alexametrics
30.3 C
Jember
Sunday, 9 May 2021
Desktop_AP_Top Banner

Waduh, Salat Berjamaah Tanpa Prokes

Mobile_AP_Top Banner
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gerakan salat para jamaah perempuan di salah satu masjid, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, tersebut tampak kompak dalam mengikuti runtutan salat Tarawih oleh sang imam. Namun, dari kekhusyukan mereka dalam beribadah, ada sesuatu yang dilupakan. Yakni, menggunakan masker serta menjaga jarak. Padahal, hal itu berisiko menjadi salah satu faktor penularan Covid-19.

Nyatanya, hal serupa juga didapati di tempat-tempat ibadah lain. Para jamaah sudah mulai enggan menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu sejalan dengan yang disampaikan dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. Saban berkunjung ke masjid untuk beribadah, dia kerap melihat banyak jamaah yang tak menggunakan masker. Baik salat Jumat maupun salat Tarawih.

Mobile_AP_Rectangle 2

Jika dibiarkan, dia menegaskan bahwa hal tersebut berbahaya dan mampu memunculkan klaster tempat ibadah. “Prinsipnya, ibadah dan roda ekonomi harus tetap berjalan, tapi mereka juga harus melakukan rutinitas yang sebenarnya mudah,” lanjut dokter spesialis paru tersebut. Di antaranya, rajin memakai masker dan menghindari kerumunan.

Sayangnya, tak sedikit yang mulai mengabaikan hal itu. Lebih lanjut, dr Angga menyatakan bahwa masyarakat Jember seharusnya juga selektif dalam memilih tempat ibadah. “Apakah sudah menerapkan protokol kesehatan” ulasnya. Di antaranya, alat cuci tangan dan saf jaga jarak saat salat. Selain itu, apakah petugasnya aktif dalam mengingatkan para jamaah menggunakan masker. Tentunya, hal itu menjadi prioritas saat ini.

Seperti kita ketahui, berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, kasus Covid-19 mengalami penambahan setiap hari. Selama sepekan, ada penambahan sebanyak 40 kasus. Kini sejumlah 56 pasien tercatat masih menjalani perawatan, baik di rumah sakit maupun isolasi secara mandiri.

Lalu, bagaimana peran pemerintah dalam mengondisikan penerapan prokes itu? Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Kabupaten Jember Habib Salim memaparkan bahwa untuk prokes, secara umum ada tim pengawas. “Juga termasuk dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, maka kegiatan-kegiatan masyarakat juga pengawasan dari posko kecamatan dan desa atau kelurahan,” ungkapnya.

Menurut dia, seluruh kegiatan masyarakat di wilayahnya yang berpotensi berisiko penularan Covid-19 dengan indikasi penggunaan masker, jaga jarak, pembiasaan cuci tangan, potensi kerumunan, dan mobilitas fisik sudah menjadi tanggung jawab posko PPKM. Sayangnya, sepertinya penerapan posko PPKM belum maksimal. Sebab, masih banyak tempat-tempat ibadah yang jamaahnya enggan menerapkan protokol kesehatan.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

- Advertisement -
Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gerakan salat para jamaah perempuan di salah satu masjid, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, tersebut tampak kompak dalam mengikuti runtutan salat Tarawih oleh sang imam. Namun, dari kekhusyukan mereka dalam beribadah, ada sesuatu yang dilupakan. Yakni, menggunakan masker serta menjaga jarak. Padahal, hal itu berisiko menjadi salah satu faktor penularan Covid-19.

Nyatanya, hal serupa juga didapati di tempat-tempat ibadah lain. Para jamaah sudah mulai enggan menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu sejalan dengan yang disampaikan dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. Saban berkunjung ke masjid untuk beribadah, dia kerap melihat banyak jamaah yang tak menggunakan masker. Baik salat Jumat maupun salat Tarawih.

Mobile_AP_Half Page

Jika dibiarkan, dia menegaskan bahwa hal tersebut berbahaya dan mampu memunculkan klaster tempat ibadah. “Prinsipnya, ibadah dan roda ekonomi harus tetap berjalan, tapi mereka juga harus melakukan rutinitas yang sebenarnya mudah,” lanjut dokter spesialis paru tersebut. Di antaranya, rajin memakai masker dan menghindari kerumunan.

Sayangnya, tak sedikit yang mulai mengabaikan hal itu. Lebih lanjut, dr Angga menyatakan bahwa masyarakat Jember seharusnya juga selektif dalam memilih tempat ibadah. “Apakah sudah menerapkan protokol kesehatan” ulasnya. Di antaranya, alat cuci tangan dan saf jaga jarak saat salat. Selain itu, apakah petugasnya aktif dalam mengingatkan para jamaah menggunakan masker. Tentunya, hal itu menjadi prioritas saat ini.

