alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 9 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Puasa di Lingkungan Majemuk dan Plural

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puasa memang hal yang selalu menarik untuk dibicarakan. Karena selain memiliki nilai pahala yang luar biasa, puasa juga dipandang sebagai media dalam meningkatkan iman dan takwa serta melatih diri kita untuk kuat menahan godaan hawa nafsu. Lebih-lebih pada bulan Ramadan di mana puasa di bulan ini adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim, maka oleh karenanya siapa pun yang beragama Islam tidak boleh tidak dituntut untuk melaksanakan sebulan penuh selama bulan Ramadan pada waktu siang harinya.

Puasa adalah hal yang sangat memungkinkan untuk melatih nafsu kita agar tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar norma-norma, baik norma sosial, hukum, lebih-lebih agama. Apalagi jika kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural. Sebab, biasanya orang yang hidup di lingkungan dengan masyarakat yang berwarna dibutuhkan kebiasaan untuk menerima keadaan lingkungan sekitar dengan segudang perbedaan dan permasalahannya.

Di Indonesia sebagaimana kita mafhum, bahwa kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural. Tidak seperti di negara-negara yang sudah secara masif melaksanakan aturan-aturan yang mendukung semua kegiatan ibadah umat Islam yang berada di negara tersebut. Sehingga dengan aturan yang ada, umat Islam bisa melaksanakan ibadah dengan tenang dan tumakninah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di Indonesia dibutuhkan kesabaran dan kesadaran lebih serta sikap toleransi yang tinggi dalam hidup sosial dan beragama, mengingat banyaknya perbedaan di-antara masyarakat kita.

Dengan adanya perbedaan keyakinan dan agama yang sangat beragam, maka kita akan banyak menemui tindakan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Semisal masih banyaknya warung makan buka disiang hari, yang masih tetap melayani para pembeli dan bahkan makan di warung tersebut. Namun dengan kondisi seperti ini, bisa jadi puasa kita akan memiliki pahala lebih dan bisa jadi ketahanan kita dalam melatih hawa nafsu akan lebih kuat karena tantangannya juga lebih berat dibandingkan dengan tempat-tempat atau lingkungan yang tidak banyak di temukan hambatan dan godaan.

Sebagai muslim yang sedang melakukan puasa, tentunya mau tidak mau kita akan merasa terganggu. Namun yang perlu disadari bahwa tidak semua masyarakat beragama Islam atau bahkan tidak semua orang memiliki keimanan yang cukup untuk sekadar menahan diri dengan tidak berjualan makanan di siang hari yang akan mengganggu kegiatan orang yang sedang berpuasa, atau jangan-jangan mereka memang masih sangat membutuhkan untuk mengais rezeki dengan memanfaatkan para pembeli yang memang sangat membutuhkan makanan disiang hari. Semisal para musafir ataupun orang-orang non muslim yang memang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Begitu pula masih bukanya tempat-tempat usaha yang dikategorikan memiliki unsur maksiat terkadang juga menjadi persoalan tersendiri bagi umat Islam yang sedang melaksanakan puasa.

Sebagai muslim sejati, seharusnya kita tidak akan terganggu dengan semua hal tersebut, karena ibadah puasa memang untuk melatih kita dalam menghadapi ujian-ujian hawa nafsu yang terkait dengan semua hal yang menjadikan penyebab batalnya puasa kita.

Bagi umat Islam yang memang bersungguh-sungguh dan punya niatan yang mantap untuk benar-benar berpuasa, tentunya semua itu tidak akan menjadi persoalan bahkan akan dijadikan tantangan untuk lebih menyempurnakan ibadah puasanya. Karena dengan keyakinan dan ketakwaan yang kita miliki, maka kita tidak akan pernah goyah dengan semua tantangan dan rintangan yang dihadapi.

Memang kemampuan manusia dalam melaksanakan kewajiban ibadah ada berbagai tingkatan, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Imam Al Ghazali membagi tingkatan puasa seseorang menjadi tiga tingkatan.

Pertama, puasanya orang awam (orang kebanyakan). Yakni puasa seseorang yang intinya hanya menahan makan, minum dan menjaga kemaluan dari godaan sahwatnya saja. Menurut Al Ghazali ini adalah tingkatan puasa yang paling rendah.

Kedua, puasanya orang khusus. Yakni seseorang yang puasa, tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan godaan syahwat. Namun juga menahan diri dari pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Dan puasa ini adalah puasanya orang-orang saleh.

Ketiga, adalah puasa khususnya orang yang khusus. Yakni seseorang yang puasa hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Selain itu juga melakukan puasa hati dari pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah SWT. Menurutnya tingkatan, puasa ini adalah tingkatan puasanya para nabi, shiddiqiin, dan muqarrabin.

Pandangan Al-Ghazali tentang tingkatan puasa seseorang tentunya menjadi bahan telaah buat kita semua. Sebab, setiap orang memiliki tingkatan puasanya masing-masing. Tentunya dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang. Dan kita semua tidak bisa memaksakan tingkatan puasa orang lain seperti puasa yang kita lakukan. Terpenting untuk kita sadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu sebetulnya kita berada pada tingkatan yang mana. Wallahu a’lam. Semoga saja puasa kita akan mendapatkan nilai yang terbaik disisi Allah SWT.

Apa pun tingkatan puasa yang bisa saya lakukan, yang bisa Anda lakukan yang terpenting adalah bagaimana puasa kita mampu menjadikan kita sebagai muslim yang lebih baik. Yaitu dengan meningkatnya rasa keimanan dan ketakwaan. Sehingga puasa yang dilakukan betul-betul membawa pada peringkat muslim yang lebih baik dalam pandangan Allah SWT. Dan yang perlu dipahami bahwa segala kebaikan dan peningkatan keimanan kita tidak lepas dari hidayah dan pertolongan Allah SWT. Oleh karenanya maka satu-satunya jalan hanya berupaya menjadi lebih baik, memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Kalau Allah sudah akan membuat kita sesat, maka tidak ada satu pun yang dapat memberi petunjuk (selain Allah), dan apabila Allah sudah memberikan Petunjuk, maka tidak akan ada satu pun yang dapat membuat kita sesat (selain Allah).

*) Penulis adalah Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Bondowoso dan Kepala TK Annawawi.

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puasa memang hal yang selalu menarik untuk dibicarakan. Karena selain memiliki nilai pahala yang luar biasa, puasa juga dipandang sebagai media dalam meningkatkan iman dan takwa serta melatih diri kita untuk kuat menahan godaan hawa nafsu. Lebih-lebih pada bulan Ramadan di mana puasa di bulan ini adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim, maka oleh karenanya siapa pun yang beragama Islam tidak boleh tidak dituntut untuk melaksanakan sebulan penuh selama bulan Ramadan pada waktu siang harinya.

Puasa adalah hal yang sangat memungkinkan untuk melatih nafsu kita agar tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar norma-norma, baik norma sosial, hukum, lebih-lebih agama. Apalagi jika kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural. Sebab, biasanya orang yang hidup di lingkungan dengan masyarakat yang berwarna dibutuhkan kebiasaan untuk menerima keadaan lingkungan sekitar dengan segudang perbedaan dan permasalahannya.

Di Indonesia sebagaimana kita mafhum, bahwa kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural. Tidak seperti di negara-negara yang sudah secara masif melaksanakan aturan-aturan yang mendukung semua kegiatan ibadah umat Islam yang berada di negara tersebut. Sehingga dengan aturan yang ada, umat Islam bisa melaksanakan ibadah dengan tenang dan tumakninah.

Mobile_AP_Half Page

Di Indonesia dibutuhkan kesabaran dan kesadaran lebih serta sikap toleransi yang tinggi dalam hidup sosial dan beragama, mengingat banyaknya perbedaan di-antara masyarakat kita.

Dengan adanya perbedaan keyakinan dan agama yang sangat beragam, maka kita akan banyak menemui tindakan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Semisal masih banyaknya warung makan buka disiang hari, yang masih tetap melayani para pembeli dan bahkan makan di warung tersebut. Namun dengan kondisi seperti ini, bisa jadi puasa kita akan memiliki pahala lebih dan bisa jadi ketahanan kita dalam melatih hawa nafsu akan lebih kuat karena tantangannya juga lebih berat dibandingkan dengan tempat-tempat atau lingkungan yang tidak banyak di temukan hambatan dan godaan.

Sebagai muslim yang sedang melakukan puasa, tentunya mau tidak mau kita akan merasa terganggu. Namun yang perlu disadari bahwa tidak semua masyarakat beragama Islam atau bahkan tidak semua orang memiliki keimanan yang cukup untuk sekadar menahan diri dengan tidak berjualan makanan di siang hari yang akan mengganggu kegiatan orang yang sedang berpuasa, atau jangan-jangan mereka memang masih sangat membutuhkan untuk mengais rezeki dengan memanfaatkan para pembeli yang memang sangat membutuhkan makanan disiang hari. Semisal para musafir ataupun orang-orang non muslim yang memang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Begitu pula masih bukanya tempat-tempat usaha yang dikategorikan memiliki unsur maksiat terkadang juga menjadi persoalan tersendiri bagi umat Islam yang sedang melaksanakan puasa.

Sebagai muslim sejati, seharusnya kita tidak akan terganggu dengan semua hal tersebut, karena ibadah puasa memang untuk melatih kita dalam menghadapi ujian-ujian hawa nafsu yang terkait dengan semua hal yang menjadikan penyebab batalnya puasa kita.

Bagi umat Islam yang memang bersungguh-sungguh dan punya niatan yang mantap untuk benar-benar berpuasa, tentunya semua itu tidak akan menjadi persoalan bahkan akan dijadikan tantangan untuk lebih menyempurnakan ibadah puasanya. Karena dengan keyakinan dan ketakwaan yang kita miliki, maka kita tidak akan pernah goyah dengan semua tantangan dan rintangan yang dihadapi.

Memang kemampuan manusia dalam melaksanakan kewajiban ibadah ada berbagai tingkatan, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Imam Al Ghazali membagi tingkatan puasa seseorang menjadi tiga tingkatan.

Pertama, puasanya orang awam (orang kebanyakan). Yakni puasa seseorang yang intinya hanya menahan makan, minum dan menjaga kemaluan dari godaan sahwatnya saja. Menurut Al Ghazali ini adalah tingkatan puasa yang paling rendah.

Kedua, puasanya orang khusus. Yakni seseorang yang puasa, tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan godaan syahwat. Namun juga menahan diri dari pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Dan puasa ini adalah puasanya orang-orang saleh.

Ketiga, adalah puasa khususnya orang yang khusus. Yakni seseorang yang puasa hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Selain itu juga melakukan puasa hati dari pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah SWT. Menurutnya tingkatan, puasa ini adalah tingkatan puasanya para nabi, shiddiqiin, dan muqarrabin.

Pandangan Al-Ghazali tentang tingkatan puasa seseorang tentunya menjadi bahan telaah buat kita semua. Sebab, setiap orang memiliki tingkatan puasanya masing-masing. Tentunya dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang. Dan kita semua tidak bisa memaksakan tingkatan puasa orang lain seperti puasa yang kita lakukan. Terpenting untuk kita sadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu sebetulnya kita berada pada tingkatan yang mana. Wallahu a’lam. Semoga saja puasa kita akan mendapatkan nilai yang terbaik disisi Allah SWT.

