Semarak Lailatul Qadar

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Bagi seseorang yang beriman, harapan akan hadirnya lailatul qadar tentunya menjadi daya tarik tersendiri. Bagaimana tidak, kebaikan lailatul qadar keutamaannya melebihi dari seribu bulan dan disertai dengan anugerah indah yang datang dari Allah SWT. Hal ini membuat semua kaum muslimin menantikannya dengan penuh hikmat dan ke khusyukan serta berlomba-lomba menebar kebaikan.

Dari berbagai sumber yang digali oleh para ulama, baik dari Alquran, Hadits, Ijma, ataupun Qias, tidak ada penentuan pastinya hadirnya lailatul qadar. Hanya saja rambu-rambunya adalah hadits yang disampaikan oleh rasul bahwa datangnya Lailatul Qadar adalah diantara sepuluh terakhir dari malam-malam ganjil pada bulan Ramadan. Memahami ini tentunya yang dimaksud adalah tanggal 21 sampai dengan 29 Ramadan.

Selain itu rasul hanya menyampaikan tanda-tanda kehadirannya sebagaimana disabdahkan: Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kelembutan, cerah, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar lemah dan nampak kemerah-merahan. (HR. Ath Thayalisi)

Memang ada beberapa ulama yang berusaha untuk mencari rumusannya. Namun itu hanya diambil dari pengalaman-pengalaman yang dianggap selalu terjadi pada dirinya sehingga ulama berusaha secara gamblang menyampaikan. Semisal pendapat yang disampaikan oleh imam Al-Ghazali, Jika awal Ramadan jatuh pada hari Ahad atau Rabu maka lailatul qadar jatuh pada malam 29, jika jatuh pada hari senin maka lailatul qadar jatuh pada malam 21, jika awalnya jatuh pada hari Jumat atau selasa maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 27, jika awalnya jatuh pada hari kamis maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 25, jika awalnya jatuh pada hari sabtu maka lailatul qadar jatuh pada malam ke 23.

Rumusan ini sepertinya hanya sebuah analisa dari pengalaman-pengalaman yang diamati oleh para peneliti atau ulama muslim yang sudah sering melakukan pengamatan akan hadirnya Lailatul Qadar. Sehingga jika memang mau diikuti sah-sah saja sebagai ikhtiar dengan bersandar pada ulama yang memang dalam ketakwaan dan keimanannya cukup di akui oleh sebagian besar umat muslim. Apalagi para ulama ini adalah orang yang dikenal sebagai hujjatul islam pada masanya.

Di Indonesia, ada berbagai cara umat Islam dalam menunggu dan menyikapi hadirnya lailatul qadar. Bahkan selain berdzikir jika kita sedikit mau berselancar ke dunia maya, maka akan banyak ditemukan tradisi-tradisi masyarakat yang menarik dalam menyambut datangnya lailatul qadar. Tradisi itu tentunya yang di dalamnya diisi dengan kabaikan-kebaikan, dengan tetap melaksanakan dzikir dan juga memperbanyak amalan lainnya yang baik-baik, seperti halnya melakukan shadaqah.

Mereka tidak pernah menentukan waktu, akan tetapai lebih memilih malam-malam ganjil di antara sepuluh akhir malam bulan Ramadan sebagaimana yang telah disabdahkan oleh Rasulullah.

Menariknya tradisi-tradisi ini dilakukan dengan cara tidak tidur semalaman dengan kegiatan-kegiatan unik, semisal berpatrol ria, bahkan ada yang melakukan arak-arakan sambil melakukan bacaan-bacaan shalawat ataupun lainnya sambil diiringi dengan musik yang ditabuh.

Bahkan di desaku biasanya disambut dengan rangkaian selamatan dengan menu berbeda. Semisal “maleman” acara ini dilakukan beberapa hari sejak malam ke 21 dengan sajian nasi bungkus yang diberikan kepada para jamaah taraweh sebagai upaya menebar kebaikan melalui sedekah makanan. Ada juga “Bibiyen” yang acara ini dilaksanakan pada malam ke 27 yang menu nasi yang sedikit dibuat bentuk kerucut di atas piring. Puncaknya nya pada malam ke 29 masyarakat menyajikan kue serabi yang juga dibagikan kepada jamaah taraweh setelah melaksanakan taraweh.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah semua merasa senang dan menyukai masakan masing-masing yang diantarkan baik di musalla ataupun di masjid-masjid. Memang tidak semua menu masakan terdiri dari masakan yang tergolong istimewa. Tapi berkumpulnya dengan berbagai strata sosial baik yang kaya dengan miskin, pejabat dan masyarakat biasa membuat mereka semakin menjalin rasa persaudaraan melalui tali silaturrahim sambil menikmati berbagai hidangan yang sengaja ditukar antara satu dengan lainnya.

Dengan bertukar bungkusan ini, bisa saja si miskin mendapat milik si kaya, demikian juga si kaya mendapat bagian dari si miskin. Menariknya semua dapat menikmati dengan nikmatnya karena mendapatkan makanan yang tak biasa. Semisal si kaya yang bosen dengan daging dan masakan mewah lainnya, dia merasakan kembali nikmatnya lauk ikan teri yang hanya dibumbuhi sambel terasi. Apalagi si miskin yang jarang-jarang makan lauk daging dan lainnya, kini dengan bertukar makanan juga merasakan makanan yang tergolong istimewa, bahkan tak jarang mereka membawa pulang sebagian untuk berbagi dengan keluarga di rumah.

Euforia yang beragam dalam menyambut hadirnya malam lailatul qadar ini tentunya menjadi ciri khas tersendiri yang dimiliki oleh bangsa kita dalam beragama. Dan yang paling penting, dengan tradisi-tradisi yang dilakukan yang merupakan warisan para pendahulu telah mampu menjadikan bangsa ini hidup rukun, damai dalam kebersamaan.

*) Penulis adalah Alumni STAI At Taqwa Bondowoso yang saat ini menjadi Kepala TK Annawawi, Tlogosari, Bondowoso.