Seperti kita ketahui, berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, kasus Covid-19 mengalami penambahan setiap hari. Selama sepekan, ada penambahan sebanyak 40 kasus. Kini sejumlah 56 pasien tercatat masih menjalani perawatan, baik di rumah sakit maupun isolasi secara mandiri.

Lalu, bagaimana peran pemerintah dalam mengondisikan penerapan prokes itu? Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Kabupaten Jember Habib Salim memaparkan bahwa untuk prokes, secara umum ada tim pengawas. “Juga termasuk dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, maka kegiatan-kegiatan masyarakat juga pengawasan dari posko kecamatan dan desa atau kelurahan,” ungkapnya.

Menurut dia, seluruh kegiatan masyarakat di wilayahnya yang berpotensi berisiko penularan Covid-19 dengan indikasi penggunaan masker, jaga jarak, pembiasaan cuci tangan, potensi kerumunan, dan mobilitas fisik sudah menjadi tanggung jawab posko PPKM. Sayangnya, sepertinya penerapan posko PPKM belum maksimal. Sebab, masih banyak tempat-tempat ibadah yang jamaahnya enggan menerapkan protokol kesehatan.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Desktop_AP_Leaderboard 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Gerakan salat para jamaah perempuan di salah satu masjid, Desa Paleran, Kecamatan Umbulsari, tersebut tampak kompak dalam mengikuti runtutan salat Tarawih oleh sang imam. Namun, dari kekhusyukan mereka dalam beribadah, ada sesuatu yang dilupakan. Yakni, menggunakan masker serta menjaga jarak. Padahal, hal itu berisiko menjadi salah satu faktor penularan Covid-19.

Nyatanya, hal serupa juga didapati di tempat-tempat ibadah lain. Para jamaah sudah mulai enggan menerapkan protokol kesehatan.

Hal itu sejalan dengan yang disampaikan dr Angga Mardro Raharjo, dokter spesialis yang menangani pasien Covid-19 di RSD dr Soebandi. Saban berkunjung ke masjid untuk beribadah, dia kerap melihat banyak jamaah yang tak menggunakan masker. Baik salat Jumat maupun salat Tarawih.

Jika dibiarkan, dia menegaskan bahwa hal tersebut berbahaya dan mampu memunculkan klaster tempat ibadah. “Prinsipnya, ibadah dan roda ekonomi harus tetap berjalan, tapi mereka juga harus melakukan rutinitas yang sebenarnya mudah,” lanjut dokter spesialis paru tersebut. Di antaranya, rajin memakai masker dan menghindari kerumunan.

Sayangnya, tak sedikit yang mulai mengabaikan hal itu. Lebih lanjut, dr Angga menyatakan bahwa masyarakat Jember seharusnya juga selektif dalam memilih tempat ibadah. “Apakah sudah menerapkan protokol kesehatan” ulasnya. Di antaranya, alat cuci tangan dan saf jaga jarak saat salat. Selain itu, apakah petugasnya aktif dalam mengingatkan para jamaah menggunakan masker. Tentunya, hal itu menjadi prioritas saat ini.

Seperti kita ketahui, berdasarkan data yang dikeluarkan Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Jember, kasus Covid-19 mengalami penambahan setiap hari. Selama sepekan, ada penambahan sebanyak 40 kasus. Kini sejumlah 56 pasien tercatat masih menjalani perawatan, baik di rumah sakit maupun isolasi secara mandiri.

Lalu, bagaimana peran pemerintah dalam mengondisikan penerapan prokes itu? Plt Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kadiskominfo) Kabupaten Jember Habib Salim memaparkan bahwa untuk prokes, secara umum ada tim pengawas. “Juga termasuk dalam pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) skala mikro, maka kegiatan-kegiatan masyarakat juga pengawasan dari posko kecamatan dan desa atau kelurahan,” ungkapnya.

Menurut dia, seluruh kegiatan masyarakat di wilayahnya yang berpotensi berisiko penularan Covid-19 dengan indikasi penggunaan masker, jaga jarak, pembiasaan cuci tangan, potensi kerumunan, dan mobilitas fisik sudah menjadi tanggung jawab posko PPKM. Sayangnya, sepertinya penerapan posko PPKM belum maksimal. Sebab, masih banyak tempat-tempat ibadah yang jamaahnya enggan menerapkan protokol kesehatan.

 

 

Jurnalis : Isnein Purnomo
Fotografer : Dwi Siswanto
Redaktur : Lintang Anis Bena Kinanti

Mobile_AP_Rectangle 2
Desktop_AP_Skyscraper
Desktop_AP_Leaderboard 2
Desktop_AP_Rectangle 1

BERITA TERKINI

Perketat dengan 5 Pos Penyekatan

Masih Megah Meski Tak Berfungsi

Hanya Dijual Lewat Daring

Kemangi, Kunci Wangi Alami

Desktop_AP_Half Page

Wajib Dibaca

Desktop_AP_Rectangle 2
×

Info!

Mau Langganan Koran, Info Iklan Cetak dan Iklan Online

× Info Langganan Koran