Apa pun tingkatan puasa yang bisa saya lakukan, yang bisa Anda lakukan yang terpenting adalah bagaimana puasa kita mampu menjadikan kita sebagai muslim yang lebih baik. Yaitu dengan meningkatnya rasa keimanan dan ketakwaan. Sehingga puasa yang dilakukan betul-betul membawa pada peringkat muslim yang lebih baik dalam pandangan Allah SWT. Dan yang perlu dipahami bahwa segala kebaikan dan peningkatan keimanan kita tidak lepas dari hidayah dan pertolongan Allah SWT. Oleh karenanya maka satu-satunya jalan hanya berupaya menjadi lebih baik, memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Kalau Allah sudah akan membuat kita sesat, maka tidak ada satu pun yang dapat memberi petunjuk (selain Allah), dan apabila Allah sudah memberikan Petunjuk, maka tidak akan ada satu pun yang dapat membuat kita sesat (selain Allah).

*) Penulis adalah Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Bondowoso dan Kepala TK Annawawi.

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Puasa memang hal yang selalu menarik untuk dibicarakan. Karena selain memiliki nilai pahala yang luar biasa, puasa juga dipandang sebagai media dalam meningkatkan iman dan takwa serta melatih diri kita untuk kuat menahan godaan hawa nafsu. Lebih-lebih pada bulan Ramadan di mana puasa di bulan ini adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim, maka oleh karenanya siapa pun yang beragama Islam tidak boleh tidak dituntut untuk melaksanakan sebulan penuh selama bulan Ramadan pada waktu siang harinya.

Puasa adalah hal yang sangat memungkinkan untuk melatih nafsu kita agar tidak terjerumus pada perbuatan yang melanggar norma-norma, baik norma sosial, hukum, lebih-lebih agama. Apalagi jika kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural. Sebab, biasanya orang yang hidup di lingkungan dengan masyarakat yang berwarna dibutuhkan kebiasaan untuk menerima keadaan lingkungan sekitar dengan segudang perbedaan dan permasalahannya.

Di Indonesia sebagaimana kita mafhum, bahwa kita hidup di lingkungan yang sangat majemuk dan plural. Tidak seperti di negara-negara yang sudah secara masif melaksanakan aturan-aturan yang mendukung semua kegiatan ibadah umat Islam yang berada di negara tersebut. Sehingga dengan aturan yang ada, umat Islam bisa melaksanakan ibadah dengan tenang dan tumakninah.

Di Indonesia dibutuhkan kesabaran dan kesadaran lebih serta sikap toleransi yang tinggi dalam hidup sosial dan beragama, mengingat banyaknya perbedaan di-antara masyarakat kita.

Dengan adanya perbedaan keyakinan dan agama yang sangat beragam, maka kita akan banyak menemui tindakan yang tidak sesuai dengan harapan kita. Semisal masih banyaknya warung makan buka disiang hari, yang masih tetap melayani para pembeli dan bahkan makan di warung tersebut. Namun dengan kondisi seperti ini, bisa jadi puasa kita akan memiliki pahala lebih dan bisa jadi ketahanan kita dalam melatih hawa nafsu akan lebih kuat karena tantangannya juga lebih berat dibandingkan dengan tempat-tempat atau lingkungan yang tidak banyak di temukan hambatan dan godaan.

Sebagai muslim yang sedang melakukan puasa, tentunya mau tidak mau kita akan merasa terganggu. Namun yang perlu disadari bahwa tidak semua masyarakat beragama Islam atau bahkan tidak semua orang memiliki keimanan yang cukup untuk sekadar menahan diri dengan tidak berjualan makanan di siang hari yang akan mengganggu kegiatan orang yang sedang berpuasa, atau jangan-jangan mereka memang masih sangat membutuhkan untuk mengais rezeki dengan memanfaatkan para pembeli yang memang sangat membutuhkan makanan disiang hari. Semisal para musafir ataupun orang-orang non muslim yang memang tidak diwajibkan untuk berpuasa. Begitu pula masih bukanya tempat-tempat usaha yang dikategorikan memiliki unsur maksiat terkadang juga menjadi persoalan tersendiri bagi umat Islam yang sedang melaksanakan puasa.

