hanya Dijual Lewat Daring

Kemangi, Kunci Wangi Alami

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Usulkan 378 Napi Dapat Remisi

Ancam Tutup Sekolah

Pemerintah Harus Intervensi

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

× Info Langganan Koran