Sebagai muslim sejati, seharusnya kita tidak akan terganggu dengan semua hal tersebut, karena ibadah puasa memang untuk melatih kita dalam menghadapi ujian-ujian hawa nafsu yang terkait dengan semua hal yang menjadikan penyebab batalnya puasa kita.

Bagi umat Islam yang memang bersungguh-sungguh dan punya niatan yang mantap untuk benar-benar berpuasa, tentunya semua itu tidak akan menjadi persoalan bahkan akan dijadikan tantangan untuk lebih menyempurnakan ibadah puasanya. Karena dengan keyakinan dan ketakwaan yang kita miliki, maka kita tidak akan pernah goyah dengan semua tantangan dan rintangan yang dihadapi.

Memang kemampuan manusia dalam melaksanakan kewajiban ibadah ada berbagai tingkatan, sesuai dengan kemampuan masing-masing individu. Imam Al Ghazali membagi tingkatan puasa seseorang menjadi tiga tingkatan.

Pertama, puasanya orang awam (orang kebanyakan). Yakni puasa seseorang yang intinya hanya menahan makan, minum dan menjaga kemaluan dari godaan sahwatnya saja. Menurut Al Ghazali ini adalah tingkatan puasa yang paling rendah.

Kedua, puasanya orang khusus. Yakni seseorang yang puasa, tidak hanya menahan diri dari makan, minum dan godaan syahwat. Namun juga menahan diri dari pendengaran, pandangan, ucapan, gerakan tangan dan kaki dari segala macam bentuk dosa. Dan puasa ini adalah puasanya orang-orang saleh.

Ketiga, adalah puasa khususnya orang yang khusus. Yakni seseorang yang puasa hati dari kepentingan jangka pendek dan pikiran-pikiran duniawi serta menahan segala hal yang dapat memalingkan dirinya pada selain Allah SWT. Selain itu juga melakukan puasa hati dari pikiran duniawi, serta mencegah memikirkan apa-apa selain Allah SWT. Menurutnya tingkatan, puasa ini adalah tingkatan puasanya para nabi, shiddiqiin, dan muqarrabin.

Pandangan Al-Ghazali tentang tingkatan puasa seseorang tentunya menjadi bahan telaah buat kita semua. Sebab, setiap orang memiliki tingkatan puasanya masing-masing. Tentunya dengan segala keterbatasan yang dimiliki oleh seseorang. Dan kita semua tidak bisa memaksakan tingkatan puasa orang lain seperti puasa yang kita lakukan. Terpenting untuk kita sadari bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu sebetulnya kita berada pada tingkatan yang mana. Wallahu a’lam. Semoga saja puasa kita akan mendapatkan nilai yang terbaik disisi Allah SWT.

Apa pun tingkatan puasa yang bisa saya lakukan, yang bisa Anda lakukan yang terpenting adalah bagaimana puasa kita mampu menjadikan kita sebagai muslim yang lebih baik. Yaitu dengan meningkatnya rasa keimanan dan ketakwaan. Sehingga puasa yang dilakukan betul-betul membawa pada peringkat muslim yang lebih baik dalam pandangan Allah SWT. Dan yang perlu dipahami bahwa segala kebaikan dan peningkatan keimanan kita tidak lepas dari hidayah dan pertolongan Allah SWT. Oleh karenanya maka satu-satunya jalan hanya berupaya menjadi lebih baik, memohon petunjuk dan pertolongan dari Allah SWT. Kalau Allah sudah akan membuat kita sesat, maka tidak ada satu pun yang dapat memberi petunjuk (selain Allah), dan apabila Allah sudah memberikan Petunjuk, maka tidak akan ada satu pun yang dapat membuat kita sesat (selain Allah).

*) Penulis adalah Pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Bondowoso dan Kepala TK Annawawi.

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Perketat dengan 5 Pos Penyekatan

Masih Megah Meski Tak Berfungsi

Hanya Dijual Lewat Daring

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

× Info Langganan